Tidak tahu bagaimana resiko kedepan aku telah siap akan segalanya, akan aku terjang semuanya sendiri dan tak ingin satupun manusia masuk kembali ke hidupku baik itu pria maupun wanita. Sebenarnya banyak sekali luka yang tak bisa di deskripsikan dengan jelas, aku tidak ingin manusia lain mengetahui bahwa aku adalah manusia rapuh.
Menjalani aktivitas seperti biasa membuatku muak dengan semuanya, aku memperhatikan satu persatu manusia di kelasku yang penuh drama, ada yang pura-pura akrab karena mencari teman, ada yang diam karena tidak di ajak bicara, ada yang di jauhkan karena tidak bisa apa-apa.
“Rayna kita ke kantin ayok!” Pintah seorang wanita di sampingku dengan senyum ramah.
Aku tak menanggapinya dan fokus ke buku bacaan yang selalu ku bawa kemana-mana.
“Rayna apa tidak mau?’ Tanya teman sebelahnya.
“Sepertinya tidak, apa dia tidak mendengar ya?”.
“Coba tanya lagi!”.
“Rayna, apa kau tidak ingin ke kantin?”
Aku menatap wanita sedari tadi mengusik ketenanganku dengan tatapan tajam membuatnya tak berkutik. Tanpa ekspresi aku berdiri dan pergi dari kelas mencari tempat sepi.
“Ada apa dengannya?” Tanyanya, wanita itu bernama Mutiara dan Yora.
“Aku juga tidak tahu, tapi dari kemarin dia memang seperti itu!” jawabnya.
Aku duduk di belakang kelas sembari menatap danau berwarna hitam pekat dengan ketenangan yang nyata, aku menarik nafas dalam menunjukkan keadaan seperti ini begitu nyaman dan tenang. Aku kembali membuka buku bacaan sebagai pembantu agar manusia-manusia berisik itu tidak menganggu, aku tidak menyangka akhirnya seperti ini rasanya aneh tapi nyaman dengan tidak ada manusia yang ada di sekitar maka kecil kesempatan untuk kecewa.
Brakkkkk....
sesuatu menabrak, aku tetap fokus ke buku bacaan tanpa ingin memperdulikan apa yang telah terjadi.
“Jesi kau terluka kau tidak boleh terbang jauh!” jelasnya mengelus seekor burung yang terlihat luka di sayapnya.
“Bibi, apa kau tahu obat sayap burung patah?” Tanyanya menatapku dengan mata memelas.
Aku benci dengan anak kecil yang banyak menuntut dan selalu ingin di arahkan, mata memelas itu membuatku muak meskipun aku tidak memandangnya dengan jelas sebab itu sangat menganggu dan ingin ku singkirkan secepat mungkin.
“bibi apa kau tidak bisa bicaranya?” Tanyanya lagi.
“Bagaimana ini Jesi, paman pasti tidak mengizinkan ku membawamu kerumah!”.
Aku kembali mengacuhkannya tetap fokus membaca buku.
“Ternyata bibi tidak bisa berbicara” jelasnya merebut buku bacaan dengan memintahku memandangnya. “Bibi apa kau tidak mendengar ku?”.
Aku menatap anak kecil berusia sekitar 4 tahun itu dengan tajam membuat ia bergidik ngeri, lalu memegang burung yang bernama Jessi itu “Kau ingin tahu apa obatnya?” Tanyaku tersenyum sinis lalu mematahkan kedua sayap burung itu dan menginjaknya sehingga ia mati.
“Tidak! Jesi..... huaaaaa” Teriaknya menangis lalu beranjak pergi.
Aku tersenyum sinis melihat burung tergeletak tak bernyawa, ini adalah mangsa pertamaku untuk sesuatu yang mengganggu. “Bukankah sesuatu yang sakit harus di lenyapkan!”.