Suara alarm semakin keras, memantul di setiap sudut ruangan seperti panggilan dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada mereka. Aira menutup telinga, namun getaran suara itu tidak berasal dari luar—melainkan dari dalam kepalanya.
Fahmi menggeliat perlahan di kursinya. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka, memandang sekeliling dengan bingung dan panik. “Aira... kita di mana lagi sekarang?” suaranya serak, seperti baru bangun dari tidur yang terlalu panjang.
“Di pusat dimensi,” jawab Aira lirih. “Tempat semua versi rumah sakit bertemu. Dan mereka tahu kita ke sini.”
Langkah kaki bergema di balik pintu. Wanita berseragam ilmuwan tadi berdiri tegak, tangan menyentuh sebuah panel di dinding. Hologram muncul—menampilkan peta jaringan realitas dengan titik-titik cahaya berpendar dan garis-garis penghubung yang terus berubah bentuk.
“Realitas tempat kalian berasal mulai retak karena koneksi yang kalian buka terlalu dalam,” katanya tenang. “Setiap langkah yang kalian ambil membuat batas antar dunia semakin tipis.”
“Tapi itu semua karena eksperimen kalian!” sergah Fahmi, berdiri dengan susah payah. “Kalian memaksa manusia menjadi jembatan antara dimensi yang tidak seharusnya tersentuh!”
Perempuan itu menatapnya tanpa emosi. “Kami tidak memaksa. Kami memilih. Dan Aira... adalah yang paling kompatibel.”
Aira mencengkeram ujung ranjang logam, napasnya tercekat. “Aku tak pernah meminta semua ini... Aku hanya mahasiswa magang.”
“Tapi kamu tidak sadar, kamu bukan ‘hanya’ apa pun. Kamu adalah hasil dari proses panjang yang sudah dimulai bahkan sebelum kamu lahir. Darahmu menyimpan resonansi dari dimensi keempat.”
Tiba-tiba, lampu-lampu berkedip. Ruangan berguncang. Dari lantai, retakan cahaya muncul perlahan, dan suara-suara mulai bergema kembali—bisikan, tangisan, tawa tumpang tindih. Monitor-monitor medis meledak satu per satu, menampilkan simbol spiral berputar.
“Apa yang terjadi?” tanya Fahmi.
“Gerbangnya mulai terbuka,” jawab Aira. “Bukan hanya ke dimensi kita... tapi ke semua versi diriku. Mereka semua sedang mencoba masuk.”
Perempuan ilmuwan itu melangkah mundur. “Kalian telah membawa pusat kesadaran masuk ke tempat ini. Sekarang seluruh jaringan dimensi menyatu lewat kalian. Kalau tidak segera diisolasi, seluruh realitas bisa kolaps.”
“Ada cara menghentikannya?” tanya Aira cepat.
Perempuan itu menatapnya dalam-dalam. “Hanya kamu yang bisa memutus jembatan itu, dari dalam inti. Tapi kamu harus masuk ke dalam ‘Arsip Waktu’—tempat semua versi kamu disimpan. Dan kamu tidak akan bisa kembali sebagai orang yang sama.”
Aira menatap Fahmi. “Kalau ini satu-satunya cara... aku akan lakukan.”
Fahmi menggenggam tangannya. “Aku ikut.”
Perempuan itu mengetikkan kode di panel. Dinding di belakangnya bergeser, memperlihatkan lorong putih yang menjulur panjang ke dalam kegelapan, diterangi cahaya biru redup dari bawah lantai. Suhu udara berubah drastis—dingin, kering, dan penuh tekanan yang sulit dijelaskan. Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu besar dari logam dengan ukiran simbol aneh.
“Begitu kalian masuk, waktu akan berhenti mengikuti hukum yang kalian kenal. Jangan percaya pada apa pun yang kalian lihat... bahkan pada satu sama lain,” pesan terakhir dari perempuan ilmuwan itu sebelum pintu perlahan menutup di belakang mereka.
---
Lorong itu seperti usus dari makhluk purba. Panjang, lengang, dan terasa... sadar. Setiap langkah yang mereka ambil menghasilkan gema yang menyayat. Cahaya biru di bawah lantai tidak konstan—kadang menyala terang, kadang hampir padam. Dinding di kiri kanan berubah-ubah teksturnya: dari logam, menjadi daging, lalu menjadi kaca yang memantulkan wajah-wajah asing.
Terkadang mereka mendengar suara samar dari lorong-lorong kecil yang bercabang: suara Aira memanggil dirinya sendiri, tangisan bayi, atau tawa dewasa yang mengenal mereka. Bau yang menusuk hidung silih berganti—bau darah, bunga mawar, dan kapur barus.
Di tengah perjalanan, Aira melihat satu pintu terbuka. Di dalamnya, terlihat dirinya—masih anak-anak—duduk di ruang bermain dengan boneka di tangan, tapi matanya sepenuhnya hitam.
“Aira?” panggil Fahmi.
Aira hanya bisa memandangi versi kecil dirinya itu. Anak itu berbisik: “Jika kau terus maju... kau akan kehilangan semua yang kamu kenal.”
“Aku tidak punya pilihan,” balas Aira pelan.
Dan mereka melanjutkan.
---
Setelah waktu yang tidak bisa mereka ukur, mereka tiba di pintu utama ‘Arsip Waktu’. Pintu itu terbuat dari tulang dan besi, dan terbuka sendiri begitu Aira menyentuhnya. Di baliknya... ruangan tak berujung.
Jutaan kapsul transparan mengambang di udara, masing-masing berisi versi berbeda Aira: satu sedang melahirkan, satu sedang melarikan diri dengan luka tembak, satu sedang memakai seragam militer, satu lagi hanya duduk dalam kegelapan dengan tubuh membusuk.
“Ini... semua aku,” gumam Aira.
Dan di tengah ruangan, mengambang dalam bola cahaya: **inti kesadaran**. Denyutnya seperti jantung, dan tiap detaknya membuat ruang bergetar.
“Jika kamu menghancurkannya, semua ini akan berhenti,” ujar Fahmi.
“Tapi juga akan menghapus semua kemungkinan aku yang lain,” balas Aira.
Sunyi.
“Aku hanya ingin... jadi nyata. Jadi satu,” lanjutnya. Ia melangkah, tangannya meraih cahaya itu.
Saat ia menyentuhnya, dunia meledak dalam cahaya putih menyilaukan.
---
Dalam ruang putih tanpa ujung, Aira melayang. Tidak ada waktu, tidak ada bentuk. Hanya dirinya—atau jutaan dirinya—yang saling menatap.
Satu suara muncul, bukan dari luar, tapi dari dalam seluruh Aira:
**“Kamu akan memilih. Apakah menjadi satu... atau membiarkan semua tetap hidup dalam fragmen.”**
Ia melihat setiap kemungkinannya: yang baik, yang buruk, yang hancur, yang bahagia. Mereka bukan musuh. Mereka semua adalah dirinya—dalam bentuk paling mentah.
Aira menutup mata, dan menjawab dalam hati: “Beri aku satu kesempatan untuk memilih menjadi utuh.”
Dan saat ia membuka mata, dunia mulai menyatu. Cahaya dari jutaan kapsul meledak dalam satu denyut cahaya.
---
Ia terbangun di ranjang rumah sakit. Yang biasa. Tidak ada kabel. Tidak ada eksperimen.
Matahari pagi menyusup dari balik jendela. Fahmi duduk di sampingnya, wajahnya cemas tapi lega.
“Aira... kamu bangun.”
“Di mana kita?” gumam Aira.
“Di dunia kita,” kata Fahmi. “Yang asli. Setidaknya... aku yakin.”
Aira duduk perlahan, tubuhnya lelah tapi utuh. Semua ingatan masih ada. Tapi kali ini, tidak terasa berat.
Ia bangkit. Melangkah pelan ke jendela, memandangi taman di luar. Anak-anak bermain. Burung terbang. Tidak ada bayangan. Tidak ada suara aneh.
Tapi di sudut cermin ruangan... sosok Aira lain menatap dari balik pantulan. Ia tersenyum, lalu menghilang.
Langit terlihat cerah. Tapi Aira tahu, semua belum selesai. Ia menggenggam tangan Fahmi.
“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanyanya.
Fahmi menatapnya lama. “Apa pun yang terjadi... kita hadapi bersama.”
Mereka berdiri lama dalam keheningan. Dunia tampak normal, namun keduanya tahu: batas dimensi bisa retak kembali kapan saja.
— Bab 19 selesai.—