Guang Xu memacu langkahnya dengan cepat menuju paviliun Liu Wen setelah turun dari kudanya. Para pelayan dan kasim yang selalu menemaninya pun di biarkannya jauh tertinggal di belakang. Guang Xu tak peduli itu. Dalam benaknya hanya ada Liu Wen. Pria itu bahkan sangat terburu-buru menyelesaikan kunjungannya di beberapa tempat ketika mendengar kabar bahwa sang permaisuri telah sadarkan diri.
Sesampainya Guang Xu di depan paviliun Liu Wen. Guang Xu segera mengayunkan kakinya untuk masuk ke dalam. Sebelum sampai di pintu kamar sang permaisuri, seorang pelayan membungkuk dan menyambutnya.
"Permaisuri sedang–"
Guang Xu tak memperdulikan apa yang hendak di katakan pelayan itu padanya. Dia hanya ingin melihat kondisi sang permaisuri. Setidaknya beban di pundaknya sedikit berkurang jika ia telah memastikan bahwa Liu Wen baik-baik saja.
Mei Xiu yang sedang memakai bajunya di temani beberapa pelayan, terkesiap saat mendengar suara pintu di geser dan menampilkan sosok Guang Xu dengan napas terengah menatapnya dengan mata membulat. Menyadari dirinya datang dan masuk disaat yang tidak tepat, Guang Xu segera membalikkan tubuhnya dengan cepat. Para pelayan yang masih membantu Mei Xiu mengenakan pakaian luarnya pun tak bisa menahan senyumnya melihat tingkah sang kaisar. Begitu pula dengan Mei Xiu, wajahnya sedikit bersemu merah.
"Maaf, aku tidak tahu jika kau sedang berganti pakaian," ujar Guang Xu sembari berdiri membelakangi Mei Xiu dengan kikuk.
Mei Xiu tersenyum singkat.
"Tak apa. Saya sudah selesai. Anda bisa berbalik sekarang." Mei Xiu memberi isyarat pada para pelayan untuk meninggalkannya. Mengerti akan situasi, para pelayan tersebut membungkuk sejenak kemudian bergegas pergi dari sana.
Guang Xu yang segera menyadari para pelayan telah pergi, pria itu perlahan membalikkan tubuhnya. Dengan langkah yang sedikit ragu, Guang Xu membawa dirinya mendekati Mei Xiu yang kini tengah mematutkan dirinya di depan cermin.
"Apakah kedatangan Yang Mulia untuk menemui saya?" tanya Mei Xiu nyaris tanpa emosi..
Guang Xu menatap pantulan Mei Xiu di dalam cermin dengan seksama. Perempuan itu tampak lebih anggun dalam balutan hanfu merahnya, serta beberapa hiasan dikepalanya dan sedikit riasan di wajahnya. Guang Xu tak pernah merasakan jantungnya berdetak sekencang ini ketika berada di dekat Liu Wen..
"Ya," sahut Guang Xu pelan, "aku hanya memastikan bahwa kau tidak mengutuk karena keinginanmu untuk mati kembali tertunda," lanjut Guang Xu dengan nada sarkastik.
Mei Xiu menarik sudut bibirnya. Ia membalikkan tubuhnya dan memandang tepat ke dalam mata Guang Xu. Ada sesuatu didalam tatapan sang kaisar. Sesuatu yang tersimpan begitu dalam, yang tak mampu Mei Xiu tangkap.
"Mungkin. Seharusnya aku mengutuk tapi, aku mulai berpikir. Hidup menjadi permaisurimu bukanlah hal yang sangat buruk, mungkin saja aku juga bisa sedikit bersenang-senang dengan Yang Mulia, seperti anda mencoba bersenang-senang dengan saya," ucap Mei Xiu di akhiri dengan seringaian kecil.
Terdengar kekehan pelan dari bibir Guang Xu saat melihat seringaian kecil di wajah Liu Wen. Dia tahu, Liu Wen memang sudah baik-baik saja. Perempuan ini tidak kehilangan ingatannya lagi ataupun berubah kembali menjadi Liu Wen yang dulu.
Guang Xu mendorong tubuh Mei Xiu pelan hingga menyentuh cermin di belakangnya. Di pandangnya lekat wajah istrinya itu dengan seksama.
Satu tangan Guang Xu mengurung tubuh Mei Xiu, sedangkan tangan lainnya meraih pergelangan tangan Mei Xiu yang terluka.
"Jika kau berani melakukan hal bodoh ini lagi, kau harus bersiap menerima hukumanmu," desis Guang Xu dengan tatapan yang menakutkan.
Jantung Mei Xiu seketika bertabuh bagai genderang perang. Melihat seringaian lebar tersemat di wajah tampan Guang Xu. Mei Xiu sadar, sebuah bahaya tengah mengintainya. Dia meringis tatkala Guang Xu mempererat genggamannya pada pergelangan tangannya yang terluka, namun hal itu tak begitu Mei Xiu pedulikan, karena yang terpenting dari itu adalah keselamatan jantungnya.
Debaran jantungnya kian menggila seiring jarak yang terkikis di antara mereka. Mei Xiu tak tahu mengapa. Dia hanya mulai merasa takut melihat tatapan Guang Xu padanya. Keheningan yang mencekam masih menyelimuti keduanya, hanya desahan napas masing-masing yang mengisi celah.
Pandangan Guang Xu tak sedetikpun berpaling dari manik kembar Liu Wen yang berbinar di bawah penerangan cahaya. Setiap menatap iris coklat kelabu didepannya. Ia menemukan kegelapan, kemarahan, dan kesedihan yang tersembunyi begitu dalam.
"Buang semua pikiran bodohmu untuk mati lebih cepat." Guang Xu menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar. "Kau tidak boleh mati tanpa seizinku dan kau tidak boleh pergi kemanapun tanpa diriku!"
Mei Xiu tergelak mendengar rentetan kalimat itu.
Memangnya siapa pria di depannya ini hingga tidak mengizinkan dia untuk mati?
Lantas, apakah Guang Xu akan terus menempel di sisinya seperti hantu?
Tentu saja, itu adalah sebuah kutukan yang buruk untuk Mei Xiu.
"Kau..gila!" desis Mei Xiu ketus.
"Kau bisa mengataiku sesuka hatimu," katanya acuh, "tapi jangan pernah sekalipun kau berpikir bisa melarikan diri dariku!" tegas Guang Xu dengan wajah sedatar mungkin.
"Kau benar," Mei Xiu mengangguk, "aku memang tidak akan bisa lari darimu. Bahkan itu di kehidupan selanjutnya sekalipun." Suara Mei Xiu merendah di akhir kata. Ada binar lain dalam tatapannya yang tak mampu Guang Xu pahami..
"Apa kau masih berpikir akulah yang membunuh seluruh keluargamu?" Suara itu terkesan dingin dan tanpa emosi. Namun Mei Xiu tahu, Guang Xu tengah menutupi kegetiran dalam nada suaranya.
"Aku tidak membencimu," sahut Mei Xiu begitu lugas, namun ada setitik keraguan dalam sorot matanya. Entah itu sebuah jawaban atas pertanyaan yang Guang Xu lontarkan ataukah pernyataan untuk dirinya sendiri..
Guang Xu menatap lekat, menelisik jauh ke dalam sepasang netra coklat bening Liu Wen. Perempuan itu sama sekali tidak menyimpan kebencian terhadapnya, seperti apa yang dia pikirkan selama ini. Namun, itulah yang membuat Guang Xu marah.
"Seharusnya kau..,"
"Membencimu?" potong Mei Xiu dengan cepat. Napasnya berubah memburu. Pandangannya berubah dalam seperkian detik..
"Aku ingin membencimu. Namun entah kenapa, ini sangat sulit." Mei Xiu menggeleng. Dadanya naik turun menahan sesak yang tiba-tiba menyusup dalam rongga hatinya. "Bahkan setelah semua yang terjadi. Beberapa hal yang sama sekali tak kumengerti, tidak ada celah untuk membencimu."
Mei Xiu tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, sesuatu yang menyesakkan semakin meremas dadanya. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan gemuru hatinya. Mei Xiu tak mengerti mengapa perasaannya berubah dalam hitungan detik, mungkinkah ini adalah apa yang dirasakan Liu Wen sebenarnya? Kata-kata yang ia ucapkan pun, meluncur dengan bebas dari bibirnya.
Pandangan Guang Xu mulai melunak. Ia melepaskan cengkramannya pada pergelangan tangan Mei Xiu, kemudian meraih pinggul perempuan itu. Tubuh Mei Xiu menegang dalam dekapannya yang begitu intim.
"Jadi..," Guang Xu mengerutkan dahinya, "kau tidak membenciku?" Mei Xiu memalingkan wajahnya ke arah lain. Menghindari tatapan Guang Xu yang seolah menekan hatinya. Dia hanya tidak ingin Guang Xu menguak lebih dalam lewat matanya. Pria itu sepertinya mulai tahu banyak tentang dirinya. Dirinya sebagai Mei Xiu. Bukan Liu Wen.
"Seharusnya kau membenciku." Perkataan Guang Xu yang sarat akan emosi, mengundang senyuman miring di bibir Mei Xiu. "Bahkan ketika kau dikurung di ruangan bawah tanah, seharusnya kau semakin membenciku. Seharusnya kau juga meminta padaku untuk menyelamatkanmu, bukan justru memohon padaku untuk secepatnya melakukan eksekusi."
Kalimat selanjutnya justru membuat senyuman dibibir Mei Xiu semakin melebar. Bukan senyum kelegaan, melainkan senyuman yang menyiratkan sebuah perasaan yang tak bermakna. Senyuman yang menyiratkan beribu arti.
Mei Xiu mengalihkan pandangannya pada Guang Xu. Dia berusaha mencari binar yang lain, namun nihil. Mei Xiu hanya menemukan setitik getir yang tersimpan. Harus dia akui, Guang Xu jauh lebih pandai menyembunyikan semua perasaannya, bahkan dalam sorot matanya sekalipun.
"Tidakkah kau sadar bahwa aku bukanlah Liu Wen yang kau kenal? Aku bukan perempuan yang sama, aku adalah orang lain yang menempati tubuh yang sama."
Seperti biasa, Mei Xiu berucap tanpa menunjukkan ekspresi.
"Lalu?" Guang Xu menaikkan sebelah alisnya, "kau ingin aku percaya apa yang kau katakan?"
Mei Xiu terdiam dengan wajah kesal melihat ketidakpedulian Guang Xu akan pertanyaannya.
"Ya! Seharusnya kau percaya apa yang kukatakan!" tegas Mei Xiu penuh emosional.
Mei Xiu sadar, Guang Xu tidak sebodoh itu untuk mempercayai kata-katanya. Orang gila mana yang akan percaya jika seseorang mengatakan padamu bahwa; yang ada di dalam tubuhnya saat ini bukanlah dirinya sendiri, melainkan orang lain. Itu hanya akan terdengar seperti lelucon bodoh untuk mencari alasan.
"Bagaimana jika aku memang percaya, namun aku tidak peduli tentang siapa dirimu?" Guang Xu berujar pelan.
Mei Xiu sedikit melebarkan irisnya mendengar kalimat itu.
"Kau akan menyesalinya," simpul Mei Xiu dengan suara tertahan.
"Kita lihat saja, apa kau juga akan menyesalinya." Seringaian mengerikan itu membuat tubuh Mei Xiu meremang.
Seolah tak membiarkan perempuan itu mengambil napas atau mengucapkan sepatah kata lagi. Guang Xu dengan cepat membungkam bibir Mei Xiu dengan bibirnya.
Mei Xiu terbelakak. Ia berusaha mendorong tubuh Guang Xu menjauh darinya, memukul d**a bidang pria itu dengan kedua tangannya. Namun, tenaganya tidak cukup mampu untuk membuat Guang Xu menjarak darinya. Pria itu justru mengunci kedua tangan dan tubuhnya dengan erat, membuat Mei Xiu tak bisa bergerak dengan sesukanya. Mei Xiu hanya mampu menahan jeritannya dalam hati. Menahan perih di kepalanya.
Guang Xu semakin memperdalam ciumannya, menyapu lembut bibir Mei Xiu dengan tempo yang pelan dan hati-hati. Mei Xiu hanya mampu mematung dengan kedua tangannya meremas erat jubah Guang Xu. Setetes airmata jatuh di sudut matanya. Perih dan sakit menghantam dadanya secara bersamaan. Jantungnya kian berdetak dalam ritme yang cepat setiap kali Guang Xu mencecap bibirnya. Meninggalkan sensasi aneh yang menelusup masuk ke dalam dirinya..
Perlahan ciuman Guang Xu mulai turun ke leher jenjangnya, membuat Mei Xiu meringis merasakan permainan bibir Guang Xu pada lehernya. Tangan pria itu pun tak tinggal diam. Dengan gerakan pelan, Guang Xu mulai melepaskan pakaian luar Mei Xiu dan membiarkannya jatuh begitu saja di lantai.
Guang Xu hendak membuka tali yang mengikat di hanfu Mei Xiu ketika perempuan itu terisak sangat pelan. Terdengar bagai cicitan menyedihkan di telinga Guang Xu.
Mei Xiu sungguh ingin memberontak dan melepaskan diri, ia ingin melarikan diri saat itu juga. Namun, kedua kakinya seolah tertahan disana. Ringisan pelan dan suara isak tangis yang hendak pecah, coba ia tahan sekuat mungkin.
Guang Xu melepaskan pagutannya, ia memandang Mei Xiu yang kini tengah tertunduk dalam dengan wajah yang sudah basah oleh airmata. Mengulurkan jemarinya, Guang Xu meraih dagu Mei Xiu dan mengangkatnya dengan hati-hati, seolah apa yang dia lakukan bisa melukai perempuan itu.
Namun kenyataannya, dia memang sudah melukai Liu Wen.
"Aku tak memaksamu selama kau tidak menginginkannya," ujar Guang Xu pelan.
Mei Xiu membuka matanya dan menghentikan isak tangisnya. Perempuan itu kini terlihat begitu rapuh dan lemah. Jauh berbeda dengan Liu Wen yang menatapnya dengan tatapan menusuk dan wajah sinisnya.
"Istirahatlah," perintah Guang Xu singkat. Ia kemudian berbalik dan membawa langkahnya menuju pintu keluar, meninggalkan kamar Liu Wen.
Mei Xiu merosot lemas, tangisnya pecah tak terbendung. Airmata sialan itu bagaikan tumpahan air hujan yang begitu deras tanpa henti. Membasahi setiap jengkal wajah cantiknya. Tangannya meremas hanfu-nya dengan erat, isakkannya berubah menjadi erangan memilukan hati. Seolah ia begitu tersiksa akan semua yang dia alami. Pertahanannya runtuh dalam hitungan detik. Dia menanggalkan wajah sinisnya, melepaskan topeng sok kuatnya, bibirnya tak henti memaki pada sang takdir. Hingga ia merasa puas, hingga kesesakkan yang menghimpitnya perlahan melenyap.
Guang Xu yang sebenarnya masih berdiri di balik pintu, mendengar isakkan Liu Wen. Ia bisa mendengar dengan jelas isakan Liu Wen. Kedua tangannya terkepal dengan rahang mengatup rapat.
***REBIRTH***
Guang Xu melangkah memasuki kediaman ibu suri Cixi tanpa ingin repot-repot membalas salam yang di berikan para pelayan padanya. Wajahnya tampak begitu setenang air. Namun, sedikit berbeda pada sorot matanya yang menyimpan bara api, yang seakan siap untuk membakar dan menghanguskan siapapun yang berani mengusiknya.
"Ada apa gerangan Yang Mulia mengunjungi wanita tua yang rentah ini?" tanya ibu suri dengan nada merendah, kontras dengan tatapan matanya yang justru mengatakan sebaliknya.
Pria tampan bergaris wajah tegas itu berdiri tegak di depan ibu suri Cixi. Keagungan yang diperlihatkan sang ibu suri masih tak cukup mampu menyamai Guang Xu.
Guang Xu menyimpulkan senyum di wajahnya sekilas sebelum berkata. "Saya mendengar bahwa ibu suri menolak permintaan kerjasama dari kekaisaran Jepang."
"Saya berpikir panjang untuk keputusan itu." Ibu suri Cixi tersenyum sejenak. "Pertama, mereka akan menawarkan kerjasama, bagaimana jika akhirnya mereka menawarkan sebuah peperangan?"
Guang Xu menarik sudut bibirnya, tersenyum merendahkan.
"Tidakkah ibu suri berpikir bahwa tanpa sekutu, peperangan tidak akan pernah bisa dimenangkan? Ataukah ibu suri melupakan sesuatu, bahwa Qing juga membutuhkan sokongan dari luar? Apakah karena Anda takut jika saya mulai melakukan sebuah perubahan?"
Bibir wanita itu berkedut mendengar kalimat berisi sindiran halus tersebut. Memaksakan seulas senyum, ibu suri Cixi berkata. "Yang Mulia seharusnya mempertimbangkan banyak hal untuk melakukan sesuatu. Saya dengar, Yang Mulia bahkan menjadikan mantan tahanan sebagai permaisuri Anda. Bagaimana dengan itu? Tidakkah tindakan Yang Mulia membuat seluruh rakyat mencibir?"
Guang Xu mengepalkan kedua tangannya dengan erat, sebisa mungkin ia tetap mempertahankan ketenangannya di hadapan ibu suri. Meski kini emosinya mulai tersulut setiap kali menyangkut istrinya.
"Saya tidak asal memilih permaisuri." Guang Xu menarik sudut bibirnya. Pandangannya menatap lurus sang ibu suri dengan pembawaannya yang begitu tenang.
"Saya melakukannya untuk menebus rasa bersalah saya atas tindakan kejam yang dilakukan Qing pada keluarganya hanya untuk sebuah kekuasaan. Bukankah itu sebuah timbal balik yang menguntungkan?" Ibu suri tak bereaksi, wanita itu diam memandang Guang Xu tajam.
"Jika Liu Wen menjadi permaisuri saya, bukankah seluruh klan Hoju yang merupakan orang-orang penting, juga bisa menjadi pilar untuk kita? Ibu suri sendiri yang mengatakan pada saya, untuk memanfaatkan mereka. Dan saya mendengar dengan baik nasihat dari ibu suri." Guang Xu menarik salah satu sudut bibirnya,
Ibu suri menipiskan bibirnya, rahangnya mengeras menahan amarah. Dia merasa Guang Xu sedang menghina dirinya dengan kata-katanya.
"Dan satu lagi yang ingin saya sampaikan." Tatapan Guang Xu menyiratkan suatu peringatan. "Jika Anda berani menyentuh milik saya, saya tidak akan segan berubah menjadi anjing gila yang akan menggigit tuannya."
Guang Xu melempar seringaian dan pandangan mengancamnya sebelum beranjak pergi dari ruangan ibu suri dengan langkah yang ringan. Ia seolah merasa puas dengan mengatakan semuanya, tanpa peduli apa yang akan dilakukan oleh ibu suri padanya.
Sepeninggal Guang Xu, wanita itu melempar apapun yang ada di hadapannya untuk meluapkan kemarahannya. Matanya berkilat dengan marah.
"Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja!" Tangannya meremas kuat kertas dalam genggamannya yang tak lagi berbentuk.
"Pelayan Zun!!" Seorang pelayan datang tergopoh-gopoh menghadapnya.
"Hamba, ibu suri." Pelayan itu membungkuk dengan wajah ketakutan melihat kemarahan ibu suri.
"Apa kau sudah membereskan siapa yang meletakkan racun di minuman putri Jing Mey seperti yang ku perintahkan?"
Pelayan itu menunduk dalam. "Sudah ibu suri, dia sudah menghilangkan semua bukti yang mengarah pada anda."
Ibu suri berpaling dengan raut wajah tak terbaca. Untuk beberapa lama, ia tak berkata apapun. Tatapannya seolah menyiratkan sesuatu.
"Apakah kaisar tahu siapa yang menyuruh pelayan itu?"
"Sepertinya kaisar sama sekali tidak mengetahuinya, ibu suri."
***Empress of the Future***