Matahari perlahan merangkak turun di balik cakrawala saat Aira dan Fahmi melangkah menjauh dari bangunan terakhir itu. Hutan yang tadi tampak begitu gelap dan penuh misteri kini memancarkan warna keemasan. Cahaya senja menyentuh dedaunan, menari di sela batang pohon, dan mengiringi langkah mereka yang tenang.
Namun di balik ketenangan itu, Aira merasa ada kekosongan yang belum terisi. Ia tahu bahwa mereka telah menghancurkan pantulan terakhir, menutup celah realita yang selama ini membuat hidupnya seperti mimpi buruk. Tapi perasaan aneh mengendap di dadanya—seolah dunia ini belum benar-benar nyata. Setiap langkah terasa seperti menapaki mimpi yang terlalu sempurna.
"Apa menurutmu... kita masih di dalam sistem?" tanya Aira, memecah kesunyian yang menggantung di antara desir angin senja.