Langit di atas padang kosong tempat Aira dan Fahmi berdiri tampak membentang luas dan bersih. Tidak ada satu pun awan yang bergelayut, hanya biru jernih yang membungkus dunia baru itu dengan tenang. Angin bertiup pelan, membawa aroma rerumputan liar dan bau tanah basah. Di sekitar mereka, tak ada satu bangunan pun. Rumah Sakit Mulya Sejahtera telah lenyap, seolah tak pernah berdiri di tempat itu. Hanya hamparan luas, nyaris seperti lanskap yang baru saja tercipta. Namun di antara keheningan itu, jantung Aira masih berdetak kencang, seakan tubuhnya belum sepenuhnya percaya bahwa mereka benar-benar selamat.
Aira masih terdiam, memandangi tangannya yang gemetar. Ia mencoba menyentuh tanah, memastikan bahwa ini bukan lagi ruang simulasi, bukan dimensi kabur antara realita dan rekaman ilusi. S