Lorong-lorong itu kembali sunyi setelah langkah Aira dan Fahmi menghilang dalam gelap. Namun di balik setiap dindingnya, gema desahan dan bisikan-bisikan samar tetap mengintai, seolah bangunan tua ini menyimpan napasnya sendiri—dan setiap napas itu menunggu seseorang untuk kembali. Dinding-dinding itu lembab, dingin, dan terlihat hidup dalam diam. Lampu neon yang menggantung di atas kepala berkedip-kedip pelan, memancarkan cahaya kekuningan yang lebih menyeramkan daripada menerangi.
Aira dan Fahmi berdiri di depan pintu besi yang belum terbuka, dengan nomor yang sangat mereka kenali: **113**. Pintu itu berbeda dengan yang lain. Permukaannya lebih baru, tapi justru terasa lebih mengancam. Tidak ada karat, tidak ada goresan, seolah-olah tempat ini tidak pernah disentuh... atau justru selalu diawasi. Cat abu-abu gelap menutupi seluruh permukaannya, memantulkan sedikit bayangan tubuh mereka yang berdiri dalam ketegangan.
"Ini ruanganmu, Aira," ucap Fahmi pelan. Suaranya mengandung ragu, seolah tidak yakin ingin mengatakan itu.
Aira menelan ludah. Tangannya menyentuh panel angka di samping pintu, namun kali ini tidak ada tombol, hanya satu lubang kecil berbentuk lingkaran, tepat sebesar jari telunjuk. "Apa ini... pemindai darah?" gumamnya, kening berkerut.
Fahmi mengeluarkan senter UV dari sakunya dan menyinari permukaan pintu. Di balik cat abu-abu, tampak simbol-simbol samar—lingkaran bertumpuk, mata terbuka, dan kode: **ECHO-07**. Simbol-simbol itu tampak seperti terukir dalam logam dan memancarkan aura aneh saat diterpa cahaya UV. Seolah mereka bukan hanya tanda, melainkan bagian dari sistem yang lebih besar dan lebih hidup.
Dengan hati-hati, Aira menyentuhkan jarinya ke lubang itu. Rasa perih menyengat saat jarum kecil menyusup masuk. Seketika, pintu mengeluarkan desisan dan terbuka perlahan. Aroma obat kuat dan logam memenuhi udara. Bau itu menyengat, menciptakan rasa mual di perut Aira, namun ia tetap melangkah masuk.
Ruangan 113 gelap. Tapi tidak seperti kegelapan ruang sebelumnya, ini adalah kegelapan yang teratur. Semua di dalam tertata rapi: ranjang logam tanpa kasur, rak besi berisi toples bersih, dan satu meja dengan layar monitor kecil yang menyala biru. Tidak ada debu, tidak ada jamur. Semuanya steril. Udara di dalam ruangan terasa dingin dan tak berjiwa, seperti masuk ke dalam laboratorium yang telah lama ditinggalkan namun tetap dijaga oleh mesin otomatis.
Di atas meja, satu berkas ditandai dengan label merah: **DATA PRIBADI: ECHO-07**.
Aira membuka map itu. Di dalamnya, ada foto dirinya—namun bukan yang ia kenali. Rambutnya lebih panjang, wajahnya pucat, dan matanya tampak kosong. Laporan-laporan medis menyebutkan: *eksperimen interdimensi tahap lanjutan, subjek menunjukkan kemampuan menembus realitas lapis kedua.*
"Ini... bukan aku," bisik Aira. Tapi suaranya sendiri terasa hampa, mengambang di udara yang seolah menyerap setiap kata.
Fahmi berdiri di belakangnya, membaca laporan-laporan lain yang tersebar di meja. "Tapi ini juga kamu. Bagian dari kamu yang pernah 'dibangkitkan' di sini. Mereka tidak hanya memperlakukanmu sebagai pasien. Mereka memperlakukanmu sebagai portal."
Tiba-tiba, monitor berbunyi—suara rekaman lama menyala otomatis. Suara Dokter Lazuardi terdengar pelan:
> "Tanggal: Tidak tercatat. Subjek 07 kembali menunjukkan hubungan gelombang dengan Subjek 112. Sinyal lintas realitas stabil selama 47 menit sebelum keruntuhan jaringan terjadi. Sebuah makhluk mencoba memasuki ruang dari sisi lain... Protokol penutupan diaktifkan."
Fahmi dan Aira saling pandang. Wajah mereka tertutup oleh kilatan cahaya dari monitor, yang kini mulai memancarkan gelombang seperti ombak kecil dalam warna biru tua.
"Kita harus tahu makhluk apa itu," ucap Fahmi, lebih kepada dirinya sendiri.
Aira menatap monitor yang kini menampilkan grafik berdenyut—seperti EKG, namun dalam pola tak dikenal. Di sudut layar, muncul satu tulisan merah:
**"PENGUNCIAN DIBATALKAN – ENTITAS BANGUN."**
Lampu ruangan mulai berkedip. Rak-rak berguncang pelan. Dari dinding, suara-suara lirih mulai kembali terdengar. Tapi kali ini, bukan sekadar bisikan. Ada irama, seperti nyanyian kanak-kanak dari lorong jauh. Lagu tanpa bahasa, seperti mantra dari masa lalu yang tak pernah dituliskan.
Aira menutup map dan menarik Fahmi keluar. Namun saat mereka hendak melangkah ke koridor, pintu di belakang tertutup sendiri dengan hentakan keras. Kunci elektromagnetik aktif kembali. Suara dentumannya seperti palu ketakutan yang menyegel nasib mereka.
"Kita terkunci," kata Fahmi. Tapi Aira tidak menjawab. Dia memandangi dinding ruangan, yang perlahan berubah—permukaannya seperti air yang beriak, dan bayangan dirinya sendiri muncul dari baliknya. Namun bayangan itu tidak menirukan gerakannya. Ia... tersenyum.
Sinar dari monitor menyala merah terang, memproyeksikan rekaman-rekaman pendek di udara: Aira di dalam tabung kaca, terhubung dengan kabel-kabel seperti akar tumbuhan. Tubuhnya tak bergerak, tapi matanya terbuka—tatapan kosong ke arah langit-langit. Di sebelahnya, sosok Fahmi muda juga terlihat di ranjang lain, terikat dan menggeliat.
Guncangan kecil mulai terasa dari bawah lantai. Suara alarm rendah terdengar dari speaker tersembunyi. Suara itu berdetak seperti detak jantung dunia yang akan runtuh.
“Protokol ECHO aktif. Pemisahan realitas dimulai.”
Sebuah suara mekanis mengumumkan, namun terdengar seperti dibisikkan langsung ke telinga Aira. Dari rak di samping mereka, salah satu panel rahasia terbuka dan memperlihatkan lorong sempit lain yang tidak ada dalam denah mana pun.
“Ke sana,” bisik Aira. “Sebelum semuanya terkunci.”
Mereka memasuki lorong sempit yang nyaris tak dapat dilalui. Bau asam dan logam menyengat menusuk hidung. Lampu kecil menyala otomatis seiring langkah mereka. Dindingnya dipenuhi coretan tangan dan simbol-simbol yang kini Aira sadari bukan sembarang grafiti—itu adalah pola aktivasi. Seperti mantra dalam bentuk geometri. Setiap simbol seolah hidup, berdenyut dalam cahaya lemah. Lorong ini terasa seperti perut dari sesuatu yang lebih besar, seperti mereka berjalan di dalam makhluk raksasa yang tertidur.
Lorong itu membawa mereka ke ruang observasi tersembunyi. Di balik kaca satu arah, mereka bisa melihat ruangan tempat tubuh Aira dan Fahmi pernah ditahan. Kini, ruangan itu kosong, tapi dindingnya menyimpan bekas sejarah: bercak darah, torehan paku, serta lingkaran dengan tulisan yang jika dibaca terbalik membentuk kata: **“JANGAN PERCAYA MEREKA.”**
“Ini bukan cuma rumah sakit,” ucap Fahmi lirih. “Ini tempat antara. Laboratorium bagi sesuatu yang lebih besar dari sekadar manusia.”
Aira mengangguk. Matanya kini penuh tekad. “Kita harus akhiri ini. Semua. Aku tak ingin ada yang lain jadi subjek seperti kita.”
Mereka membuka pintu terakhir di ruang observasi. Di baliknya, tangga spiral menurun jauh ke dalam tanah. Udara menjadi semakin panas dan kering, seperti napas dari mesin tua yang sudah terlalu lama hidup. Di bawah sana, mereka mendengar detak—seperti jantung, namun berlapis-lapis. Suara itu bergema, memantul dari satu dinding ke dinding lainnya, menciptakan efek seperti berada dalam rongga d**a makhluk purba.
Detak itu berasal dari sebuah ruangan pusat—sebuah kubah besar dengan kubikel-kubikel kaca di sekelilingnya. Di tengahnya berdiri mesin utama: *Core Stabilizer*, tertulis pada panelnya. Dari mesin itu menjalar kabel ke seluruh bangunan, seperti akar pohon menjalar ke tanah. Mesin itu berdengung pelan, namun penuh ancaman.
Dan di dalam salah satu tabung... Aira melihat dirinya lagi.
Tubuh lain, tubuh yang masih bernapas. Terkunci dalam waktu.
“Ini... bagian dariku yang tak pernah pergi,” bisiknya.
Fahmi menatap layar sistem kendali. Ada satu tombol besar bertuliskan: **AKHIRI PROSES STABILISASI**. Layar itu bergetar ringan, seolah menolak disentuh.
Aira menatap Fahmi. “Kalau kita tekan itu, semuanya bisa berakhir. Tapi kita mungkin takkan bisa kembali.”
Fahmi menggenggam tangannya. “Kita tak pernah benar-benar pergi dari sini, Rai. Tapi kita bisa mengakhirinya bersama.”
Aira menekan tombol itu.
Cahaya meledak. Seluruh dunia runtuh dalam kilatan putih.
---
—Bab 14 Tamat.—