“Rumah” adalah sebuah kata yang tak bisa aku deskripsikan dengan jelas bagaimana sedih bahagianya dalam lingkungan itu. Hidup berjalan layaknya arus namun aku tidak bisa menikmatinya dengan tenang, tekanan kiri kanan telah menunggu untuk menguatkan mental setipis tisu. Lalu apa yang membuat kuat selama dua puluh dua tahun ini? Ah sudah jelas ambisi untuk dihargai dan tidak selalu di rendahkan begitu saja oleh lingkungan yang menganggap diri ini hanya benalu malang yang tak punya tumpuan untuk hidup.
Ayah aku tahu di posisimu tidaklah mudah harus menghadapi takdir yang menurutku terlalu kejam untukmu yang serba dilakukan orang tua, aku tidak menyalahkanmu kenapa kenyataanku begini karena aku tahu ini bukan keinginanmu melainkan cara Allah memilihkan manusia pilihan untuk kuat. Namun, suatu ketika aku melihat persawahan, pergunungan dan hutan yang rindang aku selalu mengingat keluarga kecil kita yang bahagia di 15 tahun yang lalu dan lagi-lagi di hati tidak bisa berbohong hati ini rapuh serapuhnya dan tidak tahu bagaimana melanjutkan planning indah yang telah kita susun seindah mungkin.
Kata maaf dan diam adalah caraku menghadapi lingkungan yang selalu memintaku kuat dan mengerti mereka, aku benar tidak bisa mengatakan aku lelah, aku sakit, dan aku tidak suka perlakuan dan tindakan kalian terhadapku. Aku juga ingin di dengar dan di mengerti serta dihargai, namun sepertinya menjadi anak piatu sepertiku tidak berlaku seperti itu jika tidak aku yang melakukannya siapa lagi? Sejatinya tidak ada yang benar-benar peduli terhadapmu, sedihmu, bahagiamu dan depresinya kamu dalam menghadapi kehidupan, semua orang akan peduli terhadapmu jika kamu menguntungkan. Begitulah perspektifku dalam menghadapi kehidupan.
Kesendirian adalah hal biasa yang aku rasakan berteman dengan buku non fiksi yang menyenangkan, aku begitu menyukai hal-hal yang berbau kesunyian, taramnya cahaya dan berdiam diri di kamar salah satu contohnya. Ya, sejak dulu aku dianggap manusia introvert mempunyai kehidupan sendiri, aku tidak perlu mengajak orang lain untuk mengobrol aku bisa mengajak diriku sendiri berdiskusi dengan menikmati me time dengan tenang, aku juga tidak takut pergi makan, nonton, dan berpergian sendiri karena aku bisa mengandalkan diriku sendiri. Lalu apakah aku tidak punya teman? Ah sayangnya sejauh ini aku tidak pernah menganggap orang-orang yang hadir di hidupku sebagai teman sebab mereka suatu waktu pasti mengecewakan dan meninggalkan aku sendirian kembali, entah faktor inner childku terluka ataukah aku terlalu sering di tinggalkan sehingga aku tak dapat mempercayai orang lain kecuali diriku.
Begitulah kehidupan datar yang berisi luka dan depresinya aku menghadapi keadaan yang tak pernah berpihak padwsaku, oh iya namaku Rayna Magdalegna Ahmad, mahasiswa Pendidikan Agama Islam di salah satu Universitas Islam di kotaku yaitu Kota Bengkulu. Mungkin terdengar keren sekali, aku masuk Universitas Islam impian banyak orang karena masuk disini tergolong sulit. Namun siapa sangka bagaimana tertekannya aku masuk ke tempat yang bukan bassicku sama sekali, aku siswa umum dari SD sampai SMA anti sekali masuk sekolah bernuansakan Agama. Lagi-lagi aku tidak bisa memilih apa yang aku suka dan apa yang aku inginkan bahkan masa depanku saja telah di atur oleh orang satu-satunya yang aku punya di dunia ini yang mungkin tidak akan meninggalkan dalam keadaan apapun yaitu ayahku Rahman Ahmad.
Masuk ke Universitas Islam sangat mengubah pandanganku, apalagi di jurusan yang aku ambil yang titlenya begitu mendalami Agama dan alumni sekolah bernuansa islam, tahun pertama di perkuliahan terasa begitu berat bagiku rasanya sehari bagaikan sebulan sebulan bagaikan setahun, mata kuliah yang aku idam-idamkan di Menengah Atas kemarin menjadi buyar dengan pembelajaran agama yang sangat sulit bagiku.
“Ayah, kenapa disini begitu sulit. Rasanya aku begitu tertekan” benakku sembari melamun di kursi pojok sedangkan teman-teman kelasku fokus ke pembahasan dosen menjelaskan di depan.
Dahulu aku ingin menjadi ahli sastra dengan inspirasi yang aku tulis serta ingin berkeliling dunia sembari menyenangkan diri sendiri, namun keinginan itu di tolak mentah-mentah oleh ayahku karena di cap dengan menulis tidak akan sukses dan tidak berguna. Bahkan tidak satupun yang mendukung keinginanku kecuali orang yang selalu ada untukku yaitu kekasihku, manusia yang selalu ada dan mendukung serta tidak pernah merendahkanku seperti keluargaku yang memandang sebelah mata. Dia adalah Reynaldi Harmar, kami telah menjalin hubungan selama sembilan tahun dan berkomitmen ditahun dua ribu lima belas awal masuk sekolah menengah pertama.
Telepon berdering ditengah antusiasnya waktu pulang. “Iya, aku menuju pulang!” responku seadanya.
“Aku di arah kampusmu, boleh kita bicara sebentar!” Pintahnya.
“baiklah, tempatnya jangan yang rame ya!” tegasku.
“baiklah, aku akan menentukan tempatnya!” jelasnya dengan tenang.
Begitulah pembicaraan kami yang tidak begitu spesial, mungkin karena lama menjalin hubungan sehingga kata manispun jarang sekali terucap. Banyak yang mengatakan jika ingin mengetahui orang tulus maka bersamalah dengan orang introvert maka kamu akan tahu bagaimana dia mencintai dengan hebatnya bahkan mencintaimu lebih dari dirinya sendiri, seketika aku bangga menjadi manusia introvert yang selalu serius dalam menghadapi keadaan.
Aku pergi ketempat yang telah Reynal tentukan yaitu sebuah cafe yang menurutku cocok untuk manusia sepertiku, cahaya tamaram dan estetik istagramnable. Seperti biasa aku tersenyum tenang mengucapkan selamat siang dengannya aku tidak takut tidak di terima aku juga tidak minder bahwa aku adalah wanita terburuk disisinya.
“maaf agak telat!” jelasku duduk di depannya.
“kau ingin makan apa?” tanyanya dengan datar, setelah aku melihat ekspresi itu sepertinya ada hal penting yang ingin ia sampaikan.
“aku hanya ingin air putih saja, katakan apa yang ingin kau sampaikan!” tegasku seolah tahu apa yang terjadi padanya.
“apa kau sudah tahu tentangku?” tanyanya dengan membidik penasaran.
“oh ya sebelumnya aku ingin bercerita untuk hari ini begitu berat aku jalani, entah kenapa terasa sekali salah jurusannya” Jelasku tanpa menjawab pertanyaannya, menurutku tidak ada yang tidak aku ketahui tentangnya.
“Rey!” panggilnya menatapku tidak seperti biasa.
“Rey?” ulangku agak terkejut sebab itu panggilan begitu asing . “Apa yang terjadi?”
“sepertinya aku tidak bisa mendengar ceritamu lagi, sekarang aku sudah membuka mataku dengan indah untuk masa depan. Aku yakin dan percaya kau bisa tanpa aku, keputusan ini telah lama aku pikir bahkan beberapa bulan ini aku merasa kita sudah tak sejalan lagi!” jelasnya dengan tenang seraya meneguk air putih yang telah di sediakan.
“apa sembilan tahun ini tidak membuka matamu untuk masa depan sehingga kau mengatakan kita tak sejalan lagi?” Tanyaku tenang meskipun di benak ini rasa gemuruh dan getaran tak karuan rasanya ini adalah suatu badai dahsyat yang tak pernah aku bayangkan selama ini. “Apa kau telah menemukan wanita yang membuka matamu?”.
“Rey di dunia ini ada banyak hal yang tak bisa di paksakan, ya salah satunya kenyamanan. Kamu baik, pengertian, dan dewasa aku yakin tidak susah untukmu menemukan manusia baik kecuali aku!” jawabnya .
“ah iya Nal, aku harap tidak ada kisah kita lagi setelah ini sebab kaulah yang memintahnya seperti ini. Terimakasih ya, aku tidak bisa juga menahanmu inilah jalan yang kau inginkan!” tegasku dengan senyum semanis mungkin. Aku minum air putih dengan tenang. “Ah iya, aku masih ada urusan semoga baik-baik saja ya!”.
“Terimakasih ya telah mau mengerti, aku mintak maaf dan terimakasih juga Rey” jawabnya dengan enteng seperti tidak ada rasa bersalahpun.