Pagi itu pukul 08.30 , suasana kampus Fakultas Keperawatan Universitas Bina Sehat tampak seperti biasa. Mahasiswa berlalu-lalang di koridor, beberapa ada yang masih berseragam praktik lengkap, sebagian lain hanya mengenakan jaket almamater yang sudah mulai lusuh. diperlihatkan Aira sedang duduk di taman kecil dekat gedung dekanat, ditemani secangkir kopi sachet hangat yang dia pesan dari kantin.
Ia baru saja selesai mengumpulkan laporan kasus terakhirnya dan kini menanti pengumuman tempat magang nya. Sambil memandangi burung-burung gereja yang beterbangan rendah, ia mencoba menenangkan pikirannya yang sejak semalam dilanda cemas.
Tak lama kemudian, teman seangkatannya, Mira, datang sambil membawa map merah muda.
"Aira! Surat penempatan udah dibagiin! Dosen pembimbing manggil kamu ke ruangannya."
Aira tersentak. Ia segera berdiri dan melangkah cepat ke ruang dosen di lantai dua , Jantungnya berdebar tak karuan. Dalam benaknya, ia berharap bisa ditempatkan di Rumah Sakit Harapan Sentosa atau RSUD kota, yang sudah punya reputasi bagus dan lengkap fasilitasnya.
Di ruang dosen, Bu Neti menyambutnya dengan senyum tipis.
"Aira, selamat. Kamu termasuk yang pertama ditempatkan," ucapnya sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat.
Aira membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Matanya langsung tertumbuk pada tulisan di bagian atas kertas: **Rumah Sakit Mulya Sejahtera**.
Ia mengerutkan dahi. Nama rumah sakit itu terdengar asing. Tidak pernah disebut dalam daftar rumah sakit rujukan kampus sebelumnya.
"Rumah sakit ini agak di pinggir kota, di daerah yang dulu ramai tapi sekarang sudah sepi. Tapi mereka butuh perawat magang, dan kamu direkomendasikan langsung oleh dekan," ujar Bu Neti menjelaskan.
Aira hanya mengangguk pelan, masih bingung. Ia menerima surat itu, lalu mengucapkan terima kasih, dan keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk.
---
Malamnya, Aira duduk di ruang tengah rumah kontrakan, menatap surat penempatan itu sambil menyeruput teh buatan ibunya. Sang ibu, Bu Rika, sudah menyiapkan bekal makanan ringan untuk keperluan perjalanan besok.
"Mulya Sejahtera ya? Mama pernah dengar itu waktu dulu Papa masih tugas di Dinas Kesehatan. Katanya itu rumah sakit lama, pernah aktif pas zaman sebelum reformasi. Tapi sekarang kok... aneh juga masih dipakai ya?"
"Kok bisa ya, Ma, tempat kayak gitu dipilih jadi tempat magang? Kampus biasanya pilih yang bagus dan bersih."
"Ya mungkin mereka kerja sama baru. Tapi kamu hati-hati ya. Kadang tempat tua begitu bukan cuma banyak debunya, tapi juga banyak kenangannya," kata ibunya setengah berbisik.
Aira tersenyum kecut. Ia tahu ibunya sedang bicara soal hal-hal gaib, sesuatu yang memang sering dipercaya di keluarganya.
Malam itu Aira tidak langsung tidur. Ia sibuk menyiapkan semua kebutuhan magangnya. Seragam putih sudah disetrika dan digantung rapi. Sepatu hitam disikat bersih, kaus kaki dilipat di atasnya. Ia mengecek kembali tas ranselnya: alat tensi, stetoskop, pulpen, buku catatan kecil, dan snack untuk perjalanan. Semua dimasukkan dengan tertata rapih
Di meja belajar, Aira membuka laptop untuk mencari informasi tentang Rumah Sakit Mulya Sejahtera. Tapi hasil pencariannya nihil. Tidak ada situs resmi. Tidak ada ulasan. Bahkan alamat di peta digital nya pun hanya berupa titik tanpa foto bangunan.
Ia menggigit bibir. "Kok bisa rumah sakit segede itu nggak ada jejaknya sama sekali di internet?"
Saat membuka laman forum kesehatan, ia menemukan satu utas lama, ditulis hampir tujuh tahun lalu. Seorang pengguna anonim bertanya, "Apakah RS Mulya Sejahtera masih beroperasi? Dulu katanya pernah ditutup gara-gara kasus pasien hilang."
Tidak ada balasan.
Jantung Aira berdegup kencang. Ia mematikan laptopnya dan segera ke kamar mandi untuk mencuci muka. Lalu sebelum tidur, ia membuka laci meja kecilnya dan mengambil buku doa saku yang sering diberikan dosen kampusnya. Ia membacanya pelan, berharap bisa tidur nyenyak.
Namun malam itu, mimpinya aneh. Aira mendapati dirinya berjalan sendirian dalam lorong rumah sakit yang sempit dan tak berujung. Lampu-lampu di atas kepalanya berkelip-kelip, dan dari balik tirai rumah sakit, terdengar suara seseorang memanggil namanya. Tapi saat ia mencoba membuka tirai itu, hanya ada bayangan dirinya sendiri yang membeku di tempat tidur pasien.
Ia terbangun dengan tubuh berkeringat dingin.
---
Keesokan paginya, alarm ponsel berbunyi pukul lima. Aira bangkit dengan kepala berat. Ia sempat duduk beberapa menit di tepi ranjang, mencoba mengingat kembali detail mimpinya. Tapi hanya ada rasa aneh yang tertinggal—campuran ketakutan dan penasaran.
Setelah sarapan dan salat subuh, ia mengenakan seragam putih-putihnya. Rambut panjangnya diikat rapi, dan ia sempat menatap cermin cukup lama sebelum pamit kepada ibunya.
Pukul 07.00 Aira bergegas keluar dari rumah kontrakan,
diperlihatkan udara pagi itu sangat dingin. Kabut tipis menyelimuti jalanan. Ia berjalan kaki menyusuri gang kecil menuju halte.
Di halte itu, bus mini trayek 57 datang. Bus tua dengan suara mesin berat itu berhenti perlahan. Sopirnya seorang pria tua berjaket cokelat lusuh dan topi hitam.
"Ke Mulya Sejahtera? Naik, Neng," sapanya.
Aira naik dan duduk di bangku dekat jendela.
Setelah beberapa menit perjalanan, sopir itu melirik ke spion dan membuka percakapan.
"Baru pertama ke sana?"
"Iya, Pak. Saya ditempatkan magang di rumah sakit itu."
Pak sopir mengangguk pelan, lalu menatap ke depan. "Dulu rumah sakit itu rame. Tapi sejak belasan tahun lalu, jadi sepi. Ada yang bilang karena banyak kejadian aneh."
"Kejadian aneh?" tanya Aira, penasaran.
"Pasien hilang, Dokter keluar masuk rumah sakit jiwa. Ada yang bilang tempat itu berdiri di atas bekas lahan pekuburan tua. Tapi ya, itu cerita orang. Saya mah cuma antar penumpang."
Aira menelan ludah, Percakapan itu membuatnya makin gelisah.
Beberapa menit kemudian, bus melewati jalan kecil yang kanan-kirinya dipenuhi pohon besar, Jalanan terasa dingin dan tertutup bayangan pepohonan.
"Kalau lewat tikungan sana, jangan lihat ke kiri, ya," ucap sopir tiba-tiba.
"Kenapa, Pak?"
"Kadang ada yang lihat sosok wanita berdiri di pinggir jalan. Setelah itu mereka suka kesurupan atau nggak sadar sampai tujuan."
Aira segera memalingkan pandangan ke kanan.
Akhirnya, bus berhenti di depan pagar besi besar yang catnya sudah terkelupas. Di atas pagar itu, tergantung papan tua bertuliskan:
**RUMAH SAKIT MULYA SEJAHTERA**
Huruf-hurufnya pudar, beberapa bahkan hilang.
Aira turun perlahan dari bus,disusul Suara mesin bus yang perlahan menjauh meninggalkannya sendirian di depan gerbang itu. Ia menatap bangunan rumah sakit yang besar namun tampak tua, catnya kusam, dan jendelanya tertutup tirai tebal.
Ia menarik napas panjang, menatap surat penempatan yang digenggamnya, lalu melangkah masuk melewati pagar yang mengeluarkan bunyi derit panjang.
Babak baru dalam hidupnya telah dimulai.