Langkah-langkah menyeret itu terdengar semakin dekat. Aira memegang lengan Fahmi erat-erat, matanya tak berkedip menatap pintu ruang arsip yang sedikit terbuka. Cahaya dari lorong menyusup masuk, bersamaan dengan suara aneh yang mengerang rendah, seperti bisikan dari mulut yang tak lagi memiliki bentuk.
Ruangan arsip itu lembab, berbau kertas lapuk dan zat kimia yang menguar dari dinding yang terkelupas. Rak-rak logam berisi berkas tua menjulang tinggi dan menciptakan lorong-lorong sempit. Aira dan Fahmi bersembunyi di celah yang hanya cukup untuk dua orang berdiri merapat. Nafas Aira tercekat di tenggorokan saat ia merasa sesuatu—mungkin hanya hembusan angin, atau lebih buruk—menyentuh pundaknya.
Fahmi mematikan kamera mini DV dan mengantongi kaset rekaman. Ia memberi isyarat kepada Aira untuk mundur, menuju rak paling belakang. “Kalau mereka masuk, kita sembunyi di sini. Tapi jangan buat suara sekecil apa pun,” bisiknya.
Pintu berderit.
Sosok tinggi dengan jas dokter usang dan tubuh yang setengah hancur menyeruak masuk. Wajahnya dipenuhi bekas luka terbakar, dan hanya satu matanya yang masih berfungsi—berkedip lambat menatap ke sekeliling ruangan. Itu... Dokter Lazuardi. Atau sesuatu yang dulunya adalah dirinya.
Aira menahan napas. Sosok itu berjalan pelan, menyeret kakinya di lantai berdebu. Di tangannya tergenggam scalpel berdarah. Udara menjadi lebih dingin. Fahmi menekan tubuhnya lebih dekat ke dinding saat sosok itu berhenti hanya dua meter dari tempat mereka bersembunyi.
Rak di belakang mereka berderak pelan karena berat beban yang tidak seimbang, membuat Aira nyaris menjerit. Ia menahan napas, menahan tubuh agar tidak bergerak sejengkal pun. Suara detak jarum jam tua di sudut ruang arsip terdengar seperti bom waktu yang menghitung mundur menuju bencana.
Mendadak...
Terdengar suara alarm dari lantai atas. Bunyi itu memekakkan telinga, membelah ketegangan. Sosok Lazuardi berpaling seketika dan berbalik arah. Langkah-langkahnya meninggalkan ruang arsip, menuju sumber gangguan. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Aira dan Fahmi.
Mereka berlari keluar, membawa beberapa dokumen penting dan rekaman. Nafas mereka memburu. Tangga darurat sempit dan licin membuat mereka nyaris tergelincir. Cahaya lampu neon di langit-langit lorong bergetar dan berkedip seperti lampu tua yang hampir mati. Tiap langkah yang mereka ambil memantul dalam gaung panjang di sepanjang dinding beton.
Saat akhirnya tiba di koridor utama lantai dua, mereka disambut kerlap-kerlip lampu yang berkedip liar dan suara tangis yang menggema dari dinding. Dinding koridor penuh dengan coretan tangan berdarah dan potongan kain perban yang tergantung seperti dekorasi rumah sakit gila.
“Ke ruang komputer. Kita upload semua file ini sebelum mereka tahu,” seru Fahmi.
Aira mengangguk dan mengikuti Fahmi melewati lorong ICU yang kini kosong. Ruangan yang biasanya penuh kehidupan kini bagai makam. Suara-suara berdesir seperti bisikan terdengar dari balik tirai-tirai tempat tidur. Di salah satu bilik, Aira melihat bayangan seorang anak kecil duduk membelakanginya.
Tapi bayangan itu... tidak memiliki kepala.
Mereka tidak berhenti. Setiap langkah terasa seperti bertaruh dengan kematian. Di ruang komputer, Fahmi menyambungkan harddisk dan mulai mengunggah dokumen ke server eksternal. “Kita butuh waktu sekitar lima menit,” katanya.
Sementara itu, Aira berjaga di pintu. Di luar, lorong tampak lebih gelap dari sebelumnya, seperti ada kabut hitam yang merambat di sepanjang langit-langit. Suara langkah mulai terdengar lagi. Kali ini... lebih dari satu. Dari arah berlawanan, dua sosok perawat dengan wajah pucat tanpa mata muncul. Mereka melayang, tidak berjalan. Kepala mereka berputar perlahan seperti boneka rusak.
Aira menjerit, “Cepat Fahmi! Mereka datang!”
Fahmi menekan enter. “Selesai! Ayo—ke ruang atap!”
Mereka berlari ke tangga menuju atap. Namun saat membuka pintu darurat, sosok tinggi lain menunggu di sana.
Suster Sumi.
Dia tersenyum. Tapi senyum itu terlalu lebar, terlalu dalam. Mulutnya seolah membelah wajahnya hingga ke telinga. Matanya kosong seperti lubang hitam yang menyedot semua keberanian Aira.
“Kalian tidak seharusnya tahu,” katanya, suara bergema seperti dari dasar sumur.
Fahmi mundur, menarik Aira. Tapi Suster Sumi bergerak terlalu cepat. Dia melayang ke arah mereka, dan sekejap kemudian, semuanya menjadi gelap.
---
Aira terbangun di ruangan yang berbeda. Dinding-dindingnya putih, terlalu putih. Lampu neon menyala tanpa suara. Tak ada jendela. Ia berbaring di ranjang logam dengan sabuk pengaman di pergelangan tangan dan kakinya. Monitor di samping tempat tidur menunjukkan detak jantungnya.
Fahmi tak ada.
Pintu terbuka. Masuklah Dokter Lazuardi—kini tampak lebih muda, bersih, dan rapi, seperti bukan makhluk yang ia lihat sebelumnya.
“Kau akhirnya kembali sadar,” katanya pelan. “Selamat datang kembali, Subjek ECHO-07.”
Aira mencoba meronta. “Di mana Fahmi?! Apa yang kalian lakukan padanya?”
Dokter Lazuardi hanya menatapnya. “Dia masih hidup, untuk sekarang. Tapi kamu... kamu spesial, Aira. Hanya kamu yang bisa membuka jalur komunikasi ke entitas dimensi keempat.”
“Ini gila... aku bukan alat kalian!”
“Bukan, kamu bukan alat. Kamu kunci,” bisik Lazuardi. “Dan sebentar lagi, semuanya akan dimulai kembali.”
Lazuardi meninggalkan ruangan, dan lampu redup perlahan. Aira memandang ke atas, ke langit-langit yang mulai berubah... menjadi seperti permukaan air yang beriak. Bayangan wajah-wajah tak dikenal muncul dari atas, seolah mengamati dari balik dimensi lain.
Di kejauhan, terdengar suara Fahmi memanggil. Lemah. “Aira... tolong...”
Aira memejamkan mata. Dalam keheningan, ia mulai mendengar suara lain—suara-suara yang mengajak, membisikkan nama-nama lama, dan menyebut satu kalimat berulang kali:
“Kau harus kembali... ke asalmu.”
Tubuhnya kembali bergetar. Jantungnya berdetak begitu keras hingga rasanya memukul-mukul dinding dadanya. Ia mencium bau logam menyengat dari respirator di dinding, dan samar-samar melihat sesuatu di balik cermin kecil yang tergantung di sudut ruangan. Bayangan seseorang berdiri di sana, namun tidak pernah benar-benar tampak jelas.
Dalam detik-detik yang terasa abadi, Aira mendengar langkah mendekat lagi. Bukan langkah manusia biasa—itu seperti bunyi kerangka yang diseret. Setiap bunyi menciptakan gema yang menyayat. Ia ingin berteriak, namun tenggorokannya terkunci.
Di monitor, detak jantungnya meningkat. Mesin berdetik cepat, seolah menyuarakan kepanikan yang tak bisa ia ucapkan. Di luar pintu, bayangan kembali muncul. Kali ini lebih besar, lebih gelap, dan bergetar seperti kabut hitam yang hidup.
Lalu, dunia kembali runtuh dalam cahaya menyilaukan
Suara detak jam terdengar seperti ketukan palu di dalam kepala Aira. Ia terbangun dengan napas terengah, matanya mencari-cari cahaya di dalam kamar kost sempitnya. Semua terasa asing dan sunyi. Cahaya pagi menembus tirai jendela, memantulkan bayangan pepohonan ke dinding seperti siluet tubuh-tubuh yang menatap.
Ia masih bisa mendengar suara Lazuardi menggema di kepalanya: *Subjek ECHO-07.*
Dengan tangan gemetar, Aira meraih ponsel di meja samping tempat tidur. Jam menunjukkan pukul 07.14 pagi. Tidak ada pesan dari Fahmi.
“Aku... kembali?” gumamnya lirih. Tapi kenapa semuanya terasa salah?
Ia berdiri, langkahnya goyah. Di meja belajar, berkas laporan magang masih tergeletak seperti biasa. Tapi di sudut meja, ada sesuatu yang baru—amplop putih tanpa nama pengirim. Saat dibuka, isinya adalah selembar surat penugasan: **Pasien 113 – RS Mulya Sejahtera.**
Aira terdiam. Tangan kirinya mulai gemetar tanpa sebab.
—Bab 10 Tamat—