Langit di atas Akademi Sihir Eldoria dihiasi dengan awan-awan keperakan. Pagi ini, seluruh murid baru berkumpul di halaman utama akademi untuk menghadapi ujian sihir pertama mereka setelah diterima sebagai siswa resmi.
Drayven berdiri di antara para murid, memperhatikan lingkungan sekitarnya. Bangunan akademi menjulang megah dengan arsitektur bergaya abad pertengahan yang dihiasi dengan simbol sihir kuno. Para instruktur berjubah ungu tua mengawasi mereka dari tangga batu yang mengarah ke dalam akademi.
Sejak insiden di aula penerimaan, banyak murid yang mulai menatapnya dengan penuh waspada, beberapa dengan rasa iri, dan sebagian lainnya dengan ketakutan. Itu bukan masalah baginya.
Namun, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Kekuatan apa sebenarnya yang masih tersisa dalam tubuh ini?
Ia perlu mengetahuinya—dan ujian ini adalah kesempatan yang sempurna.
---
Ujian Penguasaan Sihir
Seorang instruktur bertubuh tinggi dan berwibawa bernama Profesor Aldric berdiri di tengah aula terbuka.
“Hari ini, kita akan menguji sejauh mana kemampuan sihir kalian berkembang,” katanya dengan suara berat. “Ujian ini akan dibagi menjadi tiga tahap: pengendalian elemen, duel sihir, dan tes pertahanan diri.”
Drayven memperhatikan reaksi para murid. Sebagian tampak percaya diri, sementara yang lain tampak gugup.
Profesor Aldric melanjutkan, “Kita mulai dengan tahap pertama: pengendalian elemen.”
Lima pilar batu muncul dari tanah di depan mereka. Setiap pilar memiliki bola kristal di atasnya, masing-masing melambangkan elemen dasar: Api, Air, Angin, Tanah, dan Petir.
"Sentuh bola elemen yang paling sesuai dengan afinitas sihir kalian dan tunjukkan penguasaan kalian."
Satu per satu, murid maju ke depan.
Kael Draconis, si pewaris keluarga penyihir api, melangkah percaya diri ke pilar api. Begitu ia menyentuh bola kristal, api merah menyala terang, hampir membakar udara di sekelilingnya.
Sylva Moonhart, sang pewaris keluarga bangsawan sihir air, meletakkan tangannya di bola air. Kristal itu langsung bersinar biru, membentuk ombak kecil di udara.
Lalu, tiba giliran Drayven.
Bisikan mulai terdengar di sekelilingnya.
"Dia akan menyentuh yang mana?"
"Setelah kejadian di aula, aku penasaran..."
Drayven menatap pilar-pilar itu. Di kehidupan sebelumnya, ia tidak bergantung pada satu elemen—ia mengendalikan semuanya.
Tanpa ragu, ia melangkah maju. Namun, alih-alih menyentuh satu bola, ia mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di dua pilar sekaligus: Api dan Angin.
WOOSH!
Api dan angin menyala bersamaan, membentuk pusaran energi yang berputar di sekelilingnya. Udara bergetar, dan dalam sekejap, bola air, tanah, dan petir juga mulai berpendar.
Para murid menatapnya dengan mata terbelalak.
“Dia… dia mengaktifkan kelima elemen?!”
Bahkan Profesor Aldric tampak terkejut. “Mustahil… tidak ada yang bisa mengendalikan semua elemen di usia ini.”
Drayven menarik tangannya, membiarkan energi itu mereda.
Ia bisa merasakan kekuatan itu. Memang tidak sekuat saat ia masih menjadi Raja Naga, tetapi… itu masih ada di dalam dirinya.
Sylva memperhatikannya dengan penuh minat, sementara Kael menggertakkan giginya.
"Orang ini... semakin menarik."