Langkah-langkah Aira dan Fahmi menyusuri lorong gelap terdengar berat, bergema seperti ketukan palu di dinding-dinding tua rumah sakit itu. Lampu neon di langit-langit berkedip tak menentu, beberapa hanya menyala separuh, menciptakan bayangan-bayangan ganjil di sepanjang koridor. Udara di sana terasa dingin, namun bukan jenis dingin yang biasa—ia menusuk hingga ke tulang, seperti hawa dari ruang kosong yang seharusnya tidak dihuni manusia. Bau lembap dan tajam dari jamur tua dan karat logam menyeruak dari setiap celah dinding dan lantai.
Lorong itu seakan tidak pernah berakhir. Setiap langkah seperti membawa mereka lebih dalam ke perut bangunan yang telah lama mati namun masih berdenyut dalam diam. Cahaya dari senter yang mereka genggam tak mampu menembus lebih dari beberapa meter ke depan, membuat dunia di sekitar mereka tampak seperti potongan-potongan kenyataan yang terpisah. Cat-cat dinding mengelupas, memperlihatkan lapisan bata tua dan jamur yang menyebar seperti akar tumbuhan asing.
Kadang terdengar bunyi tetesan air yang jatuh dari langit-langit, menghantam lantai dengan irama konstan yang menyeramkan, seolah ada yang menangis tanpa henti dari atas. Di salah satu sudut lorong, mereka melihat kursi roda tua tergeletak miring, rodanya berkarat dan tali kulit pengikat masih terpasang, seperti baru digunakan kemarin. Suasana itu membuat d**a Aira makin sesak.
Setiap langkah yang mereka ambil terasa seperti menembus batas antara dunia nyata dan sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap. Mereka menuju bagian peta yang ditandai simbol aneh—lingkaran dengan garis silang ganda. Di denah lama rumah sakit, ruang itu tidak diberi nama, hanya diberi kode: **ECHO**.
“Kalau yang kita lihat di peta benar, maka akses ke ruang ECHO ada di balik ruang penyimpanan lama,” kata Fahmi sambil menyorotkan senter ke arah pintu besi besar di ujung lorong. “Tapi aku belum pernah berhasil membukanya.”
Aira mengangguk. Tangannya meraba permukaan pintu, dingin dan berembun. Di tengah-tengah daun pintu itu, terukir simbol yang sama seperti di peta. Sebuah panel angka tua terpasang di sisi kanan pintu, tertutup debu dan karat. Cat pelindungnya sudah mengelupas, menyisakan logam kasar berwarna cokelat kehitaman.
“Tunggu,” bisik Aira. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan kertas dari amplop yang ia temukan pagi tadi. Di bagian belakang kertas, ada barisan angka samar tertulis dengan pensil: 1-1-3.
“Pasien 113…” gumam Fahmi. “Coba masukkan.”
Dengan jemari gemetar, Aira menekan tombol-tombol panel itu. Setiap bunyi klik dari tombol terasa seperti gema dalam pikirannya. Setelah angka terakhir ditekan, terdengar bunyi desis pelan, lalu bunyi mekanisme tua yang bergesekan. Pintu itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara decit panjang yang membuat gigi bergemeletuk. Aira menelan ludah, dan mereka pun melangkah masuk.
Di baliknya, kegelapan menyambut mereka. Udara di dalam lebih pekat dan pengap, seperti tidak tersentuh manusia selama puluhan tahun. Dindingnya beton kasar dengan bercak lumut, dan beberapa retakan menganga lebar, seolah bangunan itu sendiri pernah berteriak. Cahaya senter menyorot dinding beton yang dipenuhi coretan aneh dan tanda-tanda ritual—lingkaran, simbol numerik, dan bahkan tulisan dalam bahasa yang tidak mereka kenali.
“Tempat ini… seperti ruang eksperimen bawah tanah,” kata Fahmi pelan. “Lihat ini.” Ia menunjuk sebuah tempat tidur pasien tua yang dikelilingi peralatan medis usang, kabel-kabel putus, dan layar monitor tabung yang berkedip sendiri, meski tidak terhubung listrik. Di atas ranjang itu, terdapat sabuk pengikat yang usang dan berkarat, beberapa masih menyisakan bekas darah kecoklatan.
Lantai dipenuhi serpihan kaca, pecahan alat medis, serta bercak merah tua yang membentuk garis-garis aneh menuju sudut ruangan. Di sisi lain ruangan, rak-rak logam dipenuhi toples kaca berisi cairan kekuningan dan sesuatu yang tampak seperti jaringan tubuh. Aira menutup mulutnya, menahan mual. Di salah satu toples, ia melihat bola mata manusia mengambang, seolah masih mengamati mereka. Di rak paling bawah, tampak tengkorak bayi yang tidak sempurna, sebagian retak, dengan label: *Subjek D-06*. Cahaya senter Fahmi sempat menyorot papan tua bertuliskan "RUANG STABILISASI JARINGAN".
“Aku rasa kita berada di pusat semuanya,” ucap Aira. “Ini bukan cuma eksperimen medis biasa. Ini sudah menyentuh sesuatu yang… melampaui tubuh manusia.”
Dari kejauhan terdengar suara berdesis halus, seperti hembusan angin panas dari pipa-pipa. Lantai ruang ECHO terasa seperti mengalir di bawah kaki mereka—bergelombang, lembap, dan terkadang seakan mengeluarkan suara decak basah dari bawah. Mereka menyusuri lorong dalam ruangan itu, menemukan lebih banyak pintu-pintu kecil berlabel angka—Subjek 103, 104, hingga akhirnya… **ECHO-112**. Fahmi berhenti di depan pintu itu.
“Itu aku,” bisiknya. “Aku diarsipkan di sini.”
Pintu itu terbuat dari baja tebal, namun penuh karat dan bercak gelap. Ada kaca kecil seperti jendela sel tahanan yang dipenuhi goresan dari dalam. Aira menggenggam tangannya. Mereka membuka pintu kecil itu, dan mendapati sebuah ruangan sempit dengan ranjang besi, cermin retak, dan tulisan-tulisan di dinding yang tampak ditoreh dengan kuku. Di antara coretan itu, salah satunya berbunyi:
**“Kau akan melupakan semuanya. Tapi mereka tidak akan melupakanmu.”**
Ada juga gambar lingkaran yang saling bertumpuk seperti simbol dimensi. Di sudut ruangan, terdapat boneka kecil tanpa kepala yang diletakkan rapi di atas bangku tua. Sebuah perekam suara tua tersambung ke dinding, lampunya masih menyala merah. Catatan-catatan kecil tergantung dari langit-langit, diikat benang merah yang telah lapuk.
Fahmi menekan tombol PLAY.
Suara terekam: "Subjek 112 menunjukkan anomali saat koneksi dimensi terbangun. Subjek mulai berteriak nama seseorang... Aira. Ini berulang selama tujuh jam. Kami belum bisa memutus hubungan mereka."
Aira mundur, matanya melebar. “Kita saling terhubung bahkan sebelum kita sadar.”
Tiba-tiba, lampu senter mereka berkedip keras. Suara dari balik lorong terdengar—seperti napas, berat dan berirama. Suatu makhluk mendekat. Nafasnya seperti racun, terdengar mendesis dan bergemuruh, mengalir seperti kabut dari ujung lorong. Lantai mulai bergetar pelan, seakan mendeteksi kehadiran makhluk itu.
Fahmi menarik Aira keluar. “Kita belum bisa ke ruang 113. Tapi kita tahu sekarang… kita bukan subjek pertama, dan bukan yang terakhir.”
Lorong seolah bergetar. Di balik mereka, suara derak besi terdengar keras, dan sebuah pintu terbuka sendiri, memperlihatkan ruang penuh kabut dengan siluet-siluet yang bergerak tak wajar di dalamnya. Di dinding terluar, sebuah jam tua berdetak sendiri, meski jarumnya tidak bergerak. Namun suara detaknya menggema seperti dentang lonceng gereja.
Tapi Aira dan Fahmi tidak berhenti untuk meneliti lebih jauh. Mereka harus keluar, untuk kembali dengan persiapan lebih matang.
Mereka berlari, cahaya redup membentuk bayangan panjang di belakang. Namun mereka tak lagi melarikan diri tanpa arah. Kali ini, mereka menyelidiki untuk mengakhiri semua. Aira memeluk peta Fahmi di dadanya, sementara Fahmi menggenggam erat kamera yang kembali ia nyalakan. Setiap lorong yang mereka lewati kembali menyambut dengan suara-suara lirih, tapi kini mereka tidak gentar seperti sebelumnya.
Karena mereka telah tahu satu hal: mereka tidak sendiri. Dan kebenaran tidak akan selamanya terkubur di bawah reruntuhan rumah sakit ini.
---
—Bab 13 Tamat.—