Fei berdiri gelisah di depan pintu kamar Liu Wen. Setelah ia keluar sebentar dari paviliun untuk mengambil makanan, Liu Wen sudah tidak ada di kamarnya saat Fei kembali. Pelayan itu berjalan mondar-mandir dengan cemas, menanti Liu Wen yang tak kunjung kembali. Ketika matanya menangkap sosok Liu Wen, Fei tergopoh-gopoh menghampiri Liu Wen yang berjalan serampangan dengan pandangan kosong.
Tuan putrinya tersebut terlihat sedikit kacau.
"Putri, Anda dari mana saja? Tuan putri harus istirahat di kamar. Putri Bae Hao akan marah jika mendapati putri tidak istirahat di kamar." Fei memberondongnya dengan kalimat menyebalkan. Dia takut jika harus kena marah kakak sepupu Liu Wen. Putri Bae Hao benar-benar menjaga Liu Wen seperti adiknya sendiri.
Mei Xiu menghentikan langkahnya dan menatap Fei tajam, seolah meminta pelayan tersebut untuk tidak mengganggunya. Fei seketika terdiam dengan wajah takut. Entah kenapa, ia merasa Liu Wen menjadi lebih menakutkan sejak terkurung di penjara bawah tanah. Fei mulai merasa, bukan hanya ingatan putri mudanya itu yang hilang, melainkan perilaku dan sifat Liu Wen pun berubah sepenuhnya.
Mei Xiu kembali berjalan setelah membuat Fei terbungkam hanya dengan tatapannya. Namun, Fei segera mengekor di belakang Liu Wen. Pelayan itu terkejut ketika melihat luka goresan kecil dengan darah yang belum mengering di leher kanan Liu Wen.
"Putri, leher Anda terluka," lirih Fei dengan penuh khawatir.
Mei Xiu tidak kunjung bereaksi. Perempuan itu membuka pintu kamarnya dengan pelan, mengabaikan Fei yang mengekor dibelakangnya.
"Putri harus istirahat, saya akan memanggilkan tabib istana." Fei hendak berbalik dan berjalan keluar ketika sahutan Mei Xiu menghentikannya.
"Tidak perlu," katanya singkat masih tanpa ekspresi.
Fei mengernyit tak mengerti. Pelayan muda itu hampir menuruti perintah Mei Xiu. Namun ketika matanya kembali terarah pada luka di leher Mei Xiu, dia tidak memperdulikan larangan Mei Xiu dan segera berjalan tergesa keluar untuk memanggil tabib.
Mei Xiu hanya mendengus gusar melihat kepergian Fei. Perempuan itu menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang cukup besar. Hingga akhirnya matanya berhenti pada sebuah meja yang tak jauh didepannya. Tepatnya pada sebuah pisau buah yang tergeletak di atas meja tersebut.
***REBIRTH***
Mei Xiu hanya bisa menurut ketika beberapa pelayan melepaskan pakaiannya. Perempuan itu mengernyit dengan wajah risih ketika mereka mulai melepaskan satu-persatu pakaian bagian luar, kemudian berlanjut hingga menyisahkan dalaman tipis yang menutupi tubuhnya hingga sebatas d**a. Memperlihatkan bahu serta leher jenjangnya yang putih tanpa cela.
"Tidak bisakah aku mandi sendiri saja?" tanya Mei Xiu dengan tatapan memohon. "Aku tidak terbiasa jika ada orang lain menyentuh privasiku!" Ini adalah permohonan dan keluhan protes yang sudah di lontarkan selama belasan kali oleh Mei Xiu. Namun, hal itu sama sekali tidak ditanggapi oleh para pelayan.
Fei menggeleng. "Tidak bisa, putri. Setiap bagian tubuh Anda juga harus diperiksa," jelas Fei dengan wajah tenang.
Mei Xiu melotot tajam. "Apa? Tidak bisa!" Mei Xiu menghardik para pelayan tersebut dengan kesal, mencoba menghentikan para pelayan yang mulai membuka pakaian dalamnya. Namun, hal itu tidak membuat para pelayan berhenti. Karena mereka tahu, hukuman kaisar akan jauh lebih menakutkan dibandingkan kekesalan Liu Wen.
"Maaf putri, ini sudah menjadi perintah. Kami harus memeriksa setiap jengkal tubuh Anda untuk memastikan Anda tidak memiliki bekas luka," jelas kepala pelayan dengan tenang namun tegas, membuat Mei Xiu mendengus sebal.
"Memangnya kenapa jika aku memiliki bekas luka?" tanya Mei Xiu dengan ketus. Semua orang pastinya memiliki bekas luka. Entah itu luka kecil atau besar, apa masalahnya? Apakah dia akan dikirim ke penjara untuk kedua kalinya jika dia memiliki bekas luka?
"Seorang perempuan yang memiliki bekas luka permanen ditubuhnya, dia tidak akan bisa menjadi istri kaisar," jelas kepala pelayan tersebut.
Mendengar hal itu, wajah Mei Xiu seketika berubah cerah. Dia seolah teringat sesuatu.
"Aku memiliki bekas luka bakar di punggungku, dan itu permanen. Jadi, kalian bisa mulai berhenti sekarang dan biarkan aku pergi. Aku tidak akan menjadi istri kaisar karena bekas luka tersebut," ucap Mei Xiu dengan enteng. Dia mulai santai dan membiarkan para pelayan melanjutkan tugasnya membuka pakaian dalamnya untuk memeriksa bekas luka yang dia maksud.
Kepala pelayan tersebut tersenyum menanggapi perkataan Mei Xiu. Wanita itu kemudian memerintahkan para pelayan untuk melepaskan seluruh pakaian Liu Wen dan memastikan tidak ada luka di tubuh perempuan itu.
"Bagaimana? Benar kataku, bukan?" Mei Xiu menatap para pelayan itu bergantian setelah mereka selesai memeriksa punggungnya. Namun mereka justru tersenyum, mengundang kerutan samar di dahi Mei Xiu.
"Tubuh Anda sama sekali tidak memiliki bekas luka permanen, putri. Anda tidak memiliki bekas luka seperti yang Anda katakan," kata salah satu pelayan padanya.
Mendengar hal itu, mata Mei Xiu membulat. Perempuan itu segera meraih salah satu pakaiannya yang sudah terlepas dari tubuhnya untuk menutupi sebagian tubuhnya, meskipun dia tahu, hal itu hanya berakhir sia-sia. Perasaan malu seketika menguar dari wajah perempuan itu.
Dia merutuki kebodohannya. Dia seharusnya ingat, bahwa tubuh yang dia tempati adalah milik Liu Wen, bukan tubuhnya sendiri. Jadi, tentu saja luka bakar yang dia bicarakan tidak pernah ada.
Bodoh!
Dan pada akhirnya, Mei Xiu hanya bisa pasrah ketika para pelayan menuntunnya ke kolam pemandian.
Kolam yang ia gunakan cukup luas untuk di pakai lima hingga sepuluh orang, bahkan Mei Xiu merasa ia bisa berenang dengan leluasa jika ia mandi sendirian. Air kolam begitu jernih dengan di taburi bermacam bunga yang mengeluarkan aroma menyegarkan. Menggelitik penciumannya.
Para pelayan mulai menggosok setiap bagian tubuhnya tanpa terlewatkan satupun. Sesekali Mei Xiu menggerutu protes ketika mereka tanpa sengaja menyentuh bagian sensitifnya.
Mei Xiu ingin sekali memaki para pelayan ini dan meminta mereka berhenti. Ia merasa harga dirinya di ambang kehancuran karena membiarkan orang lain menyentuh setiap bagian tubuhnya. Sekalipun mereka juga perempuan. Mei Xiu benar-benar merasa tidak nyaman dan terhina.
Setelah ritual mandi yang amat sangat membosankan dan membuatnya ingin memaki seseorang. Mei Xiu diam mematung memandang pantulan dirinya di dalam cermin dengan hanfu putih gading dan hiasan rambut dengan bentuk bunga tersemat di atas kepalanya, terselip di antara helaian surai hitamnya. Wajahnya pun sudah di poles sedemikian rupa, hingga bekas memar di pelipis dan pipinya tersembunyi dengan begitu baik oleh riasannya.
"Anda cantik sekali, putri," puji Fei di belakang punggungnya, pandangannya pun tak lepas dari sosok Mei Xiu di dalam cermin tersebut. Terkagum.
Mei Xiu menyadari satu hal.
Mei Xiu dan Liu Wen, adalah sosok yang sama. Hanya saja, mereka hidup di masa yang berbeda.
Mata bulat dan iris coklat terang bagai langit senja. Tulang hidung yang tinggi, alis tebal, serta sepasang bibir ranum yang mempesona. Secara keseluruhan, mereka sama. Hanya, sorot mata serta tatapan mereka yang berbeda.
Mei Xiu yang memiliki tatapan tajam menusuk serta terkesan begitu angkuh dan dingin. Sedangkan sosok Liu Wen adalah perbandingan terbalik darinya.
Dan sekarang, tidak ada lagi sosok Liu Wen yang lembut dan ceria.
Mei Xiu mulai penasaran, apa sebenarnya yang terjadi pada perempuan bernama Liu Wen?
Mengapa dia terjebak di tubuh Liu Wen di masa dinasti Qing?
Tidakkah ini semua terdengar sangat tidak masuk akal?
Beratus kalipun dia memikirkan semua pertanyaan ini, hanya akan berakhir dengan pertanyaan pula.
"Tuan putri, apa yang sedang putri pikirkan?"
Pertanyaan Fei di belakangnya seketika membuyarkan lamunannya.
"Tidak ada," sahut Mei Xiu menggeleng.
Apakah ini awal dari penderitaan ataukah akhir dari segalanya?
Ketika ia membalikkan tubuhnya. Mei Xiu menyadari, ini adalah saat dimana penderitaan yang sesungguhnya akan di mulai.
"Anda sudah bersiap, putri?"
Mei Xiu menurut ketika Fei menuntunnya keluar. Membawanya ke aula utama istana, dimana pernikahannya dengan sang kaisar akan di laksanakan.
**REBIRTH**
Mei Xiu bergerak tidak nyaman di tengah duduknya. Matanya menyapu setiap sudut ruangan. Sesekali ia melempar pandangan gelisah ke arah pintu didepannya.
Sebuah keinginan untuk kabur dan menerobos pintu itu, begitu menggodanya. Namun, Mei Xiu seketika itu pula sadar, dia harus menanggung akan konsekuensinya. Di depan sana, di balik pintu yang semenjak tadi mencuri perhatiannya, ada sekitar sepuluh orang penjaga dan pengawal yang berdiri berjaga. Dia tidak cukup bodoh menerobos para pengawal dan penjaga yang bersenjata. Mungkin sebelum dia menginjakkan kakinya di luar pintu, para penjaga itu pasti akan langsung menangkapnya. Dan Mei Xiu tidak ingin membayangkan jika dia kembali dikurung dalam ruang bawah tanah yang sangat pengap.
Sebenarnya bukan hal itu yang ia takutkan, melainkan kehadiran sosok yang hingga saat ini tengah dinantinya adalah hal yang membuatnya dilanda gelisah.
Dia ingin kabur dari tempat ini. Dia ingin melarikan diri sejauh mungkin.
Tapi, kemana dia akan melarikan diri?
Dimana dia bisa bersembunyi dari Guang Xu?
Tentunya Guang Xu akan selalu bisa menemukannya. Tempat ini adalah kekuasaannya.
Mei Xiu menunduk, memperhatikan pakaian yang dia kenakan pada upacara pernikahannya dengan pandangan yang sulit di artikan. Upacara pernikahan memang sudah berakhir sejak beberapa saat yang lalu. Dan yang membuatnya sangat kesal adalah, dia dengan segala ketidakberdayaannya di kurung dalam ruangan ini, menanti sosok sang kaisar.
Mei Xiu masih sulit untuk bisa percaya, menerima kenyataan bahwa dia terjebak dimasa lalu dan sekarang ia bahkan telah menikah. Pertanyaan tentang; apa yang akan dia lakukan di malam pertamanya? Begitu menghantui pikirannya. Haruskah dia melepaskan seluruh pakaiannya lalu ... .
Perempuan itu menggeleng dengan gusar, menampik pikiran konyol dalam benaknya.
Seharusnya dia tidak berada ditempat ini, apalagi terjebak dalam pernikahan dengan sosok kaisar yang dingin seperti Guang Xu. Semua ini masih menjadi pertanyaan yang menari-nari di kepalanya. Dia sungguh tidak pernah membayangkan bahwa ia akan menjalani kehidupan dalam tubuh orang lain, apalagi sampai menikah dengan pria yang tak pernah ia kenal sama sekali.
Sekali lagi, Mei Xiu menghembuskan napas panjang. Lelah.
Suara pintu yang digeser pelan seketika membuat tubuhnya menegang. Matanya terpaku pada sosok tinggi tegap dengan jubah keemasannya, menampakkan dirinya dari balik pintu yang terbuka lebar.
Guang Xu dengan langkah tenang, mendekati Mei Xiu yang segera berdiri dari duduknya. Menyambut kedatangannya.
"Kau bisa segera mengganti pakaianmu," ujar Guang Xu seolah tak peduli dan kemudian berlalu begitu saja melewati Mei Xiu, tanpa perlu menatap perempuan itu.
Mei Xiu terperanjat. Dengan cepat dia membalikkan tubuhnya dan mencari sosok Guang Xu yang kini tengah mengganti bajunya di balik bilik yang menjadi sekat antara ruang ganti dan kamar mereka.
Mei Xiu mendecih sinis. Perempuan itu berjalan cepat menghampiri Guang Xu, bersiap melontarkan cacian dan makiannya untuk pria itu.
"Kau ... ." kata-katanya menggantung di udara ketika matanya menangkap sosok Guang Xu yang sedang menanggalkan jubah kebesarannya. Tidak, bukan karena punggung kokoh nan tegak milik Guang Xu yang kini tak tertutupi sehelai kain. Melainkan beberapa bekas luka sayatan yang memanjang, yang sepertinya sudah bertahun-tahun di dapatkan oleh Guang Xu.
Mei Xiu tercekat ketika Guang Xu membalikkan tubuhnya, pria itu melempar tatapan setajam mungkin, namun juga tersirat sedikit keterkejutan di dalam sana.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Guang Xu dengan intonasi rendah yang terdengar begitu mengerikan untuk Mei Xiu.
"A—aku ... ." Mei Xiu kehilangan kata-kata ketika mendapat pandangan menusuk dari Guang Xu.n
"Singkirkan tatapan menjijikanmu itu!" desis Guang Xu tajam. Dia begitu benci setiap kali ada yang menatapnya dengan pandangan kasihan.
Jika tatapan mata bisa membunuh, mungkin Mei Xiu sudah mati oleh tatapan pria di depannya.
"Ma—maaf ... aku ... ."
Mei Xiu tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena Guang Xu mendorong tubuhnya dengan kasar hingga membentur dinding. Namun, Mei Xiu tak peduli rasa sakit di punggungnya. Dia hanya peduli bagaimana caranya untuk tetap bernapas dengan benar dan mengendalikan detak jantungnya yang berdegup diluar batas normal karena tatapan Guang Xu bagai busur yang menembus jantungnya.
"Aku tidak suka kau menatapku seperti itu!"
Mei Xiu menegang seketika. Guang Xu seolah begitu menikmati setiap saat-saat membuat dirinya tersiksa dan terpojok seperti saat ini.
"Le—lepaskan aku ...," lirih Mei Xiu bagai anak kucing yang terpojok. Dia merasa detak jantungnya nyaris terhenti hanya dengan tatapan Guang Xu.
"Melepaskanmu?" Guang Xu menarik sudut bibirnya, "tidak, sampai kapanpun!" lanjutnya dengan tegas.
Mei Xiu tak mampu berkata lagi. Bibirnya benar-benar terbungkam seutuhnya. Perempuan itu hanya bisa membiarkan Guang Xu mengurung tubuhnya dalam tatapannya yang mematikan.
"Kau adalah milikku! Dan kau harusnya bersyukur, karena aku tidak membiarkanmu mati!"
Napas Mei Xiu mulai tak beraturan melihat seringaian kejam di wajah Guang Xu.
Dia masih berharap ini adalah mimpi. Mimpi buruk yang akan menghilang ketika dia terbangun di kamarnya yang kecil dan sederhana. Mimpi buruk yang akan berakhir ketika ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini memang benar mimpi. Maka, dia akan menutup matanya, lalu semua ini hanya akan menjadi bagian mimpi buruk yang akan ia lupakan seiring waktu ketika ia membuka matanya lagi. Namun, keraguan menyusup dalam dadanya tatkala mendapati sosok Guang Xu yang masih setia mengurungnya dalam keheningan mencekam, membuat dadanya kian terhimpit sesak.
Ekpresi dingin yang tergambar jelas di wajah tampannya, cukup mampu membuat sekujur tubuhnya membeku dalam tatapan yang begitu dalam. Bahkan jika ini benar-benar mimpi, kenapa rasa perih pada luka-luka yang masih membekas ditubuhnya membuatnya menggigil dalam kesakitan yang nyata?
"Bukankah ini yang kau inginkan?"
Mei Xiu merasakan napasnya terengah, suara itu bagai sihir yang mampu membekukan tubuhnya dalam seperkian detik.
Guang Xu menarik salah satu sudut bibirnya. Tersenyum miring.
"Menjadi permaisuriku, bukankah itu adalah keinginanmu sedari dulu?" Guang Xu memiringkan kepalanya, "Liu Wen?"
Mei Xiu merasakan tatapan itu menusuk hingga ke dalam jantungnya. Mengoyaknya perlahan.
"Aku?" Mei Xiu terkekeh tak percaya. Ia berusaha menguasai dirinya. Jika benar Liu Wen begitu menginginkan akan posisi ini, itu berarti, Liu Wen adalah perempuan bodoh yang dengan senang hati menjadi istri dari kaisar sedingin dan sekejam Guang Xu. Ini sama halnya dengan bunuh diri secara perlahan.
Mei Xiu membuang napas kasar. "Kenapa aku harus menginginkannya? Aku sama sekali tidak pernah bermimpi untuk menjadi istrimu!" desis Mei Xiu tak kalah tajam. Guang Xu hanya memasang wajah sedatar mungkin menanggapi kalimat Mei Xiu.
"Aku ingin pergi dari sini!" Mei Xiu membalikan tubuhnya hendak bergegas pergi, namun dengan gerakan cepat Guang Xu mencengkal pergelangan tangannya dengan kuat, membuat Mei Xiu meringis akibat cengkraman menyakitkan pada pergelangan tangannya.
"Kau tidak bisa lari dariku!" Guang Xu menariknya mendekat. Hingga jarak mereka berdua hanya sebatas satu kepalan tangan.
Mei Xiu benar-benar tersudut saat ini. Percuma saja ia meronta dan berontak, itu hanya akan semakin membuat Guang Xu merasa senang mempermainkannya. Mei Xiu mendongak, menatap pria di hadapannya yang tengah mengukir seringaian tipisnya.
"Aku menyelamatkan nyawamu, jadi kau harus membayarnya untuk sisa hidupmu!"
Mei Xiu tak bereaksi. Airmuka perempuan itu masih datar nyaris tanpa ekspresi apapun.
Guang Xu menelengkan kepalanya, menatap lekat paras cantik perempuan dihadapannya. Sepasang mata bulat dengan iris coklat terang, sorot matanya terkesan dingin dan dalam. Sepasang bibir ranum yang se-merah buah Cherry, membuat siapapun yang menatapnya tidak akan mampu menahan diri untuk tidak meraup sepasang bibir merah yang menggoda itu. Kulit putih sebening boneka porselen, yang nampak bercahaya di bawah temaram lampu ruangan. Kecantikan yang begitu sempurna, yang mampu menaklukkan pria manapun untuk jatuh dalam pesonanya.
Seringaian Guang Xu semakin melebar, pandangannya turun pada sepasang bibir milik perempuan didepannya.
"Sampai kapanpun, kau tidak akan bisa melepaskan diri dariku!"
Kali ini, mata Mei Xiu membulat seutuhnya merasakan bibir dingin itu mencecap permukaan bibirnya dengan kasar. Melumatnya begitu dalam, membuat pandangannya seketika berubah menggelap.
***Empress of the Future***