Langkah Aira dan Fahmi terdengar pelan saat keduanya berjalan melintasi jalan setapak menuju pintu utama Rumah Sakit Mulya Sejahtera. Bangunan itu berdiri megah dan terlihat kokoh, seolah-olah tidak pernah runtuh. Namun, suasananya begitu sunyi. Tidak ada suara alat medis, tidak ada roda brankar yang bergesek di lantai, bahkan tidak ada suara napas manusia. Hanya desir angin yang mengiringi langkah mereka, membawa aroma lembap dan samar darah besi yang tertinggal di udara. Di kejauhan, langit tampak abu-abu keperakan, menyelimuti rumah sakit seperti selubung kabut yang enggan sirna.
Jam di dinding menunjukkan pukul 07:14 pagi, waktu yang sama saat Aira selalu memulai shift pagi ketika masih magang. Tapi hari ini berbeda. Bayangan mereka tampak lebih panjang dari biasanya, meskipun sinar m