Drayven melangkah ke dalam aula besar Akademi Sihir Eldoria. Ratusan murid baru berkumpul, beberapa berbicara dengan penuh percaya diri, yang lain tampak tegang. Di depan aula, seorang pria tua berjubah ungu berdiri di atas panggung batu.
“Inilah saatnya kalian membuktikan bakat kalian,” suaranya bergema. “Hanya mereka yang layak yang akan diterima di Akademi Eldoria.”
Drayven menyipitkan mata. Layak? Jika ia masih memiliki kekuatannya sebagai Raja Naga, tempat ini hanyalah sebuah sarang anak ayam yang bermain sihir. Namun sekarang, ia harus menyesuaikan diri dengan tubuh manusia ini.
“Ujian pertama: pengukuran esensi sihir!”
Sebuah bola kristal besar didorong ke tengah ruangan. Para murid dipanggil satu per satu untuk meletakkan tangan mereka di atasnya. Warna yang muncul akan menentukan kekuatan magis mereka.
Seorang gadis berambut perak maju pertama. Begitu ia menyentuh bola, kristal itu bercahaya biru terang.
“Esensi sihir tingkat atas! Elemen air murni!”
Para murid berbisik. “Itu Sylva Moonhart, putri dari keluarga bangsawan sihir!”
Sylva tersenyum bangga sebelum melangkah ke samping.
Satu per satu murid lain maju, sebagian mendapat warna pucat, yang lain cukup terang.
Akhirnya, nama Drayven Valtor dipanggil.
Ia maju perlahan. Bisikan mulai terdengar di sekelilingnya.
“Valtor? Keluarga bangsawan kecil itu?”
“Aku dengar mereka hampir tidak punya penyihir berbakat…”
Drayven mengabaikan mereka. Ia meletakkan tangannya di atas bola kristal dan menunggu.
Satu detik… dua detik… tidak ada reaksi.
Beberapa murid tertawa pelan. “Dia tidak punya esensi sihir?”
Namun, sebelum ada yang bisa berbicara lebih jauh, sesuatu terjadi.
Kristal itu mulai bergetar. Cahaya biru tua dan emas muncul, berkedip-kedip sebelum meledak keluar seperti badai. Aura magis memenuhi ruangan, angin berputar liar.
“Ini… ini bukan esensi sihir biasa!” seru seorang instruktur.
Warna biru tua bercampur dengan emas berkilauan, membentuk bentuk samar… seperti mata naga yang terbuka.
Ruangan sunyi.
Instruktur mendekat, menatap Drayven dengan mata lebar. “Esensi sihirmu… unik. Belum pernah ada yang seperti ini sebelumnya.”
Drayven tersenyum kecil. Tentu saja. Aku bukan manusia biasa.
Tapi sebelum ia bisa menikmati momennya, sebuah suara terdengar.
“Hah! Itu hanya kebetulan,” seorang pemuda bertubuh tegap melangkah maju. “Kalau dia benar-benar berbakat, mari kita uji di duel!”
Drayven menoleh. Seorang anak laki-laki berambut merah dengan mata penuh percaya diri menatapnya.
“Itu Kael Draconis,” bisik seseorang. “Pewaris keluarga penyihir api…”
Kael menyeringai. “Berani menerima tantangan?”
Drayven menatapnya dingin. Duel? Dia pernah berperang melawan pasukan manusia, mengalahkan penyihir dan ksatria. Anak ini hanya seekor anak kucing yang mencoba menerkam singa.
"Aku terima."
---
Duel di Arena
Para murid berkumpul di luar, di sebuah arena berbentuk lingkaran. Instruktur berdiri di tengah, mengawasi.
Kael melangkah ke depan. “Jangan menangis setelah kalah,” katanya dengan nada mengejek.
Drayven hanya tersenyum tipis. Ia tidak tahu seberapa kuat tubuh manusia ini, tetapi ia ingin menguji sesuatu—apakah kekuatan naganya masih tersisa?
Instruktur mengangkat tangan. “Mulai!”
Kael langsung mengangkat tangannya, bola api menyala di telapak tangannya. “Inferno Blast!”
Sebuah semburan api melesat ke arah Drayven.
Namun, tanpa berpikir, Drayven mengangkat tangannya… dan sesuatu yang aneh terjadi.
Angin berputar di sekelilingnya. Api yang seharusnya membakar tubuhnya berhenti di udara, lalu terserap masuk ke dalam telapak tangannya.
Kerumunan terkejut.
“Apa itu tadi?!”
“Dia… menyerap sihir api?”
Bahkan Kael tampak terkejut. “Apa kau… penyihir elemen angin?”
Drayven menatap tangannya. Bukan. Ini bukan angin… ini adalah kekuatan nagaku.
Ia tersenyum. Sepertinya aku masih memiliki sebagian dari warisan lamaku.
Kael menggertakkan gigi. “Jangan sombong!” Ia melancarkan serangan lain, kali ini lebih besar.
Drayven menghela napas. Ia melangkah maju, mengayunkan tangannya seperti mencakar udara—dan tiba-tiba, sebuah pusaran angin bercampur api terbentuk, menghantam Kael dan melemparkannya ke belakang.
Duar!
Kael jatuh ke tanah, terengah-engah.
Instruktur menatap Drayven dengan ekspresi tidak percaya. “Pemenangnya, Drayven Valtor!”
Kerumunan terdiam. Tidak ada yang menyangka anak dari keluarga bangsawan kecil bisa menang dengan begitu mudah.
Drayven hanya tersenyum. Ini baru permulaan.
---
Akhir Bab 1
Dari seorang Raja Naga yang dihancurkan, kini ia kembali sebagai manusia.
Dengan kekuatan barunya, ia akan mengguncang dunia manusia ini.
Karena meskipun tubuhnya berubah, jiwanya tetap seorang Raja.