Januari 2018. Tarakan mendung dari pagi. Aku bangun jam 5, sholat subuh di kamar. Sejak Bapak sembuh, aku jadi rajin. Bukan karena takut mati. Karena ngerti rasanya hampir kehilangan.
Buka HP. Cek Indodax. Harga 1 BTC: 283.400.000.
Dadaku sesak. Asetku 0.1117 BTC. Nilainya: 31.655.780. Dari modal 1 juta. 31x lipat dalam 1,5 tahun.
Tanganku gemeter. Jual ga? Kalau jual sekarang, net worth langsung tembus 50 juta. Target 2017 yang gagal bisa kebayar. Bisa beli motor NMAX cash. Bisa traktir Maya makan di restoran mahal.
Tapi suara di kepala bunyi: "Peringatan. Dilarang All-In. Keserakahan = Minus Karma. Target jual BTC: 2021, bukan 2018."
Aku tarik napas. Tutup aplikasi. Buka buku tulis.
NET WORTH 1 JAN 2018:
1. Cash + Tabungan: 18.300.000
2. BTC 0.1117: 31.655.780
3. Laptop, HP, Stok Tas: 4.000.000
4. Total: 53.955.780
Target 2018: 150 juta. Caranya? Bukan dari BTC. Dari kerja.
Jam 7 pagi, ke pangkalan gas Pak Anwar. Gajiku naik jadi 1,2 juta karena stok sekarang rapi. Pak Anwar udah ga manggil aku "anak kemarin sore". Dia manggil "Bos Arga", becanda tapi ada hormatnya.
Jam 2 siang, ke toko Haji Usman. Gajiku fix 1,5 juta + bonus omset. Bulan Desember kemarin omset 22 juta. Bonusku 1 juta. Total dari Pak Haji: 2,5 juta.
Jam 4 sore, ketemu Maya di kafe "Sudut Kota" Sebengkok. Kafe baru, tempat anak UBT nongkrong. Kami bahas TasKita.Tarakan.
Maya buka laptop. "Ga, ini laporan 2017. Omset total 48 juta. Untung bersih 13,2 juta. Bagian kamu 5,28 juta."
Dia sodorin amplop. Aku ambil. Tebel. Pertama kalinya aku megang uang hasil keringat otak sendiri di atas 5 juta.
Maya senyum. "Tahun ini target 100 juta omset ya. Aku udah daftar workshop s****e di Balikpapan bulan depan. Kita harus masuk marketplace."
Aku angguk. "Siap, Kak."
"Kak terus. Aku cuma 1 tahun di atas kamu, Ga." Maya ketawa. "Panggil Maya aja."
Ding. Karma Tracker: "Hubungan +1. Status: Teman Bisnis -> Teman."
Pulang ke rumah, Ibu lagi goreng bakwan. Bapak nonton berita di TV tabung.
"Pak, Bu." Aku kasih amplop 5,28 juta. "Ini hasil jualan tas sama Maya."
Ibu kaget. "Ya Allah, banyak amat. Halal kan?"
Aku ketawa. "Halal, Bu. Doain aja tahun ini bisa hajiin Ibu."
Bapak nengok. "Jangan mimpi tinggi-tinggi, Ga. Jatuh sakit."
Aku diem. Bapak masih trauma miskin. Wajar.
Februari 2018. Bitcoin gila. Dari 280 juta, naik ke 320 juta cuma 2 minggu. Asetku jadi 35,7 juta. Net worth total tembus 58 juta. Aku senyum-senyum sendiri tiap malem.
Maya WA: "Ga, gila ya BTC. Kamu masih hold?"
Aku balas: "Masih, May. Target 2021."
"Gila. Mentalmu kuat."
Padahal aslinya aku takut. Tiap malem mimpi BTC jadi 0. Bangun keringetan.
Maret 2018. Bencana mulai. BTC crash. Dari 320 juta, terjun bebas ke 250 juta, 200 juta, 150 juta. Grup-grup sss rame: "BTC SCAM!", "BUBBLE PECAH!"
Akunku dari 35,7 juta, jadi 16,7 juta dalam sebulan. Hilang 19 juta. Kertas. Tapi sakitnya nyata.
Maya panik. Dia juga beli BTC Januari 2018 di harga 250 juta, 0.02 BTC = 5 juta. Sekarang tinggal 3 juta.
Dia telpon malem-malem. "Ga, jual ga? Aku takut nol."
Aku gigit bibir. Aturan LIFE v2.0: Dilarang ngasih saran finansial yang ngubah takdir orang. Kalau aku bilang "hold", dan dia rugi, Karma Minus. Kalau aku bilang "jual", dan besok naik, Karma Minus juga.
Aku jawab hati-hati: "Aku ga jual, May. Tapi itu aku. Kamu harus hitung risiko kamu sendiri. Kalau uang itu uang panas, ya amankan. Kalau uang dingin, biarin aja."
Maya diem. "Uang dingin sih. Tapi tetep ngeri."
"Ya udah. Jangan buka Indodax sebulan."
Maya nurut. Hutang emosionalku ke Maya: "Jangan jadi sebab dia rugi". Masih aman.
April 2018. BTC 90 juta. Portoku tinggal 10 juta. Dari 35 juta. Aku rugi 25 juta di atas kertas. Tapi cashflow dari kerja aman. Gaji Pak Haji + pangkalan + TasKita = 4,5 juta sebulan.
Tante Linda denger aku "rugi". Entah dari mana. Pas ketemu di pasar, dia nyindir: "Denger-denger main bitcoin ya? Hati-hati, Ga. Itu judi. Mending nabung."
Aku senyum. "Iya, Tante. Makasih udah ngingetin."
Dalam hati: "Tante tau dari mana? Pasti dari Siska." Siska anaknya, pamer terus di IG.
Hutang Diremehkan: CICIL 20%. Dia masih nyinyir, tapi udah ga frontal.
Mei 2018. Puncak ujian.
Jam 2 pagi, HP bunyi. Ucup telpon. Nangis.
"Ga! Toko... toko kebakar!"
Aku bangun. "Hah? Toko Pak Haji?"
"Iya! Cepet ke sini!"
Aku pake celana pendek, kaos, sendal. Naik motor Supra Bapak ke Sebengkok. Sampai sana, api udah padam. Damkar 2 unit. Toko Haji Usman gosong. Kaca pecah, etalase leleh, sparepart jadi abu. Rugi ratusan juta.
Pak Haji duduk di trotoar, lemes. Wajahnya hitam kena asap. Bu Hajah nangis. Ucup mukanya item.
Polisi dateng. Olah TKP. Ada yang bisik-bisik: "Konsleting." Ada juga yang bisik: "Sengaja dibakar. Asuransi."
Aku bantu angkatin barang yang masih selamat. Jam 5 pagi, polisi manggil aku.
"Kamu Arga?"
"Iya, Pak."
"Kamu admin sosmed toko ini?"
"Iya."
"Terakhir ke sini kapan?"
"Kemarin sore, jam 5. Foto produk."
"Ada CCTV?"
Aku diem. Toko Pak Haji ga punya CCTV. Aku yang usul pasang, tapi Pak Haji bilang "Mahal".
Polisi catat. Terus pergi.
Siang, gosip meledak. Di warung kopi: "Toko Haji Usman kebakar. Katanya mau klaim asuransi." "Iya, dengar-dengar orang dalamnya yang main." "Siapa?" "Itu, anak muda yang urus sss. Namanya Arga."
Ding. Karma Tracker: "Peringatan. Fitnah Level 2 Aktif. Salah langkah = -300 Karma."
Aku lemes. Di timeline 2026, aku difitnah maling aki. Sekarang difitnah bakar toko. Polanya sama. Karena aku orang luar.
Maya telpon. "Ga, kamu ga papa? Aku denger kabar."
"Ga papa, May. Cuma capek."
"Kamu perlu bantuan?"
"Doain aja."
Dimas malah WA: "Ga, gila lu. Berani amat. Bagi duit asuransi dong." Becanda, tapi nancep. Aku block.
3 hari ga tidur. Tanggal 18 Mei, Pak Haji manggil aku ke rumahnya. Rumah kayu besar di belakang toko.
Di ruang tamu, ada Pak Haji, Bu Hajah, Ucup, Anwar, sama 2 polisi. Meja penuh kopi.
Pak Haji buka suara. "Ga, Bapak mau tanya. Lurus ya."
Aku angguk. "Iya, Haji."
"Polisi bilang, titik api dari gudang belakang. Dekat colokan. Colokan itu baru. Kau yang pasang bulan lalu buat lampu foto produk, kan?"
Dadaku dingin. Iya. Aku yang pasang. T-stop, kabel, lampu. Beli di toko listrik.
"Iya, Haji. Saya."
Bu Hajah langsung nyolot. "Nah kan! Udah, Pak. Jelas ini."
Ucup bela. "Mah, Arga ga mungkin. Dia yang naikin omset."
Aku angkat tangan. "Haji, boleh saya ngomong?"
Pak Haji angguk. "Ngomong."
"Pertama, saya ga bakal bakar toko yang udah ngasih saya makan. Kedua, saya pasang colokan, iya. Tapi saya juga pasang CCTV."
Semua kaget. "CCTV?" Pak Haji.
"Iya, Haji. 3 bulan lalu, saya beli Xiaomi CCTV 200 ribu pake uang saya. Saya pasang di gudang, diem-diem. Soalnya saya takut ada yang maling. Rekamannya ke HP saya."
Aku keluarin HP. Buka Mi Home. Putar rekaman tanggal 15 Mei jam 02:14 pagi.
Gelap. Terus ada percikan api dari colokan. Kabel T-stop kebakar. Merambat ke kardus oli. Terus gede.
Aku pause. "Ini, Haji. Konsleting. T-stop yang saya beli ternyata KW. Kabelnya kecil. Saya salah, saya ngaku. Tapi saya ga sengaja bakar."
Polisi minta file. Aku kirim. Polisi cek. "Valid. Timestamp cocok. Ini musibah, bukan pidana."
Pak Haji diem lama. Terus dia nangis. Bapak-bapak 55 tahun nangis.
"Ga, Bapak minta maaf." Dia peluk aku. "Bapak suudzon. Bapak kebawa omongan orang."
Bu Hajah nunduk. "Tante juga minta maaf, Ga."
Ucup nepuk pundak. "Keren lu, Ga."
Ding. Karma Tracker: "Hutang Difitnah Pak Haji: LUNAS 100%. Karma +500. Reputasi +5. Status: Anak Angkat Bisnis."
Keluar dari rumah Pak Haji, hujan deras. Tapi aku ga pake helm. Biar air hujan cuci muka. Rasanya plong. 8 tahun di timeline 2026, aku bawa nama "maling". Sekarang, nama itu dicuci bersih pake api.
Juni 2018. BTC 80 juta. Portoku 8,9 juta. Tapi aku ga peduli. Karena Pak Haji kasih aku kepercayaan penuh. "Ga, toko kita bangun lagi. Kau yang pegang RAB. Kau yang desain."
Asuransi cair 300 juta. Kami bangun toko baru, 2 lantai. Lantai 1 toko, lantai 2 gudang + studio foto. Pak Haji kasih aku 5% saham toko. Di atas kertas. Ga pake notaris, pake kepercayaan.
Juli 2018. TasKita.Tarakan tembus omset 15 juta sebulan. Maya ajak aku ke Balikpapan, ketemu supplier langsung. Pertama kalinya naik pesawat.
Di hotel, Maya ngomong. "Ga, aku bingung. Kamu itu kayak... tau apa yang bakal kejadian. Pas BTC crash kamu anteng. Pas toko kebakar kamu udah punya CCTV. Kamu indigo?"
Ding. Karma Tracker: "Bahaya. Dilarang Bocorin Masa Depan. Hukuman: Reset."
Aku ketawa. "Enggak, May. Aku cuma parnoan. Makanya pasang CCTV. Makanya ga jual BTC. Soalnya aku miskin, May. Orang miskin ga boleh panik. Sekali panik, habis."
Maya natap aku lama. "Kamu dewasa banget, Ga."
Bohong putih. Karma -50. Tapi ga reset. Aman.
Agustus - Desember 2018. Grinding.
Toko baru Haji Usman buka. Nama baru: "HUM - Haji Usman Motor". Ada logo, ada IG verified. Omset bulan pertama 45 juta. Gajiku fix 3 juta + 5% laba = 3,5 juta total.
TasKita buka cabang s****e. Omset akhir tahun 180 juta. Untung 55 juta. Bagianku 22 juta.
BTC tutup tahun di 55 juta. Portoku 6,1 juta. Nyesek, tapi aku malah top-up. Pake bonus, beli 0.05 BTC di harga 55 juta = 2,75 juta. Total BTC: 0.1617.
31 Des 2018. Rekap.
Aset:
1. Cash: 28 juta
2. BTC 0.1617 x 55jt = 8,89 juta
3. 5% saham HUM: Valuasi 300jt x 5% = 15 juta. Tapi ga liquid.
4. Stok TasKita: 5 juta
Total Net Worth: 56,89 juta. Gagal target 150 juta. Tapi...
Hutang Emosional:
1. Bapak: LUNAS. Sehat.
2. Dimas: CICIL 60%. Dia udah nikah sama Sari, punya anak. Kerja konter. Ga pernah minjem lagi.
3. Pak Haji: LUNAS 100%. Dia udah haji, berangkat Oktober. Bilang ke orang: "Ini berkat Arga."
4. Tante Linda: CICIL 30%. Dia denger aku "punya saham", mulai diem. Tapi belum muji.
Malam tahun baru, aku di gudang HUM, lantai 2. Sendirian. Buka buku tulis.
LEVEL 3 SELESAI.
KARMA: +870.
STAT: Mental +5, Bisnis +5, Reputasi +5.
KERUGIAN: BTC -70% dari ATH. Tapi HOLD.
PELAJARAN: Serakah itu musuh, fitnah itu api, tapi bukti itu air.
Aku tutup buku. Di bawah, Tarakan kembang api lagi. Bedanya, tahun ini kembang apinya aku yang bayarin. Buat anak-anak panti asuhan.
Dan di HP, ada chat dari Maya: "Selamat tahun baru, calon konglomerat."
Aku senyum. Jalan masih panjang. Masih 8 tahun lagi. Tapi buat pertama kalinya, aku ga jalan sambil nunduk.
[Bersambung ke Bab 4: 2019 - Bisnis Pertama & Umrohin Ibu]