**Bab 12: Kamar Tertidur**
Aira terbangun dengan napas terengah, keringat dingin membasahi pelipisnya. Matanya terbelalak, menatap langit-langit kamar kosnya yang pucat diterangi cahaya matahari pagi. Detak jantungnya masih menggema keras di telinga, seolah baru saja dikejar oleh sesuatu dalam mimpi. Suara kipas angin tua di atas kepalanya berdecit perlahan, menyatu dengan gemuruh samar dari kendaraan di kejauhan.
Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Tapi sensasi itu belum hilang—seolah ada sesuatu yang tertinggal dari dunia mimpi. Rasa mencekam masih menempel di kulitnya seperti kabut yang enggan menghilang. Saat ia menoleh ke sisi tempat tidurnya, ia melihatnya: sebuah amplop putih tergeletak di meja. Ia yakin sebelumnya benda itu tidak ada di sana. Meja kayu kecil itu hanya biasanya dipenuhi tumpukan buku kuliah, alat tulis, dan mug berisi sisa kopi semalam.
Tangan Aira gemetar saat meraihnya. Tidak ada nama pengirim. Kertasnya kasar dan sedikit lembap, seperti baru saja keluar dari ruangan berdebu yang lembap. Ia membuka perlahan, dan di dalamnya... hanya selembar kertas bertuliskan:
**Pasien 113 – RS Mulya Sejahtera.**
Tulisan itu tampak seperti tulisan tangannya sendiri. Kertas itu berbau sedikit hangus, dan di sudutnya ada bercak kecokelatan yang mengering, seperti bekas darah. Sebuah kilasan rasa deja vu menyergapnya, seolah ia pernah menerima pesan ini sebelumnya. Atau... pernah menjadi bagian darinya.
Aira menelan ludah. “Tidak mungkin...” gumamnya. Ia melirik ponsel—tidak ada pesan dari Fahmi. Kontak terakhir dengannya sudah seminggu yang lalu. Kepalanya masih terasa berat, seperti baru keluar dari hipnosis. Tapi satu hal yang pasti: ia harus mencari Fahmi.
Setelah mencuci muka dengan air dingin di kamar mandi sempitnya, Aira mengenakan jaket hitam dan menyelipkan kertas itu ke dalam saku. Ia melirik ke cermin—bayangannya sendiri tampak lebih pucat dari biasanya. Mata sembab dan kulit wajah yang terlihat lebih tirus. Mungkin efek dari mimpi-mimpi buruk yang terus menghantuinya malam demi malam.
Langkahnya mantap keluar dari kamar, meski jantungnya berdegup tak karuan. Langit pagi mendung, jalanan tampak basah oleh embun. Motor-motor menderu di kejauhan, tapi di dalam dirinya, dunia masih sunyi. Di jalanan kecil menuju halte, pepohonan bergoyang pelan, seolah membisikkan sesuatu. Aira menarik napas panjang dan menatap langit yang kelabu.
Sepanjang perjalanan ke arah rumah sakit, pikirannya berputar—tentang mimpi, tentang Lazuardi, tentang proyek ECHO. Ia tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang ilusi. Setiap kenangan terasa terdistorsi, seperti rekaman yang diputar ulang terlalu sering hingga gambarnya kabur.
Ia memutuskan untuk mendatangi tempat di mana terakhir kali ia dan Fahmi menyelidiki: gedung belakang rumah sakit, yang kini telah ditutup untuk umum. Tapi ia tahu cara masuk. Ia ingat jelas jalur-jalur sempit itu, lorong-lorong gelap yang seolah mengamati setiap langkahnya.
Di lorong sempit di sisi utara bangunan, Aira menyusuri dinding yang retak dan lembap. Ia melewati semak liar yang tumbuh tak terurus, lalu menemukan pintu akses darurat yang terkunci rantai. Lumut menempel di sela-sela lantai beton, dan bekas tapak kaki samar tertinggal di tanah yang lembab. Ia mengeluarkan kunci duplikat yang dulu diberikan Fahmi, membuka rantai itu pelan-pelan. Bunyi gesekan rantai dengan logam membuat bulu kuduknya meremang.
Saat masuk, bau apek dan dingin langsung menyergap, seperti disambut oleh nafas dari dunia lain. Lorong-lorong rumah sakit itu masih terasa sama: sepi, gelap, dan penuh bisikan tak kasatmata. Lampu neon yang menggantung di langit-langit bergetar ringan, beberapa bahkan mati total, menciptakan siluet gelap di sepanjang lorong. Suara langkah Aira beradu dengan lantai keramik yang retak-retak, menyatu dengan gema yang mengganggu.
Di dinding, cat mengelupas dan meninggalkan pola seperti tangan-tangan terjulur. Lampu gantung tua berayun pelan, meski tak ada angin. Gorden tua berwarna kelabu menggantung tak rapi di jendela-jendela kecil, digerakkan sedikit oleh getaran entah dari mana. Aira menyusuri jalan perlahan, telapak kakinya menginjak pecahan kaca kecil dan kertas basah yang lengket.
Ia melewati ruang-ruang kecil—bekas ruang konsultasi yang sekarang hanya berisi meja reyot dan kursi dengan pelapis robek. Di salah satu ruang, ia melihat bayangan cepat melintas di ujung mata. Tapi ketika menoleh, tak ada apa-apa. Hanya dinding berjamur dan cermin retak yang memantulkan bayangan dirinya yang goyah.
Aira menguatkan langkah hingga mendekati ruang arsip lama—tempat segalanya bermula. Pintu ruangan itu sedikit terbuka, dan bau khas kertas tua dan kelembapan langsung menguar dari dalam. Tumpukan map dan dokumen terlihat berserakan di lantai, seolah baru saja diacak-acak seseorang.
Dan di sana—berdiri dengan wajah lelah, namun jelas masih hidup—adalah Fahmi.
“Aira?” suara Fahmi nyaris tidak percaya.
Aira menghampirinya cepat, menahan tangis. “Kamu hidup… aku pikir kamu—”
“Aku juga pikir kamu hilang,” potong Fahmi, senyumnya lemah. Matanya sembab, wajahnya pucat. “Aku sembunyi beberapa hari. Rumah sakit ini... masih hidup, Aira. Aku tahu itu. Dan aku yakin kamu akan kembali.”
Aira memperlihatkan kertas yang ia temukan. “Aku mendapat ini pagi tadi. Entah mimpi, entah nyata... tapi semuanya terasa sangat nyata.”
Fahmi membaca cepat. “Pasien 113... itu kamu. Sama seperti aku Subjek 112. Kita belum selesai, Rai. Mereka masih bermain dengan dimensi ini.”
Aira mengangguk perlahan. “Kalau kamu setuju, kita harus kembali menyelidiki. Kita belum menemukan inti dari semua ini.”
Fahmi menggenggam tangannya. “Aku selalu siap. Tapi kali ini... kita harus hati-hati. Mereka tahu kita sadar.”
Mereka duduk sebentar di lantai koridor, membicarakan kembali apa yang mereka alami. Fahmi mengeluarkan peta tua rumah sakit yang ia temukan dari tumpukan arsip. Di pojoknya ada simbol aneh—lingkaran dengan garis silang ganda—yang pernah muncul dalam penglihatan Aira.
“Bagian ini,” kata Fahmi sambil menunjuk salah satu ruang yang tak tercantum di denah resmi rumah sakit, “katanya ruang paling dalam di bawah tanah. Mereka menyebutnya Ruang ECHO.”
Aira menelan ludah. “Kalau itu tempat semua ini dimulai, mungkin itu juga tempat semuanya bisa diakhiri.”
Keduanya menoleh ke lorong gelap yang terbentang di depan. Di ujung lorong, terdengar bunyi tetesan air yang lambat dan konstan. Sebuah jam dinding tua berdetik pelan dari salah satu ruang yang pintunya terbuka lebar, meski baterai seharusnya sudah mati bertahun-tahun lalu.
Tanpa banyak bicara, mereka berdiri dan mulai melangkah. Lorong itu tak menyambut mereka, namun juga tak menolak. Seolah tempat itu tahu: dua jiwa ini akan kembali menggali luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Dan tanpa ragu, mereka masuk lagi ke dunia yang tak pernah benar-benar meninggalkan mereka.
---
—Bab 12 Tamat —