Suara detak mesin monitor denyut jantung terdengar pelan, konstan, seperti detakan waktu yang perlahan membimbing Aira kembali ke dunia yang nyata. Ia masih menggenggam tangan adiknya, Rafi, yang kini tertidur di sisi ranjangnya dengan kepala tertunduk. Cahaya lampu fluorescent menyinari ruangan putih itu dengan lemah, melemparkan bayangan halus di dinding. Aroma antiseptik yang tajam menguar dari lantai dan dinding, menempel pada udara seperti bau kenangan yang tidak bisa dihapus.
Tubuh Aira terasa ringan sekaligus berat. Lehernya nyeri saat mencoba bergerak. Kelopak matanya berat, seolah telah lama menutup dan sulit terbuka penuh. Tapi pikirannya aktif, menyusun kembali potongan-potongan dunia yang ia alami selama koma. Lima tahun. Kata itu terus terulang di dalam kepalanya, membentur d