Pagi itu terasa begitu tenang. Rumah Sakit Mulya Sejahtera tampak seperti bangunan biasa—sunyi, bersih, dan teratur. Matahari menggantung rendah di langit, menyinari taman depan rumah sakit yang sempat Aira kira tak pernah ada. Udara pagi membawa aroma embun dan rumput basah, memberikan kontras mencolok dari malam-malam kelam yang baru saja mereka lalui. Suara burung terdengar jelas, seakan menegaskan bahwa dunia ini nyata, bukan ilusi lain.
Namun, ketenangan itu justru membuat Aira merasa semakin gelisah. Entah apa yang sebenarnya ia rasakan—damai yang semu, atau justru firasat bahwa semuanya belum selesai. Ada kekosongan yang tak bisa dijelaskan, seperti dunia ini terlalu rapi untuk dianggap nyata.
Ia duduk di bangku taman sambil membawa secangkir teh hangat di tangannya, mengenakan se