Aira menatap amplop putih di tangannya seperti menatap bom waktu. Hatinya berdebar, napasnya berat. Nama di kertas itu—Pasien 113 – RS Mulya Sejahtera—membuat tubuhnya kembali menggigil, seolah dingin dari mimpinya tadi belum benar-benar menghilang.
Ia menoleh ke kanan dan kiri kamar, mencoba mencari penanda bahwa ia benar-benar sudah bangun. Meja belajar, lemari, tumpukan buku kuliah, bahkan sisa kopi di gelas plastik—semuanya tampak normal. Tapi rasa ganjil itu tak mau pergi. Ada sesuatu yang tidak tepat. Bukan hanya dari isi amplop, tapi dari keheningan yang terlalu mutlak. Seakan dunia luar telah dimatikan.
Ponselnya masih menunjukkan pukul 07.14, detik tak bergeser sejak pertama ia lihat. Ia menyalakan dan mematikan ulang layar, namun jam tetap membeku.
"Apa aku... masih di sana?" bisiknya.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari pintu kamar kos. Tok... Tok... Tok.
Aira menoleh cepat. Ketukan itu terdengar lemah, tapi ritmenya terlalu teratur—seperti kode. Ia ragu beberapa detik sebelum mendekat, meraih gagang pintu. Tapi saat ia menempelkan telinga, tak terdengar apa pun.
Dan tanpa aba-aba, ponselnya menyala sendiri.
Satu notifikasi masuk: File terkirim: ECHO_113.mp4
Dengan tangan gemetar, ia membuka file itu. Video itu hanya berdurasi 17 detik, menampilkan rekaman dirinya di ruang operasi—terbaring, dengan sorotan lampu putih menyilaukan dari atas. Beberapa orang berseragam putih bergerak cepat, mencatat sesuatu, sementara suara dokter terdengar samar:
"Respon subjek terhadap zat penghubung masih aktif. Perbatasan dimensi keempat mulai membuka. Subjek 113 stabil."
Aira melempar ponsel itu ke kasur, napasnya memburu. “Tidak mungkin… ini hanya mimpi. Aku sudah bangun! Aku sudah bangun!”
Tapi dunia di sekitarnya terasa semakin tipis. Dinding-dinding kamar kost berdenyut seperti dinding rumah sakit tua itu. Bayangan-bayangan mulai muncul di pojok ruangan, berdiri diam, mengamati.
Ia menjerit dan berlari keluar kamar.
Lorong kosan tampak sepi. Terlalu sepi. Tak ada suara TV dari kamar tetangga, tak ada langkah kaki, bahkan suara motor di luar pun lenyap. Langkahnya makin cepat, menuju gerbang depan. Tapi saat ia tiba di ujung lorong, pagar kosan telah berubah.
Bukan besi biasa. Tapi gerbang rumah sakit. Lengkungannya sama, tulisan tuanya pun sama: "RS MULYA SEJAHTERA - TEMPAT PERISTIRAHATAN TERAKHIR."
Aira mundur perlahan.
Di balik gerbang, seseorang berdiri diam—Fahmi. Tapi wajahnya tak terlihat jelas, seperti tertutup kabut.
“Fahmi!” jeritnya.
Tapi sosok itu tak menjawab. Perlahan, ia membalik badan dan berjalan menjauh, masuk ke dalam gerbang yang terbuka sendiri. Cahaya lampu lorong rumah sakit menyala satu per satu, mengikuti langkahnya.
Tanpa sadar, Aira mulai berjalan menyusul. Langkahnya ringan, seolah tak menginjak tanah. Dunia di sekitarnya bergetar, seperti film rusak yang diputar ulang.
Ketika ia melewati gerbang itu, bau khas rumah sakit langsung menusuk—antiseptik, darah, dan sesuatu yang membusuk. Ia tahu betul bau itu.
Dan suara itu kembali—suara dari mimpi, dari ruang putih itu.
"Selamat datang kembali... Subjek 113."
Langkah Aira terus membawanya menembus lorong rumah sakit itu. Dinding di kiri kanan memudar, seolah bukan lagi tembok, tapi tirai tipis yang menggambarkan fragmen ingatan—gambar-gambar samar tentang dirinya sendiri, mengenakan pakaian pasien, duduk di ruang observasi, menangis sambil menulis sesuatu di kertas yang terus basah oleh air mata. Lorong seakan hidup, menampilkan potongan masa lalu yang bahkan tak ia ingat pernah ia alami.
Tapi ia tahu... ini bukan halusinasi biasa. Ini adalah versi lain dari rumah sakit. Dimensi tempat batas antara mimpi, ingatan, dan realitas tak lagi jelas.
Ia terus mengikuti sosok Fahmi yang berjalan di depan. Tak sekalipun lelaki itu menoleh. Langkahnya lambat, pasti, dan seolah terikat oleh satu tujuan—menuju bagian terdalam dari rumah sakit: ruang ECHO.
Setiap kali Aira melewati pintu atau simpangan lorong, ia mendengar suara-suara aneh. Suara dirinya sendiri menangis. Suara Fahmi yang memanggil namanya. Suara seseorang—mungkin Dokter Lazuardi—membacakan hasil eksperimen dengan nada datar seperti membaca mantra.
Saat akhirnya Fahmi berhenti di depan sebuah lift tua, Aira ikut berhenti. Lift itu terbuka dengan sendirinya.
Di dalamnya tak ada tombol angka. Hanya satu tombol: “113”
Fahmi masuk tanpa suara. Aira ragu sesaat, namun kemudian menyusul. Pintu lift tertutup dengan dengungan panjang.
Lift tak langsung turun. Ia bergetar hebat, seperti jatuh bebas. Dindingnya berembun, dan suara mekanisme tuanya seperti tulang yang dilipat paksa. Aira memejamkan mata, menahan mual dan ketakutan. Begitu pintu terbuka, yang terbentang di depannya bukan lagi ruangan rumah sakit... tapi koridor melengkung seperti usus. Dindingnya berdenyut. Lampu gantung menggantung terbalik, berputar perlahan.
Fahmi berjalan ke depan, masuk ke lorong itu.
“Fahmi... tunggu! Ini bukan tempat nyata! Kita harus keluar dari sini!” seru Aira, suaranya bergetar.
Untuk pertama kalinya, Fahmi menoleh. Tapi wajahnya sudah berubah. Bukan luka atau darah, tapi... kosong. Seperti wajah topeng putih yang tak punya mata, hidung, atau mulut.
Aira mundur. “Bukan kamu... kamu bukan Fahmi!”
Sosok itu tetap menatap, lalu menunjuk ke sebuah ruangan di ujung lorong. Pintu besi dengan tulisan besar:
ECHO ROOM – REKAMAN KESADARAN SUBJEK
Pintu itu terbuka sendiri, mengeluarkan cahaya merah samar.
Suara Lazuardi terdengar lagi, kali ini lebih jelas, seakan langsung dari speaker yang tertanam di tengkoraknya.
Kesadaranmu adalah medan percobaan. Kami tak perlu tubuhmu. Kami hanya butuh bagian dari jiwamu yang mampu menembus batas."
Aira berlari menjauh, menyusuri lorong lain, tapi setiap lorong yang ia lalui kembali membawanya ke depan pintu ECHO. Ia memejamkan mata, memekik dalam diam, berharap bisa terbangun lagi di kamar kost.
Tapi suara mesin mulai berdengung.
Pintunya terbuka, dan ia melihat ruangan penuh cermin—ratusan. Dan di setiap cermin, ia melihat dirinya sendiri, tapi dalam bentuk berbeda: Aira sebagai pasien, Aira sebagai suster, Aira sebagai anak kecil di ruang terapi... dan Aira yang terbaring di meja bedah sambil tersenyum aneh.
Suara rekaman berputar.
"Subjek 113 menunjukkan tanda-tanda pembelahan kesadaran. Terjadi simultanitas identitas pada tingkat sub-realistis. Potensi jalur ke entitas keempat terkonfirmasi."
Langit-langit ruangan terbuka. Di atasnya bukan langit, tapi lubang hitam yang berputar pelan. Bayangan tangan muncul dari dalam lubang itu, menjulur ke bawah.
Aira memundurkan diri, tapi kakinya tak bergerak. Dinding mulai runtuh menjadi kertas. Udara menjadi lengket dan tajam seperti amonia.
Ia berteriak. “Cukup! Aku bukan subjek! Aku manusia!”
Tiba-tiba semuanya meledak menjadi cahaya putih menyilaukan.
Aira kembali membuka mata.
Ia terduduk di kursi kayu di tengah taman rumah sakit. Pagi yang cerah. Burung-burung berkicau. Beberapa pasien berjalan santai bersama suster. Tak ada darah. Tak ada kabut.
Ia melihat dirinya mengenakan seragam magang. Laporan di tangan. Suster Santi melambai dari kejauhan.
“Selamat datang, Aira,” kata Suster Santi ceria. “Hari pertamamu dimulai sekarang, ya?”
Aira terpaku. Dunia ini... adalah awal cerita. Tapi ia tahu segalanya sudah terjadi. Ia tahu ini bukan awal sungguhan, melainkan loop. Rumah sakit ini tidak membiarkannya pergi. Rumah sakit ini bukan tempat kerja.
Rumah sakit ini adalah perangkap dimensi.
Dan dia... adalah Subjek 113.
Aira berdiri perlahan dari bangku taman, tubuhnya gemetar meski sinar matahari pagi menyentuh kulitnya. Suasana terlalu tenang. Terlalu bersih. Setiap daun tampak terlalu hijau, setiap senyum terlalu sempurna. Ia berjalan menyusuri jalan setapak di tengah taman, melewati seorang pasien lansia yang tengah membaca buku, dan seorang perawat muda yang tertawa sambil mendorong kursi roda.
Namun langkahnya terasa berat, seperti berjalan di dalam mimpi yang kental. Ia mencubit lengannya—keras. Tapi tidak ada rasa. Kulitnya memucat.
Suster Santi menyambutnya di depan pintu masuk rumah sakit, dengan senyum hangat yang biasa.
“Kamu datang tepat waktu, Aira. Hari ini kita akan mulai orientasi ke ruang ICU dulu ya,” katanya sambil menyerahkan map.
Aira hanya mengangguk perlahan, matanya terus menatap mata Suster Santi. Ada sesuatu di balik sorot mata itu—seperti... kedalaman yang tak wajar. Dan saat Aira menerima map itu, tangannya bersentuhan sejenak dengan tangan Suster Santi. Ia terkejut—suhu tangan itu dingin. Terlalu dingin, seperti kulit yang sudah tidak dialiri darah.
“Semua ini... sudah terjadi,” kata Aira lirih. “Aku... sudah pernah di sini.”
Suster Santi tersenyum samar. “Tentu saja, Aira. Kamu memang sudah ditakdirkan berada di sini.”
Suara itu... bukan suara manusia. Ada gema samar di baliknya. Aira membeku.
Lorong rumah sakit kembali membentang seperti biasa. Dinding putih, lantai keramik yang bersih, aroma alkohol medis yang menguar tipis. Namun kini Aira memperhatikan sesuatu yang sebelumnya tak ia sadari—pantulan dirinya di kaca jendela ruang ICU tidak bergerak sama seperti dirinya. Sosok di kaca menoleh saat ia diam, dan tersenyum... saat ia sedang menangis.
Ia mengusap matanya. Air mata mengalir. Tapi tak ada rasa hangat. Tidak ada isak. Bahkan tubuhnya tidak bergetar. Ia menangis... tapi hanya sebagai rutinitas.
“Ini... bukan tubuhku?” bisiknya.
Di ruang ICU, perawat lain menyapa. Pasien-pasien tampak beristirahat damai, tapi matanya... semua mata mereka menatap Aira. Meski kepala mereka menghadap ke lain arah, bola mata mereka bergerak mengikutinya. Mengawasinya. Menghakiminya.
“Selamat datang kembali, Subjek 113,” kata seorang dokter sambil menulis di papan rekam medis, padahal mulutnya tidak bergerak.
Aira mundur perlahan. Lalu berlari.
Lorong di depannya terus bercabang. Ia menabrak rak catatan, melewati kamar operasi, kamar jenazah, tangga darurat. Tapi ke mana pun ia berbelok, ia kembali ke taman rumah sakit. Di tengah taman, kursi kayu itu tetap ada, dengan map laporan magang di atasnya.
Ia berteriak, “Keluar! Aku ingin keluar!”
Langit tiba-tiba menjadi gelap. Burung-burung menghilang. Pasien-pasien diam membeku. Dan dari balik pohon, muncul sosok Dokter Lazuardi, mengenakan jas putih sempurna. Senyumnya lebar, dan matanya bersinar merah.
“Kau tidak bisa keluar, Aira,” katanya. “Kau bagian dari kami. Sudah sejak dulu.”
Aira memundurkan diri. Tapi tubuhnya mulai kehilangan kendali. Kakinya kaku. Tangannya gemetar tak terkendali. Di atas kepalanya, langit mulai merekah seperti kaca yang pecah—dan dari celah-celah langit itu, turun wajah-wajah lain. Wajah-wajah dirinya sendiri... dari ratusan versi berbeda.
Satu suara bersatu, menggelegar dari semua arah.
“Kembalilah... Kembalilah ke asalmu, ECHO-113.”
Lalu semuanya hitam.
Aira terbangun—kali ini, di dalam ruang putih tanpa jendela. Bukan kamar kost. Bukan taman. Bukan ICU.
Ruang ini... kosong. Tapi di tengahnya ada satu kursi dan meja, serta satu benda yang tidak asing baginya: kamera mini DV milik Fahmi.
Ia mendekat, menekan tombol play.
Suara rekaman berderak. Dan ia mendengar suaranya sendiri berkata:
“Kalau kau mendengar ini... berarti kita sudah gagal keluar. Rumah sakit ini bukan tempat. Ini ruang lintas kesadaran. Mereka memanipulasi waktu, bentuk, dan siapa diri kita. Jangan percaya apa pun. Bahkan aku. Bahkan dirimu.”
Rekaman berhenti.
Aira menunduk, tubuhnya limbung. Lalu sebuah suara lain—suara Fahmi—berbisik pelan di telinganya, walau tak ada siapa pun di ruangan.
“Jangan lupa... ada jalan keluar. Tapi harus kau temukan sendiri.”
Tiba-tiba, dinding di sisi kanan runtuh sendiri, memperlihatkan sebuah koridor yang remang dan penuh coretan darah. Di ujungnya, sebuah pintu berlabel:
ARSIP PASIEN—TINGKAT LIMA
Aira menarik napas panjang. Ia menggenggam kamera Fahmi. Wajahnya pucat, tapi matanya kini penuh tekad.
“Kalau ini semua bagian dari permainan kalian... maka aku akan main sampai akhir.”
Ia melangkah ke lorong gelap itu.
Dan pintu pun tertutup pelan di belakangnya.
—Bab 11 TAMAT —