Setelah ujian pengendalian elemen selesai, tibalah tahap kedua: Duel Sihir.
Para murid dikumpulkan di arena terbuka yang dikelilingi oleh tribun batu. Instruktur memilih pasangan secara acak untuk saling berduel dengan sihir mereka.
Dan seperti sudah ditakdirkan, nama Drayven dipanggil.
“Drayven Valtor, kau akan melawan… Kael Draconis.”
Suasana langsung menjadi tegang.
Kael melangkah ke tengah arena, tatapannya penuh semangat bertarung. “Kali ini, aku tidak akan kalah.”
Drayven hanya tersenyum tipis. “Kita lihat saja.”
“Mulai!” seru Profesor Aldric.
Kael langsung menyerang lebih dulu. “Flame Burst!”
Bola api besar melesat ke arah Drayven.
Namun, dengan satu gerakan tangan, Drayven menyerap energi api itu dan mengubahnya menjadi pusaran angin yang berputar di sekelilingnya.
Kael terkejut. “Kau… menyerap sihirku lagi?”
Drayven melangkah maju. Ia merasakan aliran sihir di dalam tubuhnya, semakin kuat setiap kali ia menyerap serangan lawan.
“Giliran aku,” katanya dengan tenang.
Ia mengangkat tangannya ke langit. Udara di sekitar arena mulai bergetar. Dalam sekejap, angin dan api bercampur menjadi satu, membentuk tornado berapi yang mengelilinginya.
Kael mundur selangkah. “Apa—”
Drayven meluncurkan tornado itu ke arahnya.
BOOM!
Kael terlempar ke belakang, jatuh ke tanah.
Arena menjadi sunyi.
Profesor Aldric menatap kejadian itu dengan ekspresi serius. “Pemenangnya, Drayven Valtor.”
Murid-murid lain hanya bisa menatapnya dengan perasaan campur aduk antara kagum dan takut.
Drayven menatap tangannya. Aku semakin terbiasa dengan tubuh ini.
Namun, saat ia berjalan keluar arena, ia merasakan sesuatu.
Dari tribun atas, seseorang sedang mengawasinya.
Seorang pria berjubah hitam dengan mata yang tajam dan dingin.
Dan Drayven tahu… orang itu bukan murid biasa.
---
Malam yang Penuh Misteri
Malamnya, Drayven pergi ke taman belakang akademi untuk mencari ketenangan.
Namun, saat ia berjalan di antara pepohonan, ia merasakan sesuatu.
Aura membunuh.
Dalam sekejap, ia berbalik—hanya untuk menghindari serangan pedang yang hampir menebas lehernya.
Seorang pria berjubah hitam berdiri di sana, topengnya menyembunyikan wajahnya.
“Kau tidak seharusnya ada di sini,” katanya dingin.
Drayven menyipitkan mata. “Siapa kau?”
Pria itu tidak menjawab, hanya menyerang lagi dengan kecepatan luar biasa.
Namun, Drayven sudah lebih dulu bergerak. Ia mengangkat tangannya dan menyerap energi serangan lawan, lalu mengembalikannya dalam bentuk ledakan angin bercampur petir.
BOOM!
Pria itu terpental, tetapi segera bangkit kembali. “Jadi… kau benar-benar bukan manusia biasa.”
Drayven merasakan ada sesuatu yang aneh dalam suara itu. Seolah… orang ini tahu sesuatu tentang dirinya.
Ia mengepalkan tangannya. “Apa maksudmu?”
Pria itu tertawa kecil. “Kau tidak ingat, ya? Wajar saja. Tapi jangan khawatir… mereka yang membunuhmu dulu akan segera mencarimu lagi.”
Drayven membeku.
Mereka yang membunuhku… dulu?
Sebelum ia bisa bertanya lebih jauh, pria itu melompat ke bayangan dan menghilang.
Drayven berdiri diam, pikirannya berputar.
Jadi… seseorang di dunia ini masih mengingatnya sebagai Raja Naga.
Dan mereka ingin memastikan ia tidak kembali berkuasa.
Baiklah. Kalau begitu, aku hanya perlu menunjukkan kepada mereka… bahwa aku tidak bisa dihentikan.