Cahaya matahari menyusup lemah di sela reruntuhan Rumah Sakit Mulya Sejahtera, menciptakan siluet abu-abu yang seperti menari di permukaan puing-puing dan dinding yang hangus. Aira dan Fahmi berdiri terdiam di dekat tangga menuju lorong bawah tanah yang baru saja mereka tinggalkan. Napas mereka masih terengah, bukan karena lelah fisik, melainkan oleh beratnya kenyataan yang belum bisa mereka cerna. Di sekitar mereka, suara pepohonan bergesekan perlahan, dan udara lembap berbau tanah membungkus tubuh mereka dengan dingin tak kasat mata.
Di balik kelopak mata Aira, ruangan penuh cermin itu masih tergambar jelas. Suara retakan kaca, bisikan Fahmi, dan bayangan wajah-wajah samar tetap tinggal di pikirannya seperti gema yang tak kunjung padam. Ia tahu, itu bukan akhir. Ia tahu, sesuatu yang ja