Bagiku ini benar-benar menyiksa kenapa begitu sulitnya mengenal orang baru, rasa menghabiskan setengah tenaga. Aku menatap diri ke cermin menatap betapa menyedihkan hidup ini, kenapa begitu rapuh hanya karena satu orang telah membuang ku, bukankah dari kecil sudah terbuang, terabaikan dan tak pernah ada di mata orang serta menganggap tidak penting.
Terasa seseorang membenciku, membenci karena hal sepele atau tanpa penyebab. Pikiran ini selalu bertengkar hebat di kepala ketika berusaha berinteraksi dengan orang baru ataupun orang yang ingin aku dekati dan masuk ke hidup ini, aku selalu dipatahkan dengan pikiran ku sendiri bahwasanya orang lain tidak ingin menerima dan membenci kekuranganku.
Aku tidak akan selalu berada di sekitar orang yang sama, bagaimana jika berkeluarga nanti? Ah sudah pasti mau tidak mau harus berinteraksi baik dengan keluarganya, sementara disisi ini begitu menghambat dan membuat batin tertekan takut akan pandangan orang lain buruk terhadapku. Bagaimana jika ada acara keluarga, bagaimana aku menanganinya?.
Hal sepele dari nada bicara atau tatapan mata itu sudah berhasil memporak-porandakan pikiranku, kenapa dia menatapku begitu? Kenapa nada bicaranya terkesan dingin dan cuek? Hingga pada akhirnya aku overthinking dan takut beradaptasi lebih dari itu. Perasaan semacam ini nyaris membuatku tidak memiliki banyak teman atau kerabat. Bukan karena apa, aku terlalu takut tidak di terima, aku takut kekuranganku membuat mereka menolak atau bahkan aku tidak lebih baik diizinkan dekat dengan mereka.
Sepulang dari kuliah menguras tenaga, aku tidak bisa menenangkan pikiran agar kembali dayaku yang telah hilang. Aku harus berperang dengan keadaan menambah beban pikiran yang telah runyam, di satu sisi aku ingin pindah dari sini memulai kehidupan baru dengan memanajemen waktu dan keuangan sendiri meskipun tidak bisa menghasilkan uang jika tidak di beri ayahku.
Ada benarnya kata-kata orang hebat terlebih dahulu hidup tanpa kebebasan bagaikan terjerat penjara tak berkunci, kebebasan dalam ekspresi dan dalam keinginan. Disini aku tidak bisa memilih apa yang aku sukai, apa yang aku butuhkan dan apa yang pantas aku lakukan, semua telah di atur dengan landasan mengikuti orang tuan rumah. Apa aku hanya benalu di mata mereka?.
Selang waktu kosong aku membuka handphone membuka aplikasi watshapp barang kali ada berita penting dari kampus, namun suatu hal yang tidak bisa aku percayai teman sekolah dasar ku mengirim postingan terbaru Reynal di aplikasi i********:. Seketika jantung ini terasa berhenti berdetak melihat kebahagiaan orang yang amat aku sayangi dan cintai bersama wanita lain, aku tidak bisa membohongi rasa air mata jatuh tanpa aku minta.
“Jadi ini alasanmu membuang ku!” benakku memeluk luka yang tak bisa aku deskripsikan.
Lama aku berdiam di depan pintu belakang memandang langit yang telah memerah, rasanya benar-benar tidak adil. Ini menyiksa psikologis dan fisik, harus bagaimana aku setelah ini, tidak ada satupun yang ingin mendengar ku?.
“Kenapa kau kurus sekali sekarang Rayna, apa kau sedang mengandung?” Tanya kakak pertama anak dari bibi ku. “Kurus kau itu tidak seperti kurus lainnya!”
Rasanya bagaikan tersayat sembilu, apa mereka tidak berpikir dengan tindakkan mereka membuatku membantin setiap hari, tuduhan ini membuat tambah merasa diri ini rendah, tidak sedikit yang mengatakan yang mengenalku bahwa diri ini tambah kurus dan tidak seperti dahulu.
“Entah Rayna, nanti diam-diam memalukan katanya kuliah di tempat agama!” sambung bibi menghakimi bahwa kuliah di tempatku adalah sekolah rendah.
“Anak UIN katanya tapi tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk, disana kan tempat orang-orang miskin jadi pantaslah!” jelas kakak pertama anak dari bibi.
Aku hanya diam dan menerima apa yang mereka katakan, biarpun aku menjelaskan apa yang aku rasakan mereka tak akan memahami dan mendengarnya. Sekuat apapun aku membela diri, itu tidak punya arti dimata mereka. Lelah pikiran dan batin membuat tak semangat dalam segala hal apa yang aku sukai dahulu yang seharusnya aku terfokus ke masa depan dan berprogres untuk kedepannya. Aku tidak boleh lengah dengan rasa luka, masih banyak hal yang ingin aku kejar dan impianku adalah menjadi lebih bahagia di suatu hari nanti, namun untuk saat ini aku tidak bisa berbohong aku hanya butuh di hargai dan diperlakukan dengan baik.
-
“Kita tida bisa memaksa orang lain untuk paham dengan keinginan kita, perasaan kita, apa yang kita benci dan apa yang kita sukai. Pada akhirnya kita akan sendiri di temani angin malam yang tak mengecewakan. Apakah masih percaya dengan kata ‘Aku akan selalu ada untukmu?’
Rena Andesta