Dari keadaan yang menimpahku, aku mengubah cara pandangan terhadap segala hal. Ternyata manusia benar-benar jahat terhadap orang lemah tanpa pembelaan ini, tanpa jabatan, uang, harta dan tahta orang tua. Selalu di remehkan dan di ragukan bahkan di anggap terbuang, selalu di tinggalkan di acuh dan benalu yang tak bermanfaat.
Aku memutuskan pergi dari rumah bibik untuk menyelamatkan fisik dan batin yang luka dan tak bisa terselamatkan. Aku tidak menjamin setelah ini aku hidup baik-baik saja, semuanya tak bisa ku percaya bahkan orang terdekat yang aku percayai sepenuh hati pun telah membuang dengan dahsyat layaknya sampah.
“Kenapa kau ingin pergi dari sini Ray, apa kau tidak memikirkan ayah mu?.”
“dia itu ingin bebas keluyuran, kalau disini kan tidak bisa. Mungkin tidak akan selesai kuliah jika begitulah Rayna.”
“dimana saja tempatmu, jika selalu seperti ini tidak ada yang betah. Pemalas, tidak mendengar kata orang tua, pembohong juga.”
Begitulah ucapan bibik dan anak perempuan keduanya menatapku tajam.
“Apa aku pemalas selama ini?.” Tanyaku tanpa ekspresi menatap bibik.
“sudah berani melawan kau Rayna, sadar tidak jika bukan ibuku kau itu sudah terbuang sejak kecil. Makanya sadar diri, sudah tidak punya siapa-siapa sok melawan!”.
“kau tauh Rayna, jika bukan bibikmu ini kau tidak akan sebesar sekarang.”
“Apa karena aku terbuang kalian bisa semena-mena, karena tidak ada yang membelaku.?” Tanyaku lagi.
Parkkkkkk... Anak bibik menamparku dengan emosi. “Kau jangan berani-berani ya, dasar anak tidak tauh terimakasih sudah di bantu mala melunjak!.”
“hahaha, apa kalian sadar kalian bukan membantuku tapi membawaku ke jurang penderitaan yang luar biasa, apa kalian sadar perlakuan kalian tidak pantas di sebut manusia!.” tawaku dalam luka yang luar biasa.
“Tidak sadar diri, pergilah kau juga tidak ada manfaatnya di rumah ini. Anggap saja selama ini kami menolong anjing terjepit!.” Jelas bibik menatapku tak suka.
Tanpa mendengar apa yang membuatku sakit, aku membereskan barang-barang karena cargo pengangkut barang telah tiba di teras. Tampaknya hati ini tak bisa merasakan apa-apa lagi, rasa bahagia, sedih, tenang, hampa hilang seketika. rasanya hidup karena tidak bisa mati. Apa ini namanya mati rasa terhadap segala hal?.
Aku menatap jalan raya kian berlalu lalang dengan kendaraan seraya memeluk tas. “Janji layaknya sebuah tisu, jika tak berguna lalu di buang!.” benakku tersenyum tidak mengerti.