Mei Xiu merasa bosan terkurung sendirian di dalam paviliunnya. Perempuan dengan hanfu biru muda tersebut mencoba mencari keberadaan Fei, pelayan pribadi Liu Wen yang sudah beberapa hari ini tidak di temuinya. Biasanya, Mei Xiu sudah mendapati Fei berdiri di sisinya setiap kali ia terbangun. Menanyakan apa yang dia butuhkan. Namun, selama beberapa hari ini, Mei Xiu tak mendapati Fei disisinya. Hal itu membuat Mei Xiu sedikit dilanda perasaan sepi. Kehadiran Fei mampu mengusir sedikit kebosanan dan segala macam kegusarannya setiap kali mengingat sosok Guang Xu.
Berjalan-jalan sendirian tanpa di temani pelayan membuat Mei Xiu bisa dengan lebih leluasa melihat keseluruhan bangunan istana ketika dalam masa kekaisaran dinasti Qing. Suasana yang dia rasakan pun jauh berbeda saat ia berkunjung ke tempat ini di masa depan.
Mei Xiu bersyukur karena ia sempat mendalami pelajaran sejarah ketika ia duduk di sekolah menengah atas tentang berbagai dinasti yang pernah berkuasa di China. Salah satunya adalah dinasti Qing, dinasti yang didirikan oleh suku Manchu yang berhasil menggulingkan dinasti Ming yang pernah berkuasa sebelumnya.
Namun, hal yang paling tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, bahwa ia akan terseret pada masa ini. Terjebak dalam dimensi waktu yang berbeda.
Mei Xiu masih sibuk memperhatikan setiap bangunan yang dia lewati, sesekali ia berdecak kagum ketika mendapati beberapa bangunan asli peninggalan dinasti Qing yang belum tersentuh renovasi.
"Apakah yang membuat permaisuri terlihat sedikit berbeda hari ini?"
Mei Xiu berjengit kaget karena suara yang muncul di belakangnya secara tiba-tiba. Perempuan itu membalikkan tubuhnya dan mendapati sosok tinggi tegap berdiri didepannya lengkap dengan senyum hangatnya.
Hati Mei Xiu tentu saja berdesir menatap sosok di hadapannya.
"Kak Yu Hwan?" Tanpa sadar, Mei Xiu menggumamkan nama tersebut yang muncul begitu saja setiap kali ia bertemu dengan Lao Yen.
Lao Yen mengerutkan kening mendengar nama asing yang digumamkan Mei Xiu..
“Apa permaisuri lupa dengan saya?”
Mei Xiu seakan menyadari kesalahannya.
“Ah! Maafkan aku, aku menyebutkan nama yang salah, panglima Lao Yen,” ujar Mei Xiu segera meralat ucapannya.
Lao Yen mengangguk dan tersenyum memaklumi kesalahan Mei Xiu. Karena yang dia ketahui adalah perempuan yang berdiri didepannya saat ini sedang kehilangan sebagian ingatannya.
"Dimana pelayan Anda? Tidak seharusnya Anda berjalan sendirian tanpa pelayan," ujar Lao Yen memperhatikan sekeliling karena tak mendapati para pelayan Liu Wen yang biasanya mengekor dibelakang perempuan itu.
Mei Xiu sedikit gugup karena di pandangi begitu lama oleh sosok di depannya.
"Aku..mengusir mereka," tukas Mei Xiu tanpa rasa bersalah.
Lao Yen terkekeh pelan, dia sudah bisa menduga hal itu seharusnya. "Apakah itu membuat permaisuri tidak nyaman?"
Mei Xiu mengangguk singkat. "Aku tidak terbiasa jika ada yang mengikutiku, aku merasa mereka seperti penguntit yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi."
Lao Yen tersenyum kecil. Liu Wen yang didepannya berbeda dengan Liu Wen yang dulu. Ia tak lagi melihat kepedihan dalam sorot mata Liu Wen. Sejak Liu Wen kehilangan ingatannya, dia menjadi sosok yang lebih bebas dan tak peduli akan apa kata orang.
"Aku sedang mencari Fei, tiga hari ini aku tidak melihatnya. Dia menghilang begitu saja setelah aku sadarkan diri."
Mendengar hal itu, raut wajah Lao Yen sedikit berubah. Dan Mei Xiu menyadari akan hal itu.
"Anda mencari Fei?" Lao Yen menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Lagi-lagi Mei Xiu menganggukkan kepalanya pelan. "Kenapa? Apa kau tahu dimana dia?"
Lao Yen menghela napas panjang, seolah tengah menahan beban berat di pundaknya. Mei Xiu seolah menyadari ada sesuatu yang salah.
"Apakah terjadi sesuatu dengannya?" tanya Mei Xiu ingin tahu. Melihat wajah Lao Yen saat ini, ia menyadari bahwa sesuatu terjadi pada Fei.
"Saya akan mengantar Anda."
Mei Xiu mengernyit bingung. Namun, rasa penasarannya menuntun dirinya mengikuti Lao Yen yang berjalan di depan. Dia hanya berharap, tidak terjadi sesuatu yang buruk pada pelayan Liu Wen tersebut.
***REBIRTH***
Suara langkah menggema di sepanjang lorong, seiring dengan dua pasang kaki menapaki setiap undakan pada lorong gelap tersebut. Mei Xiu masih mengingat betul tempatnya pernah terkurung beberapa waktu lalu, penjara bawah tanah yang lembab dan sangat di bencinya.
"Apakah maksudmu kaisar mengurung Fei di sini?" Mei Xiu memandang punggung Lao Yen yang berjalan di depannya. Perempuan itu terus mengikuti langkah Lao Yen yang menuntunnya ke sebuah sel.
"Benar, permaisuri. Kaisar menghukum semua pelayan setelah insiden di kolam pemandian tersebut." Lao Yen menoleh sejenak kemudian melanjutkan kembali langkahnya.
Seketika perasaan marah, sedih, dan bersalah bercampur menjadi satu mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Hingga membuatnya tak bisa membedakan bagaimana tepatnya yang ia rasakan saat ini.
Langkah tegap pria didepannya berhenti di salah satu sel. Tanpa menunggu, Mei Xiu segera berjongkok di depan sel tersebut. Ia mendapati Fei meringkuk di dekat dinding, hanfu pelayan muda itu sangat kotor dengan bekas tanah yang sudah menguning.
"Fei! Kau mendengarku?" panggil Mei Xiu pelan.
Tak ada tanggapan.
Mei Xiu mulai cemas. "Fei! Apa mau baik-baik saja? Kau bisa mendengarku?" panggil Mei Xiu sekali lagi dengan suara lebih keras. Hatinya mulai diremas rasa takut.
Sedetik kemudian, Mei Xiu menghembuskan napas lega mendapati pergerakan dari perempuan di dalam sana. Fei terbangun mendengar suara yang mengusiknya. Pelayan muda itu mengangkat kepalanya, mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba memperjelas pandangannya.
Fei terkesiap menyadari sosok yang kini tengah berjongkok di balik selnya, memandangnya dengan sepasang mata coklat bulatnya, penuh kecemasan.
Fei merangkak mendekati sosok Mei Xiu. Tubuh pelayan muda itu dipenuhi luka-luka, bahkan hanfu lusuh yang dia kenakan terlihat semakin menyedihkan. "Maaf, ini karena diriku. Apa kau baik-baik saja? Aku akan mengeluarkanmu dari sini!"
Fei mengangguk seraya meneteskan airmata, ia merasa ketakutan berada dalam sel yang gelap ini. Setelah disiksa hingga membuat seluruh tulangnya terasa remuk, ia kemudian diseret ke tempat ini, dikurung dalam penjara bawah tanah, tempat para sebagian tahanan mendapat hukuman mati.
Sebuah hukuman harus diterimanya karena lalai menjaga sang permaisuri. Begitulah yang dikatakan Guang Xu padanya. Fei hanya bisa pasrah saat dirinya di gelandang oleh dua pengawal Guang Xu.
"Tidak perlu, permaisuri. Ini bukan salah Anda. Hamba yang tidak bisa menjaga permaisuri. Apakah permaisuri baik-baik saja?".
Mei Xiu mengangguk. Hatinya terasa teriris mendapatkan pertanyaan itu. Fei bahkan tidak peduli dengan luka disekujur tubuhnya. Mei Xiu menjadi tidak tega melihat kondisi pelayan tersebut.
Lao Yen hanya memperhatikan keduanya dengan pandangan yang sulit di artikan seraya menyenderkan tubuhnya pada jeruji besi disampingnya. Sesekali pria itu mengedarkan pandangan ke sekitar lorong, mengawasi.
"Aku akan mengeluarkanmu!" Janjinya. Mei Xiu kemudian memandang Lao Yen yang bersedekap di depannya. "Kau bisa membuka gemboknya, bukan?"
Pria itu terkesiap mendapati pandangan memohon Liu Wen padanya. Lao Yen segera menegakkan tubuhnya dengan sikap tegap.
"Maafkan saya permaisuri, ini diluar kuasa saya. Tanpa seizin kaisar, tidak ada yang boleh membebaskan tahanan." Lao Yen memandang Mei Xiu dengan tegas.
Mei Xiu mendengus kesal mendengar jawaban itu. Dia tidak akan menyerah hanya karena Guang Xu yang berkuasa. Toh, dia adalah permaisuri sekarang. Tentunya, dia juga punya kuasa untuk memberi perintah bukan?
Mei Xiu berdiri dan mengangkat sedikit dagunya.
"Bagaimana jika aku memerintahkanmu untuk membukanya?" Mei Xiu melipat kedua tangannya didepan d**a, menatap Lao Yen dengan tajam.
"Saya tidak bisa, permaisuri. Tanpa perintah kaisar, saya tidak bisa melakukannya." Lao Yen tersenyum samar dan menatapnya penuh penyesalan.
Membebaskan tahanan bukanlah bagian dari kuasanya. Dia hanya seorang panglima dan orang kepercayaan Guang Xu, yang harus menuruti setiap perintah Guang Xu, bukan yang lain, termasuk sang permaisuri.
Mei Xiu mendecakkan lidahnya kesal. Dia berpaling pada Fei yang masih menatap keduanya penuh harap..
"Tenanglah, Fei. Aku pasti akan mengeluarkanmu dari sini. Aku berjanji." Mei Xiu mencoba meyakinkan pelayan muda itu. Fei mengangguk dengan ragu, namun ia percaya pada janji sang permaisuri.
Lao Yen kembali memperhatikan setiap gerak-gerik Mei Xiu, sesekali senyum simpul tersungging di bibirnya. Sesuatu yang aneh itu kembali berdesir dalam dadanya.
***REBIRTH***
Guang Xu meletakkan perkamen diatas meja, kemudian memandang serius pria yang duduk dihadapannya. “Kenapa pengunduran ibu suri harus ditunda?” Tersirat nada tidak suka dalam pertanyaannya.
Pria didepannya mendongak dengan wajah serius. “Ini dikarenakan ibu suri bersedia mengundurkan dirinya sebagai bupati resmi jika kaisar sudah memiliki selir.”
Guang Xu mengetatkan rahangnya. Ia mengambil perkamen diatas mejanya kemudian meremas perkamen tersebut dengan marah.
“Apakah ia masih belum puas mengendalikanku selama ini?” ujarnya berusaha menahan amarah.
Weng Tonghe terdiam sejenak. “Ini juga untuk tetap membuat situasi diantara para menteri stabil, Yang Mulia. Hamba harap, Yang Mulia tidak bertindak gegabah untuk hal ini.”
Guang Xu menghela napas panjang. Ia kembali memandang Weng Tonghe dengan airmuka sama seperti sebelumnya. “Aku tidak berguna jika tidak bisa melindungi orang-orang disekitarku dari ibu suri. Aku tidak ingin kejadian yang menimpa putri Jing Mey terulang, paman.”
Wong Tonghe mengangguk paham dengan maksud Guang Xu. Ibu suri Cixi memang sudah cukup lama berkuasa dan memegang wewenang sepenuhnya sebelum kekuasaan berpindah tangan pada Guang Xu.
***REBIRTH***
Sepasang manik coklat gelap itu memandang fokus pada papan sasaran di depan sana. Satu tangannya memegang busur dan tangan lainnya menarik anak panah pada busur ditangannya.
SLAPP!!
Satu anak panah melesat tepat mengenai titik merah pada papan sasaran. Tidak berhenti hanya dengan satu anak panah, Guang Xu berpindah pada papan sasaran lainnya yang masih kosong.
SLAPP!
Anak panah kedua juga tepat menancap di titik merah pada papan sasaran tersebut.
Kemudian Guang Xu berpindah ke papan sasaran selanjutnya ketika seorang pengawal menghampirinya.
"Yang Mulia, permaisuri datang ingin bertemu."
Guang Xu hanya mengangguk dengan wajah tak acuh.
Sang kaisar kembali mengangkat busur dan anak panahnya untuk bersiap melesatkan anak panah ketiga di papan sasaran. Namun, suara dengan nada kemarahan di belakangnya membuat ia mengurungkan untuk melepaskan anak panahnya.
"Kenapa kau menghukum Fei? Dia tidak bersalah atas kejadian di pemandian!" Mei Xiu menatap tajam punggung pria di hadapannya. Seolah tatapannya mampu menembus punggung Guang Xu dan melubanginya.
Guang Xu bergeming, ia kembali fokus pada titik sasaran di depannya, mengabaikan ungkapan protes Liu Wen. Pria itu tersenyum samar. Sesuai dugaannya, Liu Wen akan datang sendiri padanya dan memintanya untuk membebaskan pelayan kesayangannya tersebut. Dan saat yang dinantinya tiba, dia akan kembali bersenang-senang dengan kekesalan Liu Wen padanya.
Melihat ketidakpedulian Guang Xu terhadap tindakan protesnya, Mei Xiu berjalan dan berdiri tepat di depan Guang Xu, menghalangi pandangan pria itu pada papan sasaran didepannya.
Guang Xu masih bergeming, ekor matanya melirik sekilas Mei Xiu yang tengah memandangnya dengan wajah penuh kekesalan karena diabaikan.
"Minggir!" titah Guang Xu dengan wajah datar.
Mei Xiu kian mengangkat dagunya dengan tinggi, seakan tengah menantang Guang Xu.
"Aku tidak akan bergeser sedikitpun sebelum kau mengeluarkan Fei!" Mei Xiu berujar tegas.
"Dia pantas mendapatkannya!" Guang Xu masih mengangkat busur dan anak panahnya. Tak mengindahkan tatapan mematikan yang di lemparkan padanya.
"Itu bukan salah Fei!" tukas Mei Xiu bersikeras.
"Jadi kau mengakui bahwa itu kesalahanmu?"
Guang Xu menurunkan busur dan anak panahnya, mengarahkan sepasang iris coklat gelapnya menghujam ke dalam manik mata perempuan didepannya.
"Jadi, kau sudah menyadari akan kesalahanmu?" Guang Xu menarik satu sudut bibirnya.
Mei Xiu terbungkam, bibirnya bergerak-gerak tak jelas lengkap dengan ekspresi gugupnya. Pertanyaan Guang Xu benar-benar memukul telak dirinya.
"Tentu saja ini juga salahmu!" sembur Mei Xiu cepat. Guang Xu menarik sebelah alisnya. "Itu semua salahmu! Jadi, kau tidak boleh menghukum Fei!" Mei Xiu membuang pandangannya ke arah lain, kedua tangannya terlipat didepan d**a. Hanya sebuah alibi sebenarnya, karena ia tengah menghindari tatapan Guang Xu yang membuat sekujur tubuhnya terasa panas dingin.
Sial! Ada apa denganku?
"Kau picik.".
Kepala Mei Xiu menoleh cepat, kedua matanya membulat.
Apa? Dia baru saja mengataiku?
Mei Xiu hendak membuka bibirnya untuk membalas perkataan Guang Xu, namun pria itu kembali membungkamnya.
"Kau menyalahkan orang lain dan membuat orang lain di hukum atas kesalahanmu. Bukankah itu picik namanya?" Mei Xiu nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar hal itu. "Kau yang melakukan kesalahan dan Fei yang menerima hukumannya. Itu karena dia tidak bisa mencegahmu melakukan tindakan bodoh," lanjut Guang Xu masih dengan wajah datarnya yang sangat menyebalkan di mata Mei Xiu.
Mei Xiu merasa tertohok atas pernyataan itu. Ia ingin sekali mengeluarkan kata-katanya untuk membalas perkataan pria di depannya. Namun, bibirnya seolah menyatu dan suaranya seakan tertahan di tenggorokan.
"Pergilah! Kau hanya menggangguku," usir Guang Xu tak berperasaan. Dia kembali mengangkat busurnya dan kembali fokus pada papan sasaran di depan sana.
Mei Xiu mendengus kasar, wajahnya sudah merah padam menahan kekesalannya. Dan Guang Xu bukan orang bodoh yang tidak menyadari ekspresi Liu Wen yang masih menatapnya seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup.
Mei Xiu menggeser tubuhnya, memposisikan dirinya berdiri tepat di ujung anak panah Guang Xu. Melempar tatapan menantang pada pria itu untuk melepaskan anak panahnya. Jika ia tak bisa membujuk Guang Xu dengan cara baik-baik, dia akan melakukan cara yang ekstrim..
"Pergi dari sini!".
Mei Xiu tidak bergerak sedikitpun bahkan ketika Guang Xu menatapnya dengan pandangan yang menakutkan. Yang akan membuat siapapun memilih menyingkir dan bertekuk lutut di bawah kaki Guang Xu saat sang kaisar sudah mengeluarkan tatapan seperti ini. Sebuah tatapan yang mampu membuat tubuhmu membeku seperti batu.
Namun, hal itu tidak berlaku untuk perempuan yang keras kepala seperti Mei Xiu.
Aku harus bisa membujuk singa buas ini!
Alih-alih takut akan tatapan pria di depannya. Mei Xiu justru semakin merasa tertantang untuk melakukan lebih. Bahkan kali ini, ia menempelkan keningnya tepat pada ujung anak panah Guang Xu.
Merasa kesabarannya mulai terbakar habis oleh tingkah Liu Wen, Guang Xu menurunkan busurnya dan melemparnya dengan sembarangan. Ia mengibaskan tangannya, memberi perintah pada beberapa pengawal dan pelayan disana untuk pergi.
Mendapati semua pengawal dan pelayan disekitarnya pergi, Mei Xiu seketika meneguk saliva dengan gugup. Jantungnya mulai berdegup kencang, menyadari Guang Xu hendak melakukan sesuatu padanya.
Mei Xiu hanya bisa membatin dengan jantung semakin berpacu cepat.
"Apa sebaiknya aku juga mengurungmu bersama Fei?"
Tanpa perlu berpikir panjang, Mei Xiu menggeleng cepat, dia hanya tidak ingin membayangkan bagaimana hidupnya jika harus kembali terkurung dalam sel gelap dan lembab itu. Tidak untuk kedua kalinya!
Guang Xu menarik sudut bibirnya.
"Aku akan membebaskan Fei." Mata Liu Wen memicing sesaat, menelisik ke dalam manik coklat gelap di depannya. Takut kalau-kalau Guang Xu sedang merencanakan sesuatu untuknya dengan membebaskan Fei tanpa dia harus melakukan sesuatu untuk Guang Xu.
Itu mustahil!
Pria bengis ini tidak akan semudah itu mengabulkan permintaannya.
"Tapi, ada satu hal yang harus kau lakukan."
Tepat seperti dugaannya. Guang Xu tidak akan membiarkan seekor semutpun luput dari hukumannya.
Dan Mei Xiu benar-benar bernasib sial.
***Empress of the Future***