Pagi menjelang dengan langit pucat kehijauan saat Aira dan Fahmi berdiri di depan bangunan tua bekas bagian dokumentasi medis Rumah Sakit Mulya Sejahtera (RSMS). Angin pagi membawa aroma besi tua dan jamur basah, menyusup masuk ke pakaian mereka, menebar ketidaknyamanan yang samar tapi nyata. Dinding bangunan itu ditumbuhi sulur-sulur liar dan lumut tebal, seolah alam berusaha menelan kembali bangunan yang pernah menjadi bagian dari mimpi buruk. Retakan-retakan besar terlihat di setiap sisi, dan jendela-jendelanya telah pecah, hanya menyisakan rangka yang seperti mata kosong menatap dunia.
Langkah mereka terdengar pelan di atas lantai berlumut. Di sekitar, keheningan terasa tak wajar—seperti udara sendiri menahan napas. Seekor burung kecil melintas cepat di atas kepala mereka, lalu lenyap