Langit Jakarta petang itu seperti kaca yang retak. Cahaya matahari memantul dari sela awan kelabu, menciptakan semburat keemasan yang terdistorsi seperti bias dalam air. Udara mengandung sesuatu yang tak kasatmata—tekanan, atau mungkin firasat. Fahmi berdiri di seberang gerbang tua Rumah Sakit Mulya Sejahtera yang sudah dua bulan ditutup oleh pihak berwenang. Namun, tidak ada garis polisi, tidak ada pengawasan, bahkan tidak ada suara serangga dari semak-semak liar yang telah menjalar ke pagar.
Ia memandangi struktur besar yang terbengkalai itu dengan d**a yang sesak. Mimpi-mimpi yang datang tiap malam semakin nyata, semakin mendesak. Suara Aira yang memanggilnya, tempat-tempat yang ia datangi dalam tidur namun terasa lebih nyata dari dunia bangun. Di saku jaketnya, selembar surat lusuh te