1 Januari 2017. Jam 00:15. Tarakan.
Kembang api masih meledak di langit Lingkas Ujung. Merah, hijau, emas. Dari teras rumah petak Karang Anyar, keliatan kayak hujan cahaya. Bapak udah masuk, batuknya kumat dikit karena asap. Ibu masih beres-beres toples kue.
Aku duduk di kursi plastik, buka HP Redmi 2. Cek Indodax. Harga 1 BTC: 12.580.000. Asetku 0.1117 BTC = 1.405.186. Naik 405 ribu dari modal. Kecil. Tapi ini uang yang kerja, bukan aku yang kerja.
Di buku tulis SMK, halaman paling belakang, aku bikin kolom baru:
TAHUN 2017: LEVEL 2
Net Worth Target: 50 juta
Misi Utama:
1. Dimas: Jangan jadi musuh, jangan jadi korban.
2. Pak Haji: Bikin beliau bilang "Untung ada Arga" di depan orang.
3. Tante Linda: Masih 0%. Biarin aja dulu.
4. Buka usaha pertama yang bukan freelance.
Di kepala bunyi "Ding". Karma Tracker: Misi Diterima.
Januari 2017. Musim hujan. Jalan Karang Anyar becek. Warung gorengan Ibu makin rame karena anak SD pada nongkrong pas hujan. Sehari bisa 250 biji laku. Untung bersih 100 ribu. Ibu udah ga ngeluh capek. Malah ketawa-tawa.
Aku? Masih jadi admin sosmed "Haji Usman Motor". Gaji fix 500 ribu. Tapi Pak Haji mulai ngenalin aku ke supplier. "Ga, ini Koh Alung dari Balikpapan. Dia agen oli Castrol. Kau save nomornya."
Itu trust. Trust itu mata uang yang ga bisa dibeli pake uang lotre.
15 Januari. Dimas nongol lagi di pos ronda. Kali ini bonceng cewek, namanya Sari. Rambut pirang, alis tebel.
"Ga! Kenalin, ini Sari." Dimas tos. "Eh, lu kerja di mana sekarang?"
"Bantu-bantu toko, Dim."
"Oh. Gua juga kerja. Di proyek perumahan Juata. Kuli. Lumayan 80 ribu sehari."
Aku diem. Di timeline 2026, Dimas ga pernah jadi kuli. Dia langsung loncat ke rental PS, terus utang, terus kabur. Berarti karena aku nolak patungan, takdirnya belok.
Karma Tracker: "Ding. +50 Karma. Kamu mengubah takdir orang tanpa merugikan."
Sari ngeliatin laptopku. "Kak IT ya?"
Aku ketawa. "Bukan. Cuma bisa Facebook."
Sari bisik ke Dimas. Dimas manggut-manggut. Terus Dimas bilang, "Ga, ajarin gua dong. Bikin online shop gitu. Sari mau jualan baju."
Aku natap Dimas 3 detik. Di matanya ga ada licik. Ada capek. Kuli itu berat.
Boleh. Tapi ada syarat. "Boleh, Dim. Tapi gua ga mau patungan modal. Lu modal lu, gua ajarin. Fee ajarin 200 ribu. Deal?"
Dimas kaget. "Buset. Mahal amat."
"Ilmu, Dim. Kalau lu mau gratis, YouTube banyak."
Dia diem. Sari cubit lengannya. "Udah, Mas. 200 ribu ga papa. Daripada sewa orang."
Deal. Malem itu di pos, aku ajarin Dimas sama Sari cara foto baju pake kain polos, cara bikin caption, cara pake hashtag. 2 jam. Dimas bayar cash 200 ribu, lecek.
Itu uang pertama yang aku dapet dari Dimas. Bukan dia yang ngambil dariku. Aku yang dibayar dia. Hutang Kedua: CICIL 35%.
Februari 2017. Zaman Clash of Clans masih rame. TH11 max laku 3 sampai 5 juta. Di grup sss "Jual Beli Akun COC Tarakan", bocah-bocah BU jual akun TH9 cuma 250 ribu.
Aku punya 3,5 juta cash. Aku belanjain 2,1 juta. Dapat 8 akun: 5 TH9, 3 TH10. Rata-rata 260 ribu.
Kerjaan tiap malem: push trophy, war, max-in bangunan. Laptop Asus Celeron ngos-ngosan, tapi jalan. 2 bulan. Maret akhir, semua akun udah lumayan.
Jual lagi. TH9 laku 600-750 ribu. TH10 laku 1,1 - 1,3 juta. Total penjualan: 6,85 juta. Profit: 4,75 juta.
Dimas dateng lagi. "Ga, bagi lapak COC dong. Gua liat lu jual laku keras."
Aku kasih tau dasarnya. "Cari yang BU, Dim. Tapi jangan nipu."
Seminggu kemudian, Dimas jual akun temennya tanpa izin. Temennya ngamuk di grup. Bawa-bawa namaku. "Ajarin Dimas siapa? Arga ya?"
Fitnah lagi. Kecil, tapi nyerempet. Karma Tracker: "Peringatan. Asosiasi Negatif Terdeteksi."
Aku langsung chat Dimas. "Dim. Berhenti. Kalau lu nipu, urusan lu. Jangan bawa nama gua."
Dimas read doang. Terus block aku.
Ya udah. Tutup bisnis COC. Total profit 4,75 juta masuk kantong. Net worth naik ke 15,5 juta. Tapi nama harus dijaga. Karma lebih mahal dari 4 juta.
April 2017. Harga minyak dunia nyungsep. 1 barel = 42 USD. Tahun 2026 aku inget, setelah ini saham energi bakal terbang 2018-2019. Tapi aku ga bisa beli saham. Belum ada KTP sekuritas, belum ngerti.
Pakai cara lain. Aku ke pangkalan LPG 3kg "Sumber Rejeki" di Karang Rejo. Pemiliknya Pak Anwar, 50 tahun, perut buncit, rokok ga lepas.
"Pak, boleh nanya?"
"Apaan, Ga? Mau beli gas?"
"Bukan, Pak. Bapak tau ga, kapal LPG dari Bontang telat minggu depan. Bakal langka."
Pak Anwar ketawa, batuk. "Halah. Anak kemarin sore sok tau. Bapak dagang gas dari kau masih ingus."
Aku senyum. "Iya, Pak. Cuma ngingetin."
Seminggu kemudian: langka beneran. Warga antri dari subuh. Harga eceran dari 18 ribu jadi 35 ribu. Pangkalan Pak Anwar kosong. Dia rugi kesempatan jual 800 tabung x 17 ribu = 13,6 juta.
Tanggal 30 April, Pak Anwar dateng ke rumah. Bawa gula 1 kilo.
"Ga, bapakmu ada?"
"Ada, Pak. Kenapa?"
"Gua mau ngomong."
Di teras, Pak Anwar ngomong ke Bapak. "Pak, anakmu ini pinter. Minggu lalu dia udah ngomong gas bakal langka. Saya remehin. Eh beneran. Saya mau minta dia jadi tukang catat stok. Gaji 1 juta. Boleh?"
Bapak nengok aku. Aku angguk. "Boleh, Pak."
Itu bukan tentang 1 juta. Itu tentang validasi. Orang yang ngeremehin aku sebulan lalu, sekarang minta tolong. Hutang Diremehkan: CICIL 15%.
Kerja di pangkalan gas: jam 9 pagi - 3 sore. Catat tabung masuk, tabung keluar, bikin laporan. Di sela-sela, aku perhatiin: pangkalan itu suplai juga ke warung-warung. Warung ambil 10 tabung, jual eceran. Margin 3 ribu per tabung.
Di situ aku ketemu Maya.
Maya Salsabila. Anak FEB Universitas Borneo Tarakan, semester 4. Umur 20, seumuran. Pakai jilbab pastel, kacamata bulat, bawa buku tulis tebel. Bapaknya punya toko sembako "Barokah" yang suplai beras sama minyak ke pangkalan.
Hari pertama ketemu, dia liat aku bikin laporan stok pake Excel, ada grafik batang, ada warna-warni.
"Kamu yang bikin?" Dia nunjuk laptop.
Aku gugup. "Iya, Kak."
"Bagus. Karyawan pangkalan lain masih tulis tangan. Kamu kuliah di mana?"
Aku garuk kepala. "Ga kuliah, Kak. SMK."
Dia senyum. "Pantes pinter. Anak SMK jago praktek."
Ding. Pertama kalinya sejak 2016 ada orang luar yang muji tanpa nada kasihan. Dadaku anget.
Maya sering ke pangkalan. Lama-lama ngobrol. Dia cerita mau KKN bulan Juli. Aku cerita bantu Pak Haji.
Tanggal 10 Mei, Maya nanya, "Ga, kamu pernah dropship?"
"Belum, Kak. Itu apaan?"
"Jualan tapi ga punya barang. Aku ada supplier tas dari Guangzhou. Dia kasih harga pabrik. Kita jual di IG, kalau ada order, supplier yang kirim. Kita ambil untung."
Aku diem. Otak muter. Ini dia. Usaha pertama yang bukan freelance.
"Modalnya?"
"Gratis. Tapi kita bikin IG, bikin foto, iklan. Aku modal 3 juta buat iklan. Kamu modal skill. Gimana? Bagi hasil 60 aku, 40 kamu. Karena aku yang modalin."
60-40? Di 2026, aku pasti ngamuk. Tapi di 2017, aku butuh pintu. "Deal, Kak."
Nama IG: "TasKita.Tarakan". Hari pertama, aku fotoin 10 tas dari katalog supplier pake kamera Redmi 2. Edit di laptop. Caption: "Tas Selempang Korea 99rb. Free ongkir Tarakan kota."
Minggu pertama: boncos. Iklan 300 ribu, order 1. Rugi. Maya mulai ragu. "Ga, kayaknya susah ya."
Aku ga nyerah. Malem-malem aku riset. Kenapa orang ga beli? Karena foto jelek, ga ada testimoni. Aku pinjem tas Ibu, pake buat foto OOTD. Minta tetangga, Dina, jadi model. Foto di Pelabuhan Tengkayu. Caption ganti: "Dipakai jalan sore di pelabuhan juga cakep. 99rb aja. Stock terbatas."
Boom. Minggu kedua: 17 order. Omset 1,683 juta. Modal ke supplier 1,1 juta. Untung 583 ribu. Bagi hasil: Maya 350 ribu, aku 233 ribu.
Maya ketawa. "Luar biasa, Ga. Kamu ngerti banget."
Juni 2017. Lebaran. Tante Linda dateng ke rumah nenek. Aku datang pake kemeja flanel 100 ribu, sepatu tetap yang ngelupas. Tapi aku bawa toples kue 4 biji. 2 dari Ibu, 2 aku beli.
Tante Linda liat aku. "Eh, Arga. Sekarang kerja di mana?"
"Bantu-bantu toko sama pangkalan gas, Tante."
"Ooh. Rajin ya." Nadanya datar. Masih ngeremehin. Tapi ga ngomong pedes kayak 2025.
Ga apa-apa. Hutang Diremehkan: CICIL 15%. Masih panjang.
Juli 2017. Maya KKN di Juata Laut. Aku megang IG full. Omset naik. Juli tutup di 8,2 juta. Untung bersih 2,9 juta. Bagianku 1,16 juta.
Pak Haji manggil. "Ga, omset toko bulan ini 18 juta. Naik 3 juta dari bulan lalu. Karena IG. Nih, 1 juta buat kamu. Bulan depan jadi 1,5 juta ya."
Gaji + pangkalan + IG + dropship. Total income Juli: 1,5 juta + 1 juta + 1,16 juta = 3,66 juta. Pertama kalinya gajiku di atas UMR.
Agustus 2017. Bitcoin tembus 60 juta per BTC. Asetku 0.1117 x 60 juta = 6,7 juta. Aku ga jual. Aturan: Bertahap. Target jual di 200 juta, bukan sekarang.
Dimas dateng. Udah ga kerja kuli. Buka konter pulsa kecil di Juata.
"Ga, maaf ya soal COC kemarin." Dia salim. "Gua khilaf."
Aku salaman. "Udah, Dim. Gimana konter?"
"Jalan. Eh, lu hebat ya sekarang. Denger-denger bantu Pak Haji."
Aku senyum. "Alhamdulillah."
Dia ga minjem duit. Dia cuma ngobrol. Hutang Kedua: CICIL 50%. Karena dia udah minta maaf, dan aku udah ga dendam.
September 2017. Maya pulang KKN. Bawa oleh-oleh: amplop. "Ini, Ga. Bagi hasil 3 bulan. Bagian kamu 4,2 juta."
Aku kaget. Banyak. Maya jelasin, "Omset 3 bulan 32 juta. Untung 11 juta. Kamu 40% = 4,4 juta. Dipotong iklan 200 ribu."
4,2 juta. Cash. Tanganku gemeter. Pertama kalinya megang duit segitu dari bisnis.
Maya terus, "Ga, kita PT-in yuk. Tapi pelan-pelan. Aku percaya sama kamu."
Ding. Karma Tracker: "Hubungan +1. Reputasi +2. Warning: Jangan baper. Fokus misi."
Aku angguk. "Siap, Kak."
Oktober 2017. Pak Haji ulang tahun. Dia potong tumpeng di toko. Ngundang semua karyawan plus supplier. Di depan 20 orang, dia ngomong:
"Terima kasih buat semua. Terutama Arga. Dulu saya kira anak muda main HP mulu. Ternyata HP bisa buat cari duit. Untung ada Arga."
Semua tepuk tangan. Ucup tos. Dadaku sesak. 3 tahun lalu di timeline 2026, Pak Haji nuduh aku maling. Sekarang dia muji aku di depan orang.
Aku salim. "Makasih, Haji. Saya cuma bantu."
"Jangan merendah. Kamu aset."
Hutang Ketiga: CICIL 70%. Hampir lunas. Tinggal satu momen: buktiin aku ga bakal nyolong, bahkan pas ada kesempatan.
Desember 2017. Rekap akhir tahun.
Aset:
1. Cash + Tabungan: 5 juta + gaji + dropship = 18,3 juta
2. Bitcoin 0.1117 BTC x 180 juta = 20,1 juta. Ga dijual.
3. Laptop, HP, skill: aset kerja.
4. Kepercayaan Pak Haji, Maya, Pak Anwar: ga ternilai.
Total Net Worth: 38,4 juta. Belum 50 juta. Meleset 11,6 juta. Tapi ga apa-apa. Karena hutang emosional banyak yang lunas.
Hutang Emosional 2017:
1. Bapak meninggal -> LUNAS 100%. Bapak sehat, udah ikut pengajian lagi.
2. Dikhianati Dimas -> CICIL 50%. Dimas udah minta maaf, udah punya usaha sendiri.
3. Difitnah Pak Haji -> CICIL 70%. Tinggal pembuktian final.
4. Diremehkan keluarga -> CICIL 20%. Tante Linda udah ga ngomong pedes, tapi belum muji.
Malam tahun baru 2018. Aku, Ibu, Bapak, makan ayam bakar di teras. Bapak udah ga batuk.
Maya WA: "Selamat tahun baru, Ga. Tahun depan kita 100 juta ya. Bismillah."
Aku balas: "Bismillah, Kak."
Di kepala bunyi: "LEVEL 2 SELESAI. KARMA: +320. STAT: Mental +3, Skill +4, Reputasi +3. NEXT LEVEL: 2018. MUSUH BARU: KESERAKAHAN."
Aku tutup buku. Tahun 2017, aku ga jadi miliarder. Tapi aku ga jadi pecundang.
Dan buat orang yang pernah dihiyanati, difitnah, diremehkan, ga jadi pecundang itu udah kemenangan.
[Bersambung ke Bab 3: 2018 - Bitcoin Runtuh, Toko Dituduh, dan Ujian Maya]