Aku kembali fokus ke bacaan dengan ekspresi dingin dan tak ingin ada yang mengganggu ketenanganku.
“Permisi, apa benar kau telah membunuh Jesi ah maksudku burung merpati keponakanku” Tanya seseorang membuatku tambah kesal, bagaimana mungkin hama-hama berdatangan tak henti.
Aku tidak menanggapinya dan harap dia mengerti karena bangkai burung itu masih tergeletak di ujung sana.
“Bibi ini yang mematahkan sayapnya paman lalu menginjakkan kepala Jesi hua,,.” Tangis anak itu kembali terdengar olehku.
“Yasudah, nanti beli burung baru saja ya Farhan. Sepertinya Jesi juga sudah lelah sakit-sakit!” jelasnya menenangkan anak kecil itu.
“Saya tidak minta ganti rugi, tapi saya ingin kau minta maaf dengan keponakanku, karena burung itu sangat penting baginya!” pinta nya menatapku yang masih fokus dengan buku.
Aku memandang pria itu dengan sinis dan tajam, aku berdiri dan beranjak pergi dari tempat yang aku anggap nyaman tadi berubah menjadi berisik dengan hama-hama tak bermanfaat.
“Hei, apa kau tak punya atittude?” Tanyanya membuatku berhenti sejenak lalu melanjutkan perjalanan.
“Farhan, nanti paman belikan burung yang baru ya sayang!” jelasnya menenangkan keponakannya.
Aku menuju pulang menelusuri jalan serta fokus dengan buku dan headset selalu setia di telinga, sengaja aku tampakkan tali headset agar orang tidak menganggu meskipun headset itu tidak berfungsi untuk musik. Ya, itu caraku menghindari manusia yang ingin menganggu. Setiba aku di tempat tinggal sekarang, telah terlihat ayah menunggu di teras tampak ia akan marah besar terhadap keputusanku.
“Apa-apan ini Rayna, apa kau tahu karena ulahmu seperti ini membuat ayah pusing!” Teriak ayah pertama kalinya membentak dengan keras.
“Apa bibi mengatakan yang tidak-tidak?” Tanyaku datar tanpa menatap ayah.
“Cobalah nak, mengerti sedikit saja keadaan ayah. Kau tauh ayah menitipkanmu dengan bibik karena kebaikanmu Rayna!” Jelas Ayah.
“Apa sejauh ini aku tidak mengertikan Ayah? Kebaikan apa yah, mereka tidak pernah menganggapku saudara mereka selalu menjatuhkan mentalku!” jawabku.
“Rayna
hidup bukan hanya tentang sedih bahagia saja, kau tauh dunia luar begitu kejam, ayah tidak percaya kau sendiri dan ayah minta kau kembali ke rumah bibi!”.
“Sejak kapan ayah peduli dengan kesendirianku, bukankah ayah bersamaku selama tiga tahun ini sebelum itu aku selalu sendiri bukan?”.
“Rayna dengar ayah, semua ini demi kebaikanmu. Ayah tidak selalu bisa mengawasimu disini, jika kau dengan bibimu dia bisa menempatkanmu ke lebih baik lagi”.
“Aku tidak mau!” Jawabku.
“Rayna, cobalah sedikit saja kau mengerti keadaan ayah sekarang ini. Apa kau tauh ibumu di rumah pusing dengan keadaanmu!”.
“hahaha, apa pentingnya ibu bagiku?” tanyaku menatap ayah dengan mata berapi-api.