Langkah Aira dan Fahmi semakin pelan saat mereka menyusuri lorong yang tak lagi seperti lorong rumah sakit biasa. Dindingnya bergelombang, seolah terbuat dari uap padat yang sesekali memperlihatkan wajah-wajah samar yang mengerang, menatap, lalu lenyap dalam sekejap. Cahaya dari lampu bohlam tua kini berganti menjadi pancaran kehijauan tak wajar dari celah-celah dinding, membuat kulit mereka tampak pucat dan bayangan mereka membentang panjang di belakang.
"Kita masih di dunia nyata?" tanya Fahmi, suaranya gemetar namun berusaha tegar.
Aira tidak menjawab. Tapi jantungnya menjawab lebih keras dari apa pun—berdebar, menjerit, memohon agar semua ini hanya mimpi. Namun aroma darah, logam, dan kabut lembap membuktikan sebaliknya. Mereka benar-benar telah melangkah masuk ke dalam inti rumah sakit ini—bagian yang seharusnya tidak pernah ditemukan siapa pun.
Di sepanjang lorong, lantai mulai berubah tekstur. Ubin berganti menjadi permukaan berurat seperti kulit manusia, lembap dan hangat di bawah telapak kaki sepatu mereka. Kadang terdengar suara seperti desahan napas yang berasal dari bawah lantai. Di sisi kiri, mereka melewati deretan pintu besi tebal dengan jendela kecil berpalang. Di balik jendela itu, Aira melihat sosok-sosok yang tidak sepenuhnya manusia—beberapa tampak tidur, sebagian menatapnya dengan mata putih seluruhnya, dan sisanya... bergerak dengan cara yang tidak mungkin dilakukan makhluk hidup biasa.
Langkah mereka makin berat saat kabut hitam mulai merayap dari celah dinding, perlahan seperti kabut laut yang masuk ke dermaga tua. Di lorong yang remang-remang itu, mereka merasa waktu mulai melambat, seolah gravitasi dan detik jam diputar ulang oleh kekuatan yang tak kasat mata. Setiap langkah terasa seperti disedot ke dimensi lain, tak terikat oleh hukum fisika normal. Suhu menurun drastis, membuat nafas mereka tampak seperti kabut es. Tangan Aira mulai gemetar bukan karena takut, tapi karena tubuhnya perlahan menolak realitas yang berbelok arah.
Lorong yang mereka lewati tampak semakin tak berujung. Dinding kini dihiasi dengan simbol-simbol yang bersinar redup, berpola spiral, membentuk semacam mantra yang membuat kepala pusing jika ditatap terlalu lama. Beberapa simbol tampak bergerak sendiri, berpindah tempat seperti makhluk hidup. Sebuah jam besar yang tergantung di langit-langit berputar mundur, membuat mereka sulit memperkirakan waktu.
Udara di sekitar mulai bergetar, seolah mengandung gelombang sonik yang tak terdengar tapi bisa dirasakan langsung di dalam tulang. Bau belerang tipis mulai tercium, bercampur dengan aroma amis darah lama dan debu yang membeku. Mereka melintasi sebuah lorong bercabang tiga. Masing-masing lorong dihiasi cahaya yang berbeda: satu merah menyala, satu biru dingin, dan satu lagi hitam legam tanpa cahaya sama sekali.
Tanpa berkata-kata, mereka memilih lorong biru, merasakan hawa dingin langsung membungkus kulit mereka seperti kabut nitrogen. Lantai lorong itu transparan seperti kaca, dan di bawahnya tampak dunia lain yang berputar lambat: rumah sakit yang sama, tapi semuanya terbalik, seolah mereka sedang berjalan di atas cermin realitas yang telah pecah dan disusun ulang.
Mereka tiba di sebuah ruangan besar yang penuh dengan layar-layar raksasa dan panel-panel kontrol usang. Mesin-mesin berdengung, menampilkan grafik dan gelombang data yang tak mereka pahami. Di tengah ruangan, sebuah bola logam besar tergantung tanpa tali, melayang, berputar perlahan. Di sekelilingnya, coretan-coretan simbol tak dikenal bersinar dalam pola-pola yang terus berubah. Panel kontrol terbuat dari logam tua dengan saklar berkarat dan tombol-tombol kecil berwarna kehijauan yang terus memantulkan gelombang suara tak beraturan.
"Ini... pusat kendali dimensi itu?" gumam Aira.
Fahmi mendekati salah satu panel. Terdapat tumpukan buku catatan dengan sampul kulit hitam. Ia membuka salah satunya dan membaca, "Protokol Penyeimbang, Subjek ECHO... realitas paralel, penguncian kesadaran... Aira, nama kamu di semua halaman ini."
Aira menggigit bibir. Kepalanya pusing. Kilasan ingatan muncul: dirinya duduk di kursi logam, suara Lazuardi mengucap mantra teknis di dekat telinganya, tubuhnya terasa melayang... Bayangan-bayangan masa lalu menyeruak dalam kilasan cahaya merah dan suara statis.
Di dinding, lukisan aneh menampilkan berbagai versi dirinya. Ada Aira dengan rambut pendek, Aira berseragam militer, bahkan Aira dengan mata hitam sepenuhnya. Semua versi itu memandang ke arahnya.
"Kita harus hancurkan semua ini," katanya. "Tempat ini... seharusnya tidak pernah ada."
Namun sebelum mereka sempat mendekati bola logam itu, lantai bergetar keras. Suara alarm melengking dari dinding. Layar-layar menampilkan wajah Dokter Lazuardi—tapi versi yang lebih tua dan rusak, dengan mata kosong dan senyum dingin yang membeku.
"Kalian telah melanggar keseimbangan," suara dari monitor itu bergema. "Sekarang kalian harus memilih: menjadi bagian dari dimensi ini... atau dihancurkan oleh waktu."
Kabut hitam merambat masuk ke dalam ruangan dari segala arah. Mesin-mesin mulai meledak satu per satu. Aira dan Fahmi saling tatap. Tak ada jalan mundur.
Mereka mulai berlari melewati lorong-lorong sempit di dalam fasilitas itu, mencoba mencari jalur lain. Setiap ruangan yang mereka lewati berisi peralatan aneh: kapsul transparan berisi cairan hijau yang mengandung sosok manusia setengah jadi, alat-alat bedah yang terus bergerak sendiri, serta proyeksi holografik dari dunia yang tampak asing—bangunan melayang, langit terbalik, manusia berjalan mundur.
Salah satu ruangan yang mereka masuki tampak seperti pusat kendali data eksperimen. Di tengah ruangan, sebuah layar besar menampilkan grafik biometrik Aira selama sepuluh tahun terakhir, seolah ia telah dipantau sejak lama. Mereka menemukan laporan lengkap: Aira adalah 'jembatan' antara kesadaran dunia nyata dan dimensi bayangan, bagian dari eksperimen untuk menciptakan tubuh yang dapat bertahan di antara waktu.
"Aku bukan sukarelawan untuk ini..." bisik Aira lirih. "Aku hanya mahasiswa magang."
"Mereka sudah merencanakan semua ini jauh sebelum kamu tiba," kata Fahmi pelan. "Kamu dipilih, Aira. Bukan secara kebetulan."
Tiba-tiba, cahaya merah menyala di seluruh ruangan. Dinding bergetar hebat, dan dari ventilasi terdengar jeritan—atau mungkin suara-suara entitas yang terjebak di dalam sistem dimensi itu. Bola logam dari ruangan sebelumnya kini muncul dari atap, menembus lantai dan melayang tepat di atas mereka. Sinar biru menyilaukan mulai membentuk lingkaran di sekeliling Aira.
"Dia sedang menarikmu kembali ke inti," teriak Fahmi. "Kita harus mengacaukan sistem ini!"
Fahmi menghantam panel kendali dengan tabung besi. Percikan listrik menyebar, suara alarm menjadi cacat, dan bola logam mulai bergetar tak terkendali. Aira meraih buku catatan dan mencabut satu kabel besar dari lantai. Ruangan mulai runtuh. Panel meledak, dinding retak, dan suara seperti ribuan bisikan menyatu dalam satu teriakan panjang.
Seketika, cahaya putih menyilaukan memenuhi seluruh pandangan mereka.
Ketika Aira membuka mata, ia terbaring di lapangan kosong di belakang rumah sakit. Angin pagi bertiup pelan. Fahmi terbaring tak jauh darinya. Di kejauhan, bangunan Rumah Sakit Mulya Sejahtera tampak seperti reruntuhan tua yang ditinggalkan puluhan tahun.
Rumput tinggi mengelilingi area tersebut, sebagian tumbuh liar menutupi jalan setapak yang dulu pernah dilalui pasien. Cahaya matahari pagi menyinari debu yang beterbangan pelan di udara, menciptakan efek seperti cahaya bintang. Burung-burung berkicau pelan, namun atmosfer tetap sunyi—seolah tempat ini masih menyimpan jejak dimensi lain.
"Apakah kita berhasil...?" tanya Fahmi dengan suara serak.
Aira menatap langit. Awan bergerak normal. Udara terasa nyata. Tidak ada suara bisikan. Tidak ada kabut hitam.
"Entah kita berhasil menghancurkannya... atau kita hanya terlempar ke dimensi lain yang terlalu mirip dengan dunia kita."
— Bab 17 TAMAT —