Ruang itu sunyi. Begitu sunyinya hingga detak jantung sendiri terdengar seperti genderang perang di telinga Fahmi. Aira berdiri di hadapannya, sosoknya yang transparan berpendar dalam cahaya remang yang berasal dari dinding-dinding logam yang hidup. Aroma listrik terbakar samar di udara, dan lantai di bawah mereka seolah denyut nadi—bergetar pelan, seperti makhluk yang tengah tidur dan sebentar lagi akan bangkit.
“Aku hanya punya sedikit waktu,” ucap Aira dengan suara gemetar. “Ruang ini tak stabil. Setiap detik yang kita habiskan di sini, batas antara dunia nyata dan ruang proyeksi semakin kabur.”
Fahmi menelan ludah. “Lalu apa yang harus kita lakukan?”
Aira memalingkan pandangan ke sekeliling. “Ada pintu keempat. Pintu yang tidak diperlihatkan sebelumnya. Karena hanya bisa muncul bila