Mei Xiu sadar betul setiap resiko yang harus dia hadapi setiap kali bersinggungan dengan pria dingin dan kejam ini. Hidupnya pasti akan jauh dari kata baik-baik saja.
Entah, sejak kapan ia mulai merasa bahwa akhir dunia menghampirinya setiap kali dia harus berhadapan dengan Guang Xu. Mei Xiu bahkan sudah menyebut Guang Xu dengan sebutan singa buas yang tak berperasaan.
Selamat dari kematian, namun terjebak dengan dewa kematian itu sendiri. Ini benar-benar sial untuk Mei Xiu. Bertemu dengan Guang Xu tidak lebih baik dengan bertemu seorang malaikat kematian.
"Aku hanya harus mendekati paman itu saja, bukan?"
Guang Xu mengangguk dengan wajah datarnya seperti biasa. Sepasang netra coklat gelap sekelam malamnya, mengawasi setiap pergerakan seorang pria yang ber-usia akhir lima puluhan, sedang sibuk bermain judi bersama para pria yang lainnya.
"Tapi ... , sepertinya dia bukan orang baik. Bagaimana jika dia mencelakaiku? Bagaimana jika nanti melakukan sesuatu yang aneh padaku? Kau akan bertanggung jawab?" Suara Mei Xiu berubah memelas. Dia sangat berharap bahwa Guang Xu akan berubah pikiran.
"Kau bahkan bisa mencelakai dirimu sendiri," ujar Guang Xu dengan ekspresi menyebalkan.
Mei Xiu mendelik kesal mendengar sindiran halus tersebut. Pria ini memang pandai membalas setiap kata-katanya dan membuatnya tak bisa berkutik lagi.
Mendengus kasar, perempuan itu keluar dari balik tembok bangunan yang semenjak tadi menjadi tempat persembunyian mereka untuk mengawasi pria itu.
"Kau juga harus membuatnya percaya padamu. Lakukan sesuai apa yang aku perintahkan tadi." Mei Xiu hanya menyahut dengan dengusan sebal. Perempuan itu mengayunkan kakinya menuju gerombolan para pria yang sedang sibuk bermain judi.
Sebelum mereka datang ke tempat ini, Mei Xiu dan Guang Xu sudah lebih dulu mengganti pakaian mereka dengan yang lebih sederhana supaya tak menarik perhatian orang-orang disekitarnya, dan memudahkan mereka bergaul di tengah keramaian.
"Jika saja aku tidak merasa bersalah dengan Fei, aku tidak akan sudi melakukan perintahnya. Bagaimana jika pria ini ternyata orang jahat lalu mencelakaiku? Apa dia akan bertanggung jawab? Dasar makhluk tak berperasaan!"
Sepanjang langkahnya, Mei Xiu tidak berhenti mengutuk dan melontarkan makian untuk Guang Xu. Mei Xiu menoleh sekilas, melihat Guang Xu yang tengah bersandar pada dinding bangunan di belakangnya dengan kedua tangan bersedekap didepan d**a.
"Dia bahkan tidak melakukan apapun! Dia hanya memanfaatkan posisinya untuk membalasku!" Diiringi dengan gumaman dan gerutuan tak berarti, Mei Xiu mulai mendekati para pria tersebut. Namun, baru lima langkah ia berjalan, tiga orang pria berpenampilan bak preman menghampirinya.
"Hei nona! Sedang apa disini sendirian?" Salah seorang dari mereka mencolek lengannya. Mei Xiu menepis kasar tangan jahil yang mulai menyentuhnya dengan kurang ajar.
"Menjauh kalian!" bentak Mei Xiu dengan tatapan setajam mungkin. Dia mulai panik melihat gelagat tiga pria didepannya.
"Dia galak sekali, hahahaha!" Ketiga pria itu tidak berhenti meskipun Mei Xiu berkali-kali menghardik mereka, melontarkan bermacam makian dan cacian, bahkan tatapan tajam mematikan yang dia berikan sama sekali tidak mempengaruhi para bandit ini.
Orang-orang yang lewat disekitarnya hanya meliriknya dengan pandangan kasihan tanpa berani menolong. Karena mereka tahu, siapapun yang berurusan dengan mereka, pasti akan celaka. Dan mereka lebih memilih menghindar untuk menyelamatkan diri.
"Menjauh darinya!"
Suara dingin yang membekukan itu membuat aksi para bandit itu berhenti.
***REBIRTH***
Guang Xu menyenderkan tubuhnya, sedang sepasang manik coklat gelapnya mengawasi setiap langkah Liu Wen di depan sana. Dia tak bisa menahan senyumnya melihat Liu Wen yang sesekali menghentakkan kakinya kesal. Dia hanya ingin memberi hukuman kecil pada perempuan itu. Sesekali, Liu Wen juga harus patuh dengan perintahnya. Dia hanya tidak bisa mentolerir kesalahan sekecil apapun.
Bukan tanpa alasan dia meminta Liu Wen untuk mendekati si pria tua yang sedang duduk bermain judi bersama beberapa pria lain di dalam kedai. Melihat sekilas penampilan pria setengah baya tersebut dengan pakaian lusuh dan rambut panjangnya yang seolah tak pernah di cuci selama satu Minggu, membuat siapapun pasti akan berpikir jika dia adalah seorang tuna wisma yang berkeliaran. Bahkan pria itu terlihat seperti seorang pemabuk yang ketagihan berjudi.
Pria tua itu bernama Kang Zhang Xin, mantan seorang panglima perang di masa pemerintahan kaisar Xianfeng, yang kemudian memutuskan mengundurkan diri dari posisi panglima semenjak kaisar Xianfeng mangkat. Guang Xu masih belum mengetahui alasan pasti tuan Kang pergi. Karena itu, dia begitu tergoda untuk membuat tuan Kang berada di pihaknya.
Guang Xu masih terus mengawasi Liu Wen yang kini hampir masuk ke dalam kedai. Namun, para bandit tiba-tiba menghadang langkah perempuan itu dan mulai mengganggu Liu Wen.
Guang Xu menggeram marah melihat para pria itu bahkan dengan berani menyentuh sang permaisuri. Sang kaisar segera menegakkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Liu Wen yang berkali-kali mencoba mengusir ketiga pria tersebut, menepis tangan-tangan jahil yang tak henti menyentuhnya.
"Menyingkir darinya!"
Suara dingin dan tajam itu seketika menghentikan mereka.
Perhatian mereka seketika teralihkan pada Guang Xu.
"Wahhh ada yang mencoba menjadi pahlawan disini." Salah satu dari mereka mencemooh. Mengira jika Guang Xu adalah salah satu orang yang kebetulan lewat dan berusaha menolong Mei Xiu.
Kedua tangan Guang Xu yang sudah terkepal, bersiap melayangkan tinjunya ke wajah para bandit tersebut. Namun, pria itu berusaha menahannya untuk menghindari keributan di tempat ini. Dia hanya tidak suka menjadi pusat perhatian. Ralat, dia dan Mei Xiu sekarang memang sudah mulai menjadi pusat perhatian oleh orang-orang yang berada disana.
"Pergi dari sini, sebelum aku menghajar kalian!" desis Guang Xu. Dia masih berusaha melunak dan memberi kesempatan ketiga pria itu untuk segera menyingkir.
Akan tetapi, ancaman itu justru membuat mereka tergelak. Tawa ketiga orang itu sudah pecah.
"Memangnya kau ini siapa? Apa kau suami perempuan ini, hah?"
Mei Xiu mendelik dengan wajah memerah, dia menatap ke arah Guang Xu. Menunggu reaksi pria itu, yang ternyata diluar dugaannya.
"Jika benar, apa kalian akan segera menyingkir dari sini?" tanya Guang Xu masih memberi kesempatan pada mereka.
Melihat tatapan Guang Xu yang seakan bersiap membunuh salah satu dari mereka, hampir membuat para pria itu mundur ketakutan. Namun, melihat puluhan pasang mata yang tengah memperhatikan mereka. Merasa harga diri mereka akan terluka jika mereka mundur begitu saja.
Semua orang ditempat ini, sudah mengenal ketiganya sebagai bandit yang suka meminta upeti pada para pedagang. Dan mereka tidak akan segan menghajar siapa saja yang menolak memberikan upeti pada mereka.
"Apa benar dia suamimu?" Salah seorang dari mereka mencolek dagu Liu Wen, yang kemudian segera ditepis dengan kasar oleh perempuan itu.
"Jangan berani menyentuhnya!" geram Guang Xu dengan amarah tertahan. Dia mulai kehilangan kesabaran. Tangannya dengan cepat meraih leher pria tadi dan menekannya kuat, cengkramannya seolah hendak meremukkan tulang leher pria itu.
"Sudah ku peringatkan padamu untuk tidak menyentuhnya!"
Guang Xu mematahkan pergelangan tangan kanan pria itu hingga terdengar bunyi retakan tulang dan disusul dengan pekikan kesakitan.
Kedua temannya tidak tinggal diam melihat apa yang dilakukan Guang Xu pada salah satu teman mereka. Keduanya kemudian mulai menyerang Guang Xu yang tentunya bisa dengan mudah menangkis setiap serangan dua pria tersebut hanya dengan satu tangan.
Guang Xu melepaskan leher pria tersebut dari tangannya, menendang pria itu hingga tubuhnya membentur dinding dibelakangnya dengan sangat keras. Kemudian menghajar dua pria lainnya yang dengan percaya diri menantangnya. Mereka benar-benar bunuh diri dengan melempar tubuhnya untuk menantang Guang Xu.
Mereka bergantian menyerang Guang Xu dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Namun, pria itu dengan mudah dan gesit menghindari serangan para bandit tersebut. Orang-orang yang melihat perkelahian mereka pun cukup tercengang. Pasalnya, selama ini tidak ada yang berani secara terang-terangan melawan tiga bandit itu yang selalu memalak uang para pedagang dan mengganggu orang-orang disana.
Guang Xu memandang ketiga pria yang kini sudah terkapar tak berdaya. Wajah para bandit itu dipenuhi lebam dan darah mengalir di sudut bibirnya.
"Jika aku melihat kalian berbuat masalah lagi, aku tidak akan segan menghabisi kalian bertiga!" Ancaman itu cukup membuat ketiga pria yang tengah meringis kesakitan menjadi gemetar ketakutan.
Tuan Kang yang semenjak tadi memperhatikan perkelahian itu dari dalam kedai, hanya tersenyum sekilas kemudian kembali meneguk araknya. Wajah pria itu nampaknya memahami sesuatu.
***REBIRTH***
"Ini salahmu! Seharusnya kau tidak menyuruhku melakukan pekerjaan ini! Kau benar-benar memanfaatkan situasiku hanya untuk keuntungan pribadimu!" Mei Xiu bersungut-sungut kesal.
Setelah kejadian di pasar, Mei Xiu bergegas meminta untuk pulang. Sepanjang perjalanan tak hentinya ia menggerutu seraya melempar makian pada Guang Xu.
Guang Xu tidak peduli akan ocehan panjang perempuan yang berjalan di belakangnya. Dia sudah menulikan telinganya untuk mendengar semua u*****n Liu Wen dan tetap membawa kakinya melangkah dengan tenang.
"Jika saja kau tidak menyuruhku untuk mendekati pria tua pemabuk itu, para bandit itu pasti tidak akan menggangguku!" tambahnya lagi dengan nada lebih tinggi.
Namun, seperti menganggapnya angin lalu, Guang Xu tetap bergeming akan segala macam gerutuan yang dilontarkan Liu Wen. Pria itu lebih memilih memikirkan bagaimana caranya untuk menemui tuan Kang tanpa mendapat penolakan dari pria itu dan membujuknya untuk kembali ke istana.
"Kau tidak mendengarkan aku bicara sejak tadi? Hah?!" Mei Xiu berseru kesal melihat Guang Xu yang masih tidak memperdulikannya. "Oh, astaga! Aku merasa sedang berbicara dan marah-marah dengan patung! Bahkan anjing pun setidaknya menggonggong saat aku berteriak pada mereka," gerutunya disertai dengusan kesal. "Sekarang, penuhi janjimu untuk membebaskan Fei!"
Guang Xu menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba dan berbalik menghadap Liu Wen, membuat perempuan itu yang berjalan di belakangnya nyaris menabrak d**a bidang Guang Xu.
"Kau memang suka bertindak semaumu!" dengus Mei Xiu sebal. Perempuan itu mendongak untuk menatap pria yang menjulang tinggi di depannya. Seketika ia merutuki dirinya yang terlihat begitu mungil di hadapan Guang Xu.
"Kau gagal. Jadi aku tidak akan membebaskannya." Nada pria itu terdengar lebih menyebalkan dari biasanya di telinga Mei Xiu.
Guang Xu kembali membalikkan badannya dan berjalan cepat meninggalkan Mei Xiu yang melotot kesal. "Apa?! Kau curang!" Mei Xiu berseru dengan penuh kekesalan. "Setidaknya kau harus menghargai atas usahaku! Salah siapa jika aku gagal karena tiga bandit itu!"
Dia mengangkat sedikit hanfu yang dia kenakan untuk berjalan menjejeri langkah Guang Xu yang berjalan cepat didepan. Perempuan itu sedikit berlari untuk bisa mengimbangi langkah Guang Xu, kemudian menghadang pria itu dan membuatnya dengan terpaksa menghentikan langkahnya.
Mei Xiu menatap mata pria di depannya dengan emosi yang meluap-luap.
"Jika kau tidak mau membebaskan Fei, aku akan mengeluarkan dia dengan caraku sendiri!" tegas Mei Xiu penuh penekanan.
Rasanya sia-sia saja dia melakukan semua ini, Guang Xu tetap akan bergeming hanya dengan ocehan panjangnya. Bahkan, pria itu tidak akan tersentuh meski dia menggunakan cara paling halus sekalipun. Baginya, Guang Xu adalah manusia tidak memiliki simpati yang pernah dia temui.
Ketika keduanya berjalan dalam diam dengan Mei Xiu yang masih menyimpan kekesalannya, tiba-tiba sebuah anak panah melesat cepat ke arah mereka. Jika saja Guang Xu tidak dengan cepat menarik perempuan itu dan melindunginya, mungkin anak panah itu sudah bersarang di kening Mei Xiu.
"Oh! Apa itu?" pekik Mei Xiu terkejut dalam dekapan Guang Xu. Napasnya tercekat. Sesuatu yang bisa dia lihat secara samar tadi melesat cepat di depan matanya.
"Ada seseorang yang ingin mencelakaimu," bisik Guang Xu pelan, pandangan pria itu menyapu ke segala arah, mencari sosok si pemanah.
Namun, sepertinya orang tersebut lebih cepat hingga Guang Xu tak bisa melihat pergerakan apapun. Hanya pepohonan dengan daun rimbun sejauh mata memandang, tak menemukan tanda-tanda jika ada seseorang di balik sana. Pria itu beralih pada anak panah yang menancap pada batang pohon di belakang mereka. Mencabut anak panah tersebut. Mengamatinya.
Mei Xiu yang masih terkejut akan kejadian itu, hanya bisa mematung dengan lidah keluh. Jantungnya nyaris melorot turun mendengar ada seseorang yang akan mencelakainya dengan melesatkan anak panah ke arahnya.
Bagaimana jika tadi Guang Xu tidak dengan cepat menariknya untuk menghindari anak panah itu? Pasti dahinya sudah berlubang sekarang. Membayangkan hal itu, Mei Xiu bergidik.
"Ini panah beracun," bisik Guang Xu tak percaya setelah meneliti dan mencium ujung anak panah tersebut.
"A-apa? Pa-panah beracun?" Mei Xiu meracau dengan wajah tegang. Dia meraba dahinya, memastikan bahwa dahinya benar-benar baik-baik saja. Dia kemudian menghela napas lega. Sedetik saja Guang Xu terlambat, dia sudah meregang nyawa saat ini.
"Sebaiknya kita segera pergi!" Mei Xiu hanya menurut ketika Guang Xu menarik tangannya untuk segera pergi dari sana.
***Empress of the Future***