Layar di ruang transmisi bergetar halus. Kalimat itu masih terpampang jelas di hadapan mereka berdua:
Pilih: Bangkit sebagai Satu. Atau Terpecah Selamanya.
Aira menatap pilihan itu, rasanya seperti sedang menatap dirinya sendiri dari luar tubuhnya. Suasana di sekeliling berubah sunyi sekali. Tak ada lagi suara mesin, tak ada napas dari ventilasi tua di atas kepala. Bahkan suara detak jantungnya sendiri pun seolah menunggu.
Fahmi menggenggam tangan Aira dari sisi kanan kursi logam tempat ia duduk. Kabel-kabel dari langit-langit perlahan turun seperti akar pohon tua yang mencari mangsa. Mereka menyentuh kulit Aira pelan-pelan, seolah meminta izin untuk masuk. Dinginnya menembus tulang, membuatnya bergidik, tapi Aira tidak bergerak. Ia sudah siap.
“Aku gak akan kemana-mana,” kata Fahmi li