Mei Xiu hanya berdiam diri di dalam kolam pemandian permaisuri. Sudah sejak satu jam yang lalu, perempuan itu berendam di dalam sana, tanpa melakukan apapun.
Fei yang setia menunggunya, merasa sedikit heran akan kondisi Liu Wen. Pasalnya, perempuan itu menolak memakan apapun hari ini. Liu Wen hanya berkata, jika dia ingin berendam di kolam saja. Dan itu sudah dilakukan Liu Wen sejak berjam-jam lamanya.
"Permaisuri, apa Anda ingin makan sesuatu? Hamba akan membawakannya."
Mei Xiu menoleh, menatap tak suka atas panggilan barunya dari Fei.
"Kau tak perlu memanggilku dengan embel-embel menjijikkan itu!" tukas Mei Xiu seraya membuang muka. Hatinya seolah diremas perih.
"Ta-tapi ... ."
"Aku tak suka panggilan itu, kau harus memanggilku seperti biasa," potong Mei Xiu dengan nada datar.
Merasa perintah Liu Wen tak bisa di bantah, pada akhirnya Fei mengangguk dan melakukan apa yang di katakan Liu Wen padanya.
"Aku tidak ingin apapun. Tinggalkan aku sendiri! Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam tempat ini!" perintah Mei Xiu dengan tegas, tak terbantahkan.
"Tapi permaisuri–ah maksud saya, putri–"
"Kubilang, tinggalkan aku sendiri!" bentak Mei Xiu keras.
Fei berjengit kaget mendapat bentakan itu, sesuatu yang tak pernah Liu Wen lakukan padanya selama sepuluh tahun dia menjadi pelayan perempuan itu. Dengan enggan dan wajah yang dilanda kebingungan, Fei berjalan keluar bersama pelayan yang lain, meninggalkan Liu Wen di dalam sana.
Mei Xiu menghembuskan napasnya dengan kasar. Setelah memastikan tak ada siapapun di tempat ini. Pandangannya tertuju pada pisau buah yang tergeletak tak jauh darinya, yang sedari tadi begitu menarik perhatiannya.
Seketika itu pula, sebuah pemikiran bodoh kembali terlintas dalam benaknya.
Mei Xiu beranjak, mengambil pisau buah tersebut dan membawanya ke tepi kolam pemandiannya. Untuk beberapa lama, perempuan itu hanya diam memandangi pisau dalam genggamannya.
Mungkinkah jika ia mencoba menyayat pergelangan tangannya dan mati, dia akan kembali ke tubuhnya dan berada di masa depan?
Jika dia terjebak di tempat ini karena dia melompat dari lantai tiga gedung apartemennya, bukankah dia juga bisa kembali ke masa depan dengan mencoba hal yang sama?
Dia hanya ingin pulang.
Kalaupun jika dia tidak bisa kembali, setidaknya dia tidak akan terus-menerus terjebak ditempat ini.
Menghembuskan napas panjang, Mei Xiu mulai memantapkan hatinya. Dia hanya perlu menyayat pergelangan tangannya, dan setelah itu semua akan berakhir dengan baik, bukan?
Ya, dia hanya perlu menahan rasa sakitnya.
Mei Xiu menutup kedua matanya. Perlahan, seiring dengan gerakan tangannya, pisau tajam itu menggores pergelangan tangannya begitu dalam. Hingga darah segar mengalir deras dari bekas sayatan tersebut.
Mei Xiu meringis merasakan perih yang tak tertahankan. Namun perempuan itu memilih diam, menikmati setiap rasa sakit yang begitu menusuknya, kemudian menenggelamkan tubuhnya ke dalam air. Seketika warna air yang tadinya jernih, berubah keruh oleh cairan merah kental yang terus-menerus keluar dari luka tersebut.
Hingga pada akhirnya, Mei Xiu mulai merasakan pandangannya menggelap, seiring kesadarannya yang tertarik jatuh ke dasar.
Setelah ini, dia berharap tidak akan terbangun untuk kedua kalinya.
***REBIRTH***
Fei sebenarnya tak ingin meninggalkan Liu Wen sendirian. Pelayan itu hendak kembali masuk ke dalam ketika ia mendengar pengawal mengumumkan kedatangan Guang Xu.
Para pelayan segera membungkuk memberi salam.
"Dimana permaisuri?" tanya Guang Xu pada Fei.
"Permaisuri sedang berendam di kolam, Yang Mulia. Dia tidak ingin ditemani oleh siapapun," ujar Fei dengan wajah sedikit ketakutan.
Mendengar hal itu, Guang Xu mengernyit. Dengan langkah cepat, pria itu masuk ke dalam. Menghampiri kolam pemandian sang permaisuri.
Napas Guang Xu seakan terhenti saat melihat sesosok tubuh tengah mengambang di tengah kolam. Tak terkecuali Fei yang berdiri di belakang Guang Xu. Pelayan itu bahkan sudah merosot lemas, tak mampu menahan berat tubuhnya dengan kedua kakinya.
Tanpa pikir panjang, Guang Xu segera masuk ke dalam kolam dan membawa tubuh Liu Wen ke daratan.
"PELAYAN!" Mendengar teriakan Guang Xu yang menggelegar, beberapa pelayan yang semenjak tadi berjaga di luar karena perintah Liu Wen, masuk dengan tergopoh-gopoh.
Mata mereka pun membulat sempurna melihat apa yang terjadi. Sebuah pemandangan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup mereka.
Sang permaisuri, tergeletak dengan tubuh yang mulai memucat dan dengan bekas sayatan yang dalam di pergelangan tangan kirinya. Darah segar masih menetes dari luka itu.
Guang Xu tak bisa menyembunyikan kepanikannya. Wajah yang biasanya datar tanpa banyak ekpresi itu kini begitu terpukul dan cemas. Guang Xu mencoba membangunkan Liu Wen, memanggil nama perempuan itu berkali-kali dengan gusar.
"CEPAT PANGGIL TABIB!" seru Guang Xu memandang para pelayan yang masih mematung di tempatnya.
Mendengar seruan keras sang kaisar, mereka segera tersadar dan berlari tergopoh memanggil tabib.
Guang Xu mencoba kembali membangunkan Liu Wen yang berada dalam pangkuannya. Pria itu berusaha mencari denyut nadi di pergelangan tangan Liu Wen.
"Wen, Bangunlah!" pinta Guang Xu dengan penuh kegusaran. Namun tak mendapat respon sedikitpun dari perempuan dalam dekapannya.
***REBIRTH***
Luka Liu Wen cukup dalam. Bisa saja nyawa sang permaisuri tidak tertolong jika Liu Wen tidak di temukan secepatnya. Guang Xu tahu, Liu Wen pasti akan kembali berusaha melakukan hal gila lainnya setelah perempuan itu mengancam dengan menusuk lehernya dengan tusuk rambutnya. Saat itu pula Guang Xu sadar, perkataan Liu Wen tidak main-main ketika ia menatap jauh ke dalam manik coklatnya. Liu Wen yang ia kenal benar-benar telah jauh berubah..
"Aku tidak menyangka jika Liu Wen akan melakukan tindakan senekat ini, paman." Guang Xu memandang Liu Wen yang masih tak sadarkan diri selama tiga hari ini. Sedangkan seorang pria yang dipanggilnya paman, hanya diam mendengarkan.
"Liu Wen sudah berubah, apa itu karena diriku?" Entah pertanyaan itu ia tunjukkan untuk dirinya sendiri ataukah pada tuan Weng yang berdiri sedikit jauh di depannya, dipisahkan oleh sebuah kelambu transparan yang menjadi sekat diantara mereka.
"Mungkin dengan hal ini, permaisuri akan menjadi lebih kuat agar bisa bertahan disisi Yang Mulia," ujar tuan Weng dengan nada bijak.
Pria berusia separuh abad itu memang begitu bijaksana dan selalu berperan sebagai penasihat sekaligus sosok ayah untuk Guang Xu. Tuan Weng adalah orang yang sudah di percayakan oleh mendiang ayahnya, pangeran Chun, untuk menjaganya sejak Guang Xu diangkat menjadi kaisar diusia empat tahun, menggantikan kaisar Tong Tji yang mangkat. Usia yang masih terbilang sangat muda dan belum cukup memumpuni untuknya memegang tampuk kekuasaan dan memerintah. Karena itu, sebelum Guang Xu mencapai usia yang matang. Ibu suri Cixi, bibi Guang Xu sekaligus ibu angkatnya, yang menjalankan kekuasaan di belakang tirai sebagai wali Guang Xu. Selama itu pula, Guang Xu mengalami banyak masa-masa sulit karena perlakuan ibu suri Cixi padanya.
Disamping semua itu, sosok tuan Weng yang merawatnya. Mendidik Guang Xu seperti putranya sendiri. Bahkan pria itu sama sekali tak pernah membedakan kasih sayangnya untuk Guang Xu dan Lao Yen.
"Liu Wen ... ," Guang Xu mendesah dalam, "sepertinya dia sangat membenciku, karena berpikir bahwa aku yang membuat semua keluarganya terbunuh."
Pandangan Guang Xu menerawang. Ruangan yang sangat luas tersebut pun terasa begitu menyempit karena desahan napas panjang Guang Xu. Pria itu kini terlihat begitu rapuh, jauh berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan khalayak umum, bahkan di hadapan Liu Wen sekalipun.
"Itu bukan murni kesalahan Yang Mulia. Ibu suri yang mengirim pasukan untuk menyerang kerajaan Hoju, Anda masih terlalu muda dan sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menghentikannya," ujar tuan Weng mencoba membesarkan hati Guang Xu.
Kalimat itu sama sekali tak membuat perasaan Guang Xu menjadi ringan. Justru ketika fokusnya memandang Liu Wen yang tak kunjung membuka matanya, hatinya semakin terasa begitu berat.
Tuan Weng memilih diam tak menjawab. Membiarkan keheningan menjadi teman dalam ruangan itu. Dan tanpa seorang pun dari mereka menyadari, jemari Liu Wen bergerak pelan. Tubuh perempuan itu sempat menegang mendengar kalimat terakhir Guang Xu.
***REBIRTH***
Mei Xiu termenung di atas tempat tidur hampir seharian ini setelah perempuan itu membuka mata. Ia masih terlalu enggan untuk beranjak dari atas tempat tidurnya. Tubuhnya masih terasa lemas akibat kurang asupan makanan karena tak sadarkan diri selama tiga hari ini.
Mei Xiu kembali menghela napas untuk kesepuluh kalinya dalam dua puluh menit terakhir. Seorang pelayan yang bertugas melayaninya pun melihat kegundahan hati sang permaisuri.
"Permaisuri, apakah Anda tidak membutuhkan sesuatu?" tanya wanita itu menarik kesadaran Mei Xiu.
Perempuan itu menoleh, mengukir senyum samar pada pelayan tersebut.
"Tidak." Mei Xiu menggeleng. Pelayan itu tak mengatakan apapun lagi. Dia memilih ikut terdiam. Untuk beberapa lama, keheningan terasa begitu kental dalam ruangan tersebut. Sang pelayan terlihat sedikit menyibukkan diri dengan menyiapkan Mei Xiu makanan.
Mei Xiu kembali memandang pelayan tersebut dengan wajah datarnya. "Apakah kaisar tidak datang kemari?"
Mei Xiu mungkin akan merutuki ucapannya jika tidak dalam keadaan seperti ini. Namun ego-nya mengalahkan pertanyaan besar yang muncul dalam benaknya. Sejak ia sadarkan diri kemarin, Guang Xu sama sekali tidak menemuinya. Atau mungkin, belum ada yang tahu jika ia sudah membuka matanya kembali?
"Kaisar masih ada urusan di luar istana, permaisuri. Anda tidak perlu cemas, beliau sudah menerima pesan bahwa permaisuri sudah sadarkan diri." Pelayan wanita itu tersenyum lembut. "Kaisar pasti akan segera datang," lanjutnya. Senyum diwajah pelayan itu seakan menegaskan padanya bahwa Guang Xu memang mencemaskannya.
Mei Xiu mengangguk sekali kemudian kembali terdiam. Membiarkan keheningan kembali menyelimuti mereka.
"Hamba rasa, kaisar sangat mencemaskan Anda permaisuri. Selama Anda tidak sadarkan diri, Yang Mulia selalu ada disisi Anda. Kaisar bahkan membatalkan beberapa pertemuan penting supaya memiliki waktu untuk menjaga permaisuri."
Mei Xiu mengangkat kepalanya dan matanya mengerjap tak percaya. Bagaimana mungkin sosok sekejam Guang Xu yang memperlakukannya dengan begitu dingin dan tak berperasaan, mencemaskannya? Itu terdengar sangat mustahil bagi Mei Xiu.
"Benarkah itu?"
Wanita berusia setengah abad tersebut mengangguk dengan wajah penuh keyakinan. "Benar, permaisuri.”
Mei Xiu tiba-tiba teringat akan kalimat terakhir Guang Xu saat ia mendapatkan kesadarannya sesaat. Meski samar-samar, Mei Xiu cukup bisa mendengar apa yang dikatakan Guang Xu sebelum kesadarannya kembali terhempas. Ia tahu, menguping dan mencuri dengar pembicaraan bukanlah hal yang baik dan sopan. Namun, rasa penasaran dan keingintahuannya jauh lebih besar di bandingkan memikirkan kesopanan kala itu. Dia hanya tidak sengaja mendengar sekilas percakapan Guang Xu dengan seseorang yang tak diketahuinya. Lagipula, salahkan saja Guang Xu yang mengatakan hal tersebut dengan begitu mudah di depannya. Sekalipun saat itu Guang Xu tak mengetahui bahwa ia sempat tersadar.
Memikirkan kembali akan kalimat Guang Xu, Mei Xiu merasa sangat penasaran akan hubungan dua orang tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi diantara keduanya?
Tatapan Guang Xu pada Liu Wen seolah menyorotkan beribu kebencian yang teramat dalam. Bahkan Guang Xu tak segan bertindak sesuka hatinya untuk membuat Liu Wen terintimidasi.
"Permaisuri, putri Bae Hao ingin menemui Anda."
Seorang pelayan datang menghampirinya, memberitahu kedatangan kakak sepupu Liu Wen. Tanpa mengatakan apapun, Mei Xiu hanya mengangguk sekali. Memberi isyarat untuk mempersilahkan putri Bae Hao menemuinya.
Selang beberapa detik, seorang perempuan yang jauh lima tahun lebih tua darinya, berjalan sedikit tergesa dengan wajah dipenuhi kecemasan. Dia bahkan terlihat sedikit menjinjing hanfu-nya untuk memudahkan langkahnya. Sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya begitu tenang.
"Liu Wen, kau baik-baik saja?" Putri Bae Hao duduk di sisi Liu Wen. "Lukamu baik-baik saja bukan?" Putri Bae Hao memperhatikan pergelangan tangan Liu Wen yang telah dibalut oleh tabib dengan kain kasa.
Mei Xiu tersenyum dua jari. Dia merasa bersalah pada putri Bae Hao yang begitu memperdulikan dan mencemaskannya.
"Maafkan saya ... ," gumam Mei Xiu lirih.
Putri Bae Hao tersenyum lembut. Wajahnya yang teduh serta tatapannya yang hangat, membuat Mei Xiu merasa nyaman setiap kali didekat putri Bae Hao.
"Kau sangat suka membuatku cemas. Apa yang kau pikirkan hingga melakukan hal senekat ini?" Putri Bae Hao memukul ringan bahunya dengan wajah kesal bercampur sedih. Mei Xiu meringis pelan. Bukan sebab pukulan itu, melainkan ia merasa sependapat dengan pertanyaan yang dilontarkan putri Bae Hao.
Kenapa dia lagi-lagi melakukan hal bodoh ini?
"Maaf jika saya membuat anda cemas," ungkap Mei Xiu menyesal.
Putri Bae Hao menggerutu pelan.
"Kau tidak tahu betapa cemasnya aku mendengar tingkah bodohmu itu? Jika kau ingin mati, maka lakukan dengan benar! Kenapa kau hanya menyayat nadi di pergelangan tanganmu? Kenapa tidak sekalian kau memutuskan semua urat lehermu?" gerutu putri Bae Hao panjang lebar. Perempuan itu meneteskan airmata. Mei Xiu kian merasa terbebani oleh perasaan bersalah karena membuat perempuan didepannya bersedih, dengan gerakan pelan, ia merengkuh putri Bae Hao ke dalam pelukannya.
"Kau tahu bahwa aku sangat menyayangimu, Wen. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kenapa kau tidak juga mengerti akan hal itu?" ujar putri Bae Hao di sela tangisnya.
Mei Xiu hanya tersenyum seraya menepuk punggung kakak sepupu Liu Wen untuk menenangkannya. Dia benar-benar merasa iri pada Liu Wen, yang memiliki orang yang tulus menyayanginya seperti putri Bae Hao.
Setelah mampu meredam tangisnya dan menguasai perasaannya, putri Bae Hao menarik diri, memandang Liu Wen dengan lekat. Ia meraih jemari Liu Wen dan menggenggamnya erat, menyalurkan kehangatan ke dalam hati perempuan itu.
"Kau sudah seperti adikku sendiri." Perkataan itu menohok ulu hati Mei Xiu. "Jadi jangan lakukan hal bodoh apapun yang bisa membahayakan nyawamu!" pintanya dengan emosional.
Mei Xiu kemudian mengangguk, masih dengan senyum dua jarinya. Sebenarnya ia sedang berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikan tangisnya.
Apakah dia pantas menerima semua kehangatan dan ketulusan perempuan ini? Apakah putri Bae Hao tetap akan memperlakukannya dengan hangat jika ia tahu bahwa dirinya bukan Liu Wen yang dia kenal selama ini?
"Saya berjanji," angguk Mei Xiu pelan, "saya tidak akan membuat Anda cemas," lanjutnya meyakinkan sosok perempuan di depannya.
"Akan tetapi, bisakah kakak menceritakan suatu kebenaran?"
Putri Bae Hao tertegun sejenak, menatap Mei Xiu dengan wajah kebingungan.
Mei Xiu menarik napas panjang, ia tidak akan menarik keputusannya untuk menanyakan hal ini pada putri Bae Hao.
"Benarkah yang membunuh seluruh keluargaku adalah kaisar? Benarkah itu semua atas perintah dari kaisar?"
Putri Bae Hao terdiam beberapa saat. Tatapannya memandang jauh ke dalam lensa coklat bening Mei Xiu.
"Sepertinya kau sudah mulai bisa berpikir lebih dewasa." Putri Bae Hao tersenyum singkat. Ia meraih jemari Liu Wen dan menggenggamnya erat, seakan menyalurkan ketenangan untuk perempuan itu.
"Sebelumnya kau sama sekali tak pernah menyinggung ataupun menanyakan soal ini. Tapi, kali ini aku senang karena itu artinya, kau ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya." Putri Bae Hao menarik napas panjang sebelum kembali melanjutkan.
"Ibu suri Cixi lah yang menjadi dalang dibalik peristiwa sepuluh tahun yang lalu. Guang Xu sama sekali tak memiliki kekuasaan apapun saat itu, ia hanyalah seorang remaja yang menduduki kursi kaisar tanpa memegang wewenang dan kekuasaannya sebagai seorang kaisar. Dia hanyalah boneka yang diperalat oleh ibu suri Cixi. Karena itulah, aku juga ada disini karena keluargaku memilih tunduk pada ibu suri Cixi, Wen."
Mei Xiu termenung, meresapi setiap penjelasan dari sepupu Liu Wen. Setidaknya saat ini ia mengerti, mengapa Liu Wen dan Guang Xu memiliki hubungan yang tidak baik.
"Kau sebelumnya selalu menutup mata dan telingamu, mengabaikan kenyataan bahwa bukan Guang Xu yang membunuh seluruh keluargamu sepuluh tahun lalu, Wen." Putri Bae Hao tersenyum, ia sedikit merasa tenang melihat Liu Wen yang seperti saat ini. Liu Wen jauh lebih tegar dan kuat dari sebelumnya.
"Dan satu hal lagi yang perlu kau ketahui, ibu suri jugalah yang membuatmu dihukum atas perbuatan yang tidak kau lakukan. Tujuannya untuk apa lagi? Selain menyingkirkan semua orang yang ada di pihak Guang Xu. Dan dia nyaris berhasil dengan sekali tembak, dia bisa membunuh tiga burung sekaligus."
Mei Xiu mengernyit tak mengerti. "Apa maksudnya?"
Putri Bae Hao tersenyum dengan gemas. "Tujuannya adalah menyingkirkan putri Jing Mey sebagai calon permaisuri kaisar, menggantinya dengan seorang calon dari pihaknya. Dan dia menjadikanmu kambing hitam, karena kaisar sangat peduli denganmu. Karena itu, ia melakukan cara tersebut. Rencananya nyaris berhasil jika saja kaisar tidak menangkap pelayan yang meletakkan racun di minuman putri Jing Mey."
Mei Xiu mengangguk mengerti, kali ini ia paham akan situasi seperti apa yang pernah dihadapi oleh Liu Wen dan bagaimana hubungannya dengan Guang Xu. Hidup memang benar-benar tidak bisa ditebak.
Mei Xiu berjanji dalam hati untuk dirinya sendiri. Apapun yang akan terjadi dan bagaimanapun takdir membawanya ke tempat ini. Dia akan berusaha mulai menjalaninya dengan baik. Dia hanya perlu mengikuti kemana arus akan membawanya sebelum bermuara. Mungkin ini salah satu fase kehidupan yang harus diterimanya, suka ataupun tidak. Dia sudah terlanjur terseret ke tempat ini. Bagaimanapun juga, ia harus segera menyesuaikan diri dengan kehidupannya yang sekarang.
Mungkin Tuhan sedang merencanakan sesuatu yang indah untuknya di masa depan. Itulah yang sampai hari ini menjadi kepercayaan yang dia pegang dengan teguh. Mungkin juga, ada sesuatu yang harus ia selesaikan disini, yang tak mampu Liu Wen atasi. Mungkin karena itu, dia berada disini, untuk menjawab sang takdir dan menyelesaikan semuanya.
***Empress of the Future***