Pagi yang bening menyambut Rumah Sakit Mulya Sejahtera dengan sinar matahari keemasan yang menembus celah tirai ruang rawat inap. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang tak bisa dihitung, RSMS terlihat biasa. Bukan lagi rumah sakit angker yang menyimpan proyeksi jiwa dan percobaan gelap. Tidak ada suara jeritan dari balik lorong, tidak ada kabut merah yang menggantung di langit-langit.
Aira membuka mata perlahan. Napasnya teratur, dadanya naik-turun lembut. Di samping tempat tidurnya, Fahmi duduk tertidur dengan kepala menyandar ke tepi ranjang. Rambutnya sedikit berantakan, namun wajahnya tenang. Ia tampak jauh lebih muda saat tidur—bebas dari rasa bersalah, dari trauma.
Ketika Aira mencoba menggerakkan tubuhnya, otot-ototnya terasa kaku. Tapi ia tahu, rasa berat ini bukan dari proyeksi