Kabut pagi yang menyelimuti reruntuhan Rumah Sakit Mulya Sejahtera mulai menipis, namun hawa dingin yang menggigit seolah menetap. Aira berdiri mematung di atas puing-puing bangunan yang pernah menjadi pusat dari segala mimpi buruknya. Angin bertiup pelan, membawa bau tanah basah dan debu tua, memutar kenangan seperti kaset rusak dalam pikirannya. Suasana di sekeliling mereka nyaris beku, hanya suara gesekan dedaunan dan sesekali gemeretak puing yang runtuh sendirian, menciptakan kesan bahwa tempat itu masih bernafas—atau menyimpan sesuatu.
“Tempat ini… seolah tak pernah ada,” gumam Fahmi di sampingnya, matanya menyapu hamparan puing dan reruntuhan besi karatan.
Aira tak menjawab. Ia menunduk dan memungut sebuah pecahan kaca kecil dari bekas jendela ruang ICU. Permukaannya retak, namun c