Kabut tipis belum sepenuhnya sirna dari lapangan belakang rumah sakit saat Aira duduk terpaku di tanah, matanya masih tertuju pada gedung tua yang berdiri sunyi. Bangunan itu kini tampak seperti reruntuhan yang terlupakan—jauh dari bentuk megah yang ia lihat saat pertama kali menginjakkan kaki di Rumah Sakit Mulya Sejahtera. Sebuah pertanda, pikirnya, bahwa realitas yang mereka tinggalkan dan yang mereka pijak kini tidak lagi identik. Hembusan angin lembut menerpa wajahnya, menyibak rambutnya yang kusut. Rumput liar menggesek ujung jarinya, seolah ingin membangunkannya dari mimpi buruk yang belum sepenuhnya usai.
Fahmi bangkit perlahan, menahan nyeri di punggungnya. Ia menatap Aira yang masih terpaku, menanti kepastian dalam diam yang panjang. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya, suara serak karena debu dan dingin pagi.
Aira mengangguk pelan. "Entah kita berhasil keluar... atau kita masih terjebak di dimensi lain yang sangat mirip dunia kita."
Mereka berdua diam. Angin pagi berembus lembut, membawa aroma tanah basah dan rumput liar yang tumbuh lebat di sekeliling lapangan. Burung-burung berkicau sayup di kejauhan, namun suasana tetap terasa kosong. Sesuatu masih tidak sepenuhnya benar. Di kejauhan, kabut tipis menggantung di antara pepohonan seperti tirai yang belum sepenuhnya terbuka. Udara pagi memang terasa nyata, namun dinginnya menyimpan jejak kejanggalan yang sulit dijelaskan.
Suara ranting patah terdengar dari semak belukar. Aira dan Fahmi serentak menoleh, jantung mereka berdegup kencang. Namun hanya seekor kucing hitam yang muncul dari balik rumput tinggi, matanya menatap mereka lekat-lekat sebelum berlari menjauh. Bahkan binatang pun terasa seperti bagian dari teka-teki di dunia ini. Kabut yang menyelubungi gerak-gerik kucing itu menyisakan jejak basah di rerumputan yang bergoyang perlahan.
Aira berdiri dan menatap bangunan rumah sakit itu lagi. Sebagian besar jendelanya hancur. Dindingnya ditumbuhi lumut, dan papan nama rumah sakit sudah nyaris tak terbaca. Tapi satu hal yang membuat hatinya mencelos—pintu depan terbuka sedikit, menganga seperti mulut yang siap menelan kembali siapa pun yang mendekat. Kilatan cahaya dari dalam ruangan membuat bangunan itu tampak hidup, meskipun seluruhnya tampak seperti reruntuhan yang membusuk perlahan.
"Kita harus pastikan," kata Fahmi. "Apa pun yang tadi kita lakukan di dalam, mungkin belum sepenuhnya menghentikan sistemnya. Bisa jadi... kita hanya memutus salah satu jaringan kontrolnya."
Aira menggigit bibir. Keinginan untuk meninggalkan tempat itu sangat kuat, tapi rasa tanggung jawab menahannya. Mereka telah menyelami inti dari eksperimen gila rumah sakit ini. Jika ada kemungkinan sistemnya masih aktif, dunia ini bisa saja dalam bahaya. Perlahan, mereka menyusuri jalur setapak yang tertutup rumput menuju pintu utama. Jalan yang pernah mereka lewati kini seperti lorong kenangan yang terlupakan, menyimpan jejak langkah dan bisikan yang tak kasat mata. Langkah kaki mereka menginjak dedaunan kering yang retak halus, menghasilkan bunyi pelan namun menusuk keheningan sekitar.
Saat melangkah masuk, aroma lembap dan besi tua langsung menyambut mereka. Lorong utama yang dulu bersih dan terang kini penuh dengan puing-puing, cat terkelupas, dan lumut hijau kehitaman. Tapi anehnya, tidak ada debu. Seolah tempat itu baru saja digunakan... atau masih digunakan oleh entitas yang tak kasat mata. Cahaya matahari menyelinap melalui celah-celah retakan atap, menciptakan sorotan yang aneh, seperti mata-mata yang mengawasi dari dimensi lain. Dindingnya yang penuh coretan samar menggambarkan skema-skema rumit yang belum sepenuhnya mereka pahami.
Di ruang resepsionis, komputer sudah tak menyala, tapi telepon meja berdering pelan. Aira melirik Fahmi, lalu meraih gagangnya dengan tangan gemetar.
"Halo...?" bisiknya.
Suara di seberang sunyi selama beberapa detik. Lalu terdengar napas berat... dan sebuah kalimat yang terdengar seperti gumaman: "Gerbang terakhir belum tertutup. Waktu masih retak..."
Klik. Sambungan terputus.
Fahmi menggertakkan giginya. "Kita harus ke ruang kontrol utama lagi. Mungkin ada jalur lain yang belum kita temukan. Atau... mungkin justru kita belum menyelesaikan semuanya."
Mereka menuruni tangga menuju lantai bawah tanah. Setiap langkah disambut gemeretak logam tua. Suara langkah mereka menggema, seperti berjalan di dalam perut monster yang sedang tertidur. Dinding mulai berubah tekstur lagi. Cahaya normal memudar, digantikan oleh semburat biru kehijauan dari lampu-lampu tua yang menyala sendiri. Udara semakin berat, dan kelembapan membuat napas menjadi lebih sulit. Ada aroma terbakar yang samar, menyelinap di antara bau karat dan tanah basah.
Sepanjang lorong, suara-suara aneh kadang terdengar—seperti percikan listrik, atau isakan anak kecil yang tak pernah tampak. Beberapa pintu kamar pasien terbuka sedikit, dan dari dalamnya kadang terlihat bayangan cepat melintas. Aira mencoba menahan diri untuk tidak menoleh. Setiap kilasan terasa seperti ujian mental. Lantai yang mereka injak mulai mengilap basah, seperti darah atau cairan pendingin yang bocor dari masa lalu.
Ruang kendali utama ternyata masih utuh—atau setidaknya seperti itulah tampaknya. Mesin-mesin besar yang tadi sempat meledak kini berdiri kembali, utuh, namun sunyi. Tidak ada suara listrik, tidak ada percikan. Tapi di tengah ruangan, bola logam itu masih melayang. Diam. Tenang. Tapi menyimpan denyut tak kasat mata.
Aira mendekat, dan saat ia mengangkat tangan, simbol-simbol mulai menyala lagi di sekeliling bola logam itu. Sebuah suara—suara dirinya sendiri—tiba-tiba terdengar dari speaker: "Protokol inisiasi ulang akan dimulai dalam waktu 24 jam. Subjek ECHO-07, persiapkan diri Anda."
Fahmi panik. "Apa ini artinya siklusnya belum berakhir?"
"Atau malah akan dimulai ulang," gumam Aira.
Di meja kontrol, mereka menemukan satu panel tambahan yang sebelumnya tertutup: tertulis 'Gerbang Transisi'. Layar di atasnya menunjukkan jalur-jalur dimensi yang bersinggungan satu sama lain, berputar, dan saling bertabrakan seperti partikel dalam eksperimen atom. Diagram kompleks itu menyerupai jaringan otak yang hidup—berdenyut, berubah, dan bergerak perlahan, seolah setiap garisnya menyimpan satu versi kenyataan yang berbeda.
"Ini... bukan hanya tentang satu dunia," kata Fahmi. "Tapi tentang semua versi realitas. Rumah sakit ini jadi poros pusat untuk membuka jalur-jalur antar realitas. Dan kamu, Aira... kamu pusatnya."
Aira hanya bisa menatap simbol-simbol itu. Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa... menyatu. Bukan seperti kehilangan kesadaran, tapi sebaliknya: ia merasa terlalu sadar, terlalu paham, seolah ingatan dari versi dirinya yang lain mulai tumpah ke kepalanya. Ia bisa merasakan versi dirinya yang lain—yang sudah mati, yang masih bertahan, bahkan yang menjadi bagian dari sistem itu sendiri.
"Kalau gerbang terakhir belum ditutup," ucap Aira lirih, "maka kita harus cari di mana letaknya. Mungkin bukan di sini... tapi di dimensi lainnya."
Layar di panel menyala lebih terang. Sebuah koordinat muncul, dan tulisan:
**"Gerbang Transisi – Ruang Tidur Subjek ECHO-01"**
"Ruang tidur...?" Fahmi menatap Aira.
"Itu bukan ruang fisik biasa. Aku tahu tempat itu. Aku pernah ke sana dalam mimpi. Tapi kalau sekarang panel ini menunjukkannya, berarti kita bisa menempuhnya secara nyata."
Tiba-tiba, bola logam di tengah ruangan terbuka perlahan, memperlihatkan ruang kosong berbentuk kapsul di dalamnya. Sebuah undangan diam. Mesin-mesin bergetar pelan, menimbulkan resonansi rendah yang terasa sampai ke tulang. Lantai berpendar lembut, memberi tanda arah langkah mereka.
Aira menarik napas panjang. "Ini jalan satu-satunya. Kalau kita ingin menyelamatkan semuanya... kita harus melangkah ke sana."
Mereka saling menggenggam tangan, lalu masuk ke dalam kapsul.
---
Dalam sekejap, dunia berputar. Cahaya membelah pandangan mereka seperti ribuan pecahan kaca. Mereka terhempas dalam terowongan waktu—dimensi demi dimensi melintas di sisi mereka. Setiap versi rumah sakit tampak lebih menyeramkan dari sebelumnya: yang terbakar, yang penuh pasien teriakan, bahkan yang kosong namun berdarah.
Ketika semuanya berhenti, mereka berdiri di sebuah kamar tidur kecil. Sederhana. Tapi asing.
Di dinding tergantung foto-foto Aira—versi masa kecil, remaja, dewasa. Semuanya tak pernah ia ingat pernah diambil. Di meja, terdapat boneka kecil, jam weker yang berbunyi lambat, dan di lantai... lingkaran ritual.
"Tempat ini... bukan hanya ruang tidur. Ini pusat awal eksperimen," kata Aira perlahan.
Suara detak jam terdengar seperti gema dari alam lain. Udara di ruangan itu hangat, namun terlalu tenang. Setiap benda seperti menyimpan riwayat diam. Buku-buku di rak tampak utuh, tapi jika disentuh, mereka menjadi abu. Cermin di sudut ruangan tidak memantulkan bayangan mereka.
Tepat di tengah lingkaran, terdapat kursi logam dengan sabuk pengaman, identik dengan tempat Aira pertama kali "terbangun" sebagai Subjek ECHO-07.
Mereka belum tahu... bahwa di sinilah letak akhir dan awal semua hal.
— Bab 18 Bersambung.—