“setelah ini ajaklah ponaanmu main kedepan, jangan diam saja di rumah!” pintah bibiku, yaitu kakak dari ayahku memberikan ponaan yang belum genap satu tahun.
Bagaimana tidak ingin menangis, padahal aku baru saja duduk setelah masak. Namun tidak apa, aku adalah orang yang kuat nan tangguh tidak bisa lelah dan sakit sebab jika mengeluh pasti mereka menganggapku malas dan tidak berguna.
Drama pagi hari seperti biasa aku lakukan, bangun sebelum subuh untuk menunaikan kewajiban sebagai umat muslim yaitu solat. Tidak bisa di bohongi mata bengkak menangisi keadaan yang ada, lelah fisik dan batin, bangun setelah putus atau orang yang kita cintai telah pergi rasanya hidup namun tak ada arti terdengar begitu lebai tapi itulah kenyataannya. Aku masih tidak habis pikir ini terjadi, setelah solat subuh aku membuka handphone sebentar untuk mengecek pesan berharap bahwa apa yang Reynal katakan kemarin hanya bercanda namun yang aku dapati hanya kecewa, rasanya begitu hampa dan ada yang hilang seperti ditinggalkan untuk selamanya.
“Apa aku minta jangan putus ya?” benakku bertanya-tanya pada diri sendiri. “Ini benar-benar tidak enak, kenapa dia tega seperti ini!”
Belum sempat menghubunginya via watshapp, bibik selesai selesai solat, maka drama perdapuran akan dimulai. Ya aku membantunya masak, menyapu, mengepel dan mencuci pakaian anak-anaknya yang kebetulan berkerja setiap hari jadi tidak ada waktu untuk beberes rumah. Aku tergolong anak yang ringan tangan jika di rumah orang, tanpa di minta pun aku pasti melakukannya namun jika yang aku kerjakan selalu di komplain atau di komentar dan merasa pekerjaanku tidak benar maka aku begitu tertekan melakukannya.
Namun di rumah ini tidak ada rasa semangat yang aku dapati, sebab disini aku merasa tidak di perlakukan dengan wajar baik dari bibiku maupun dari anak-anaknya, mereka sering mempermalukan di depan umum bahkan tidak ragu mengatakan jika bukan karenanya aku tidak akan hidup, kata-kata itu begitu nusuk di hati. Semenjak diam disini aku menjadi manusia tidak percaya diri dan merasa tidak ada yang mau menerima keadaanku yang serba kekurangan serta fisik jauh di bawah standar, ternyata lingkungan sangat mempengaruhi cara berpikir dan tingkah laku kita.
“siapa sih mau sama Reyna, sudah jelek pemalas lagi!”
“kami menyuruh kamu disini untuk bantu-bantu, bukan malah merepotkan ibu kami”
“orang bodoh, makanya kata orang di dengar dahulu sok-sok pula”
“orang tua tidak mampu sok-sok mau kuliah, sadar diri kamu itu sudah tidak punya ibu. Jika tidak ada kami siapa lagi yang mau memikirkan mu”
Kata-kata itu sering sekali aku dengar dari bibik dan anak-anaknya, aku yang dulu beranggapan bahwa bibik menyayangiku seperti menyayangi anaknya yang selalu ia bicarakan di depan ayahku. Ayah andai kau tahu bagaimana batinku saat ini, rasanya semua telah hancur. Aku yang mudah tersinggung dan semua di masukkan dalam hati dan aku yang tidak bisa bercanda dalam segala hal seperti belum mampu menghadapi dunia dewasa.
Sekitar pukul sembilan pagi aku pergi ke kampus dengan mata kuliah Studi Islam, sebenarnya aku adalah orang ambis meskipun jurusan ini tidak seperti yang aku inginkan, aku yakin di luar sana masih banyak yang ingin di posisi ini merasakan duduk di dunia perkuliahan yang fake. Di kelasku berjumlah dua lima orang lima laki-laki dan dua puluh perempuan dan satupun aku tidak memiliki teman akrab sekedar memberi informasi tentang perkuliahan, ya cukup sulit bagiku untuk mengakrabkan diri di lingkungan baru apalagi dengan nuasa berbeda sekali.
Di kelas hampir semua wanita menggunakan pakaian menonjolkan bahwa mereka adalah anak kampus islam berbeda jauh denganku masih menggunakan rok biasa, baju ngepres dan berjilbab pendek harga dua puluh ribuan, aku menertawakan diriku sendiri karena telah tersesat di jalan yang benar. Namun aku begitu nyaman dengan pakaian ini rasanya rileks dan tidak ribet di bandingkan mereka dengan serba-serbi panjang dan tertutup.
“Rayna asal mana?” tanya seorang kepadaku.
“Bengkulu!” jawabku singkat tanpa ekspresi.
“oh, alumni mana?” tanyanya lagi.
“umum!” jawabku
“sama dong, merasa aneh tidak sih” tawanya ramah.
“ya begitulah!” jawabku tak berperasaan.
Ah ingin sekali aku katakan, bahwa aku ingin ramah pada orang-orang namun sulit sekali untuk di ungkapkan. Rasanya tidak ada yang benar-benar ingin berteman denganku, sejauh ini aku selalu sendiri dan tidak membuka ruang orang untuk masuk kehidupan ini, ada rasa tersendiri membuatku tidak mempercayai siapapun.
Selama jam perkuliahan aku selalu fokus dengan handphone, berharap ada notif seperti biasanya memberi semangat untuk maju, jangan insecure, dan mengatakan bahwa aku spesial dan anak hebat. Lagi-lagi aku masih begitu kecewa dengan keputusan Reynal yang mendadak dan sebelah pihak, aku membuka kamera melihat wajah penuh dengan jerawat dan tak terawat ini.
“apa karena aku tidak cantik, membuat ia tidak nyaman?” benakku merasa bahwa selama ini aku tidak memperhatikan penampilan.
Pikiranku belum dewasa belum terpikirkan bagaimana kedepannya, bagaimana seharusnya melangkah bahwa apa yang aku sukai tidak selamanya baik untukku. Namun di hati kecil ini selalu beranggapan kedepannya pasti bahagia dan bisa menjadi apa yang aku inginkan tanpa mengetahui bahwa dunia dewasa tidaklah menyenangkan, lalu apakah aku harus balik ke dunia kekanakan? Ah itu lebih menyakitkan bahkan disana tak satupun aku temui titik kebahagiaan.
Jujur saja melihat teman kelasku menggunakan pakaian layaknya mahasiswa membuatku insecure entah itu dari titik kebahagian atau dari paras, rasanya saat ini aku kurang dari segala hal membuatku merasa rendah dan tak ingin membuka diri. Aku keluar kelas menuju toilet dengan pandangan menunduk terasa begitu malu dan tak ada yang ingin menerimaku.
“Rayna?” panggil seseorang dengan ramah.
“Iya?” jawabku dengan datar.
“hei aku Septi temanmu baru masuk kemarin, juga alumni umum . By the way kita dari kabupaten yang sama” jelasnya.
“oh kamu!” jelasku tersenyum di balik masker yang sekarang lagi maraknya covid nineteen.
“kamu dapat kelas apa?” tanyanya lagi.
“aku kelas B, dan kamu?” tanyaku berpura-pura ramah.
“kita tidak sekelas, aku kelas A” jawabnya bernada sedih. “Main ketempatku ya!”
“sayang sekali, iya lain kali aku main ya.” jelasku “aku duluan ya, mau ke toilet!.”
“Dewasa soal keputusan dan tindakkan serta resiko yang di ambil, tidak tahu bagaimana kedepannya kau harus dapat di percaya. Jika tidak, kau terus menghindar dari apa membuatmu berprogres!”
Rena Andesta