Mei Xiu yang sedang terbaring lemah, perlahan menggerakkan kedua kelopak matanya. Melihat pergerakan kecil dari Liu Wen. Putri Bae Hao dan Fei yang berjaga di dekat ranjang perempuan itu segera bergerak mendekati Liu Wen. Menunggu perempuan itu membuka mata sepenuhnya.
"Fei, panggilkan tabib sekarang!" perintah putri Bae Hao pada Fei, pelayan muda itu mengangguk patuh. Fei segera berlari ke luar ruangan untuk memanggil tabib dan berpapasan dengan Lao Yen yang hendak masuk ke dalam ruangan tersebut.
Melihat Fei yang berjalan tergopoh-gopoh, membuat Lao Yen seketika dilanda perasaan cemas. Pemikiran buruk tentang kondisi Liu Wen membuatnya melangkah lebih cepat masuk ke dalam ruangan.
Matanya menangkap sosok putri Bae Hao tengah memapah Liu Wen dan memberikan perempuan itu minum. Seketika dia menghela napas lega melihat Liu Wen telah sadarkan diri.
"Bagaimana keadaanmu?" Putri Bae Hao bertanya dengan nada cemas. "Bagian mana yang sakit? Fei sedang memanggil tabib untuk memeriksamu, tunggulah sebentar."
Mei Xiu tak menjawab. Perempuan itu memandang putri Bae Hao dengan kening berkerut samar. Dia tidak mengenal perempuan di hadapannya. Selama di dalam sel, ia tidak pernah mendapat kunjungan dari putri Bae Hao. Jadi tentunya, hal itu membuat Mei Xiu bertanya-tanya mengenai siapa sosok perempuan ini.
Melihat wajah kebingungan putri Bae Hao ketika tak kunjung mendapat reaksi akan pertanyaan yang di ajukannya pada Liu Wen, Lao Yen memutuskan untuk mendekat di antara mereka.
"Sepertinya putri Liu Wen kehilangan ingatannya, putri," ujar Lao Yen memberitahu. "Putri Bae Hao adalah sepupu anda," ujar Lao Yen pada Mei Xiu.
"Se—sepupu?" bisik Mei Xiu dengan gagap. Mei Xiu memandang putri Bae Hao beberapa lama, seolah mencoba memahami sesuatu. Ia ingat sekarang, bahwa perempuan didepannya ini adalah orang yang disebutkan dalam surat kecil yang diberikan Fei padanya saat berada didalam penjara.
Putri Bae Hao mendekatkan tubuhnya, kemudian meraih jemari Liu Wen dan menggenggamnya erat.
"Jadi benar yang dikatakan Fei, kau kehilangan ingatanmu?" tanyanya dengan sedih.
Mei Xiu merasa sedikit tenang mendengar suara putri Bae Hao yang begitu lembut. Tatapan perempuan itu meneduhkan, mengingatkan Mei Xiu akan sosok ibu panti asuhan yang merawatnya sejak kecil.
"Tak apa jika kau masih belum mengingat sedikitpun. Kau tidak perlu memaksakan diri," ujar putri Bae Hao menenangkan.
Mei Xiu menganggukkan kepalanya dengan ragu. Bukan karena ia mencoba mengingat sesuatu, melainkan ia terpaku akan setiap kelembutan dan tutur kata perempuan di hadapannya. Kalaupun dia berusaha mengingat tentang siapa putri Bae Hao dan hubungannya dengan Liu Wen, hanyalah sesuatu yang sia-sia. Dia bukan pemilik tubuh ini. Dia hanya seorang perempuan yang putus asa dengan kehidupan dan terjebak di masa ini dalam tubuh perempuan bangsawan bernama Liu Wen.
Suara pintu yang di geser mengalihkan fokus mereka sejenak.
Fei muncul dari balik pintu diikuti seorang tabib kerajaan.
"Saya sudah membawa tabib untuk memeriksa putri Liu Wen, putri."
Tabib tersebut kemudian dipersilahkan untuk memeriksa kondisi Liu Wen.
"Bagaimana kondisinya, tabib Nam?"
Putri Bae Hao bertanya ketika tabib selesai memeriksa kondisi Liu Wen, mulai dari denyut nadi hingga luka-luka di tubuh Liu Wen dengan hati-hati.
"Kondisi putri Liu Wen mulai membaik, putri. Kita hanya perlu menunggu luka-lukanya mengering. Saya akan menyiapkan obat untuk mempercepat proses penyembuhan luka-luka di tubuhnya."
Semua orang di ruangan itu terdengar menghela napas dengan lega mendengar penjelasan tabib Nam.
"Anda boleh pergi, tabib Nam."
Setelah tabib Nam pergi dengan di temani Fei. Putri Bae Hao kembali mengalihkan perhatiannya pada Liu Wen yang kini setengah berbaring di ranjangnya.
"Kau tidak perlu cemas sekarang. Setelah ini, kau akan baik-baik saja."
Mei Xiu tampak tak peduli akan hal itu. Beberapa detik kemudian, Mei Xiu menyadari sesuatu, ia menatap putri Bae Hao penuh selidik.
"Lalu, bagaimana dengan hukuman mati yang diberikan padaku?" tanyanya tanpa emosi.
Mendengar pertanyaan itu, Lao Yen dan putri Bae Hao saling bertukar pandang dengan wajah pucat.
Melihat tingkah aneh keduanya, mengundang kerutan halus di kening Mei Xiu.
"Kenapa? Apakah aku baru saja menanyakan pertanyaan yang salah?" ujar Mei Xiu dengan datar.
Putri Bae Hao segera tersenyum dan menggeleng. Namun, Mei Xiu bisa menangkap gelagat aneh dari kedua orang didepannya. Mereka seolah sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apakah aku melewatkan sesuatu saat tak sadarkan diri?" Mei Xiu memicingkan matanya dengan curiga.
"Tidak ada, Wen. Sebaiknya kau harus istarahat untuk memulihkan kondisimu. Jangan pikirkan hal lain," kata putri Bae Hao seraya menepuk punggung tangan Mei Xiu, menenangkan.
"Benar, putri. Anda harus cepat pulih." Lao Yen menyahut disertai senyuman lembut.
Mei Xiu merasa sedikit aneh ketika Lao Yen tersenyum begitu hangat padanya. Ini pertama kalinya seseorang tampak begitu tulus memperlakukannya. Namun bersamaan itu pula, ia mendapati tatapan berkabut dari pria itu. Yang entah mengapa, membuatnya merasakan ada sesuatu yang salah sedang terjadi disini.
"Kalian tidak menyembunyikan sesuatu dariku, bukan?" Mei Xiu memandang kedua orang didepannya bergantian.
Putri Bae Hao membalikkan tubuhnya dengan cepat. Perempuan itu seolah berusaha menghindari pandangan menuntut dari Mei Xiu yang membuatnya gugup.
Mei Xiu berpaling pada Lao Yen. Pria yang pernah menemuinya di penjara sekaligus orang yang hendak membawanya melarikan diri itu dengan seksama, menuntut Lao Yen untuk mengatakan sesuatu.
Melihat tatapan Mei Xiu mengarah padanya, Lao Yen berusaha sebaik mungkin untuk tidak menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya. Sedangkan putri Bae Hao menatap Lao Yen dengan tajam, memberi isyarat untuk diam dan tak mengatakan apapun.
"Aku harus menyelesaikan sesuatu. Kau harus istirahat hingga kondisimu pulih, Fei akan menemanimu dan menyiapkan semua keperluanmu seperti biasa."
Bersamaan itu, Fei muncul di mulut pintu setelah mengantar tabib Nam.
Putri Bae Hao dan Lao Yen sama-sama pamit untuk pergi, dan hal itu membuat kecurigaan Mei Xiu semakin bertambah. Hingga akhirnya sepeninggal keduanya dan ketika dia hanya berdua bersama Fei. Mei Xiu memutuskan untuk bertanya pada Fei. Tentunya, perempuan itu tidak akan berani berbohong ataupun menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ahh ... putri, apakah putri menginginkan sesuatu? Saya akan membawakan makanan untuk putri," kata Fei dengan wajah ceria, berusaha mencairkan suasana yang terasa begitu beku.
"Tidak." Mei Xiu menggeleng singkat, menolak tawaran Fei.
Seketika wajah pelayan itu berubah muram. Namun, bukan itu yang penting sekarang untuk Mei Xiu.
"Kenapa kaisar memberiku pengampunan? Bukankah aku akan di hukum gantung?"
Seperti dugaan Mei Xiu, Fei juga terlihat sedikit gugup ketika ia mengajukan pertanyaan yang hampir sama seperti sebelumnya.
"Itu ... karena kaisar sudah menemukan pelaku yang menaruh racun dalam minuman putri Jing Mey," jawab Fei dengan gelagapan.
Mei Xiu tahu jika itu mungkin salah satu yang membuat kaisar melepaskannya, namun dia masih tidak percaya begitu saja. Melihat tatapan Guang Xu beberapa waktu lalu, pria itu seperti sedang merencakan sesuatu yang jauh lebih buruk untuknya. Bahkan melihat tatapan dan seringaian Guang Xu padanya, itu jauh lebih menakutkan dibandingkan berhadapan dengan tiang gantungan.
"Kau juga tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, bukan?"
Fei meremas jemarinya dengan gelisah. Dan Mei Xiu tahu, pelayan didepanya ini memang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Saya seharusnya tidak boleh mengatakannya pada putri. Tapi menurut saya, putri juga harus tahu," kata Fei pelan dan hati-hati setelah terdiam cukup lama.
Mei Xiu mendengus gusar. "Jadi, cepat katakan apa yang memang seharusnya aku ketahui!" pinta Mei Xiu dengan nada tidak sabar.
Fei tampak menarik napas panjang sebelum berkata.
"Kaisar meminang Anda, putri."
Fei menelan ludah dengan susah payah setelah mengatakan satu kalimat itu. Dia sadar, setelah ini dia pasti akan mendapat kemarahan dari putri Bae Hao karena ia mengingkari janjinya untuk tidak mengatakan tentang hal ini pada Liu Wen. Tapi, bukankah putri-nya ini juga harus mengetahui akan hal itu?
"Ka—kau tidak bercanda, bukan?"
Mata Mei Xiu benar-benar membulat seutuhnya. Perempuan itu hampir tidak mempercayai jika saja anggukan Fei dan wajah sungguh-sungguh pelayan itu tidak membuatnya tersadar, bahwa apa yang dikatakan Fei, benar adanya.
Dan Mei Xiu kini tahu, apa yang didengar dan dilihatnya sebelum dia tak sadarkan diri, bukanlah sekedar mimpi. Itu nyata. Dan semua yang ada disini nyata, begitu pula dengan dirinya.
Apa yang dia dengar, apa yang dia lihat, dan apa yang dia rasakan disini, bukan sekedar mimpi. Semuanya benar-benar nyata dan Mei Xiu merasa tidak ingin mempercayainya.
***REBIRTH***
Manik coklat terang itu kian meredup, seiring pandangannya yang begitu hampa. Nyaris tanpa kehidupan didalamnya. Hembusan angin musim gugur yang menerbangkan helaian rambut hitamnya pun tak ia hiraukan. Pandangannya masih fokus pada objek di depan sana, pada satu titik yang sama. Entah, apa yang sebenarnya menarik seluruh perhatian perempuan bernetra coklat bening tersebut. Nyatanya, tak ada apapun yang cukup menarik perhatian di depan sana selain pohon-pohon besar dengan daunnya yang mulai berguguran.
Pikirannya tak menentu. Mulai menebak, ingin percaya, kemudian menolak percaya, dan berakhir tak ingin memikirkan apapun lagi. Dia sudah cukup lelah dengan serangkaian kejadian yang menimpanya di tempat ini. Jadi, biarkan untuk saat ini, dia tidak memikirkan apapun yang akan membuatnya sakit kepala.
"Seharusnya kau istirahat di kamarmu."
Sejenak, tubuh Mei Xiu menegang mendengar suara dibelakangnya. Perempuan itu tak perlu menoleh untuk memastikan siapa pemilik suara itu. Dia cukup mengenal suara berat dengan nada mengintimidasi tersebut, suara Guang Xu bagai sihir yang benar-benar membekas dalam benaknya.
"Apa yang Anda inginkan?" tanya Mei Xiu datar dengan pandangan kosong ke depan.
Dengan wajah dingin, pria itu berdiri di samping Mei Xiu dengan pandangan lurus.
"Apa yang aku inginkan?" cibir Guang Xu mengulang pertanyaan Mei Xiu dengan nada sinis. Terdengar kekehan tertahan dari mulutnya.
Mei Xiu berpaling, menatap sepasang manik gelap di depannya.
"Apa yang Anda inginkan sebenarnya?!" Mei Xiu sedikit beremosi. Ia sungguh ingin meremukkan semua tulang pria didepannya.
"Dirimu," tukas Guang Xu di akhiri dengan seringaian tipisnya.
Mei Xiu terpaku. Tiba-tiba ingatannya akan sosok pria asing yang menolongnya malam itu, berputar bagai kaset yang rusak di kepalanya. Entah semua ini sebuah kebetulan semata, ataukah memang ada sebuah variabel yang membuat semuanya menjadi terhubung satu sama lain.
Dia mulai pusing akan semua kemungkinan bodoh yang berputar dalam benaknya.
"Siapa kau?" Suara Mei Xiu nyaris tercekat. Matanya menatap tajam sosok di depannya. "Dan apa yang kau inginkan?!"
Guang Xu menoleh, sebuah kerutan samar tergambar di kening pria itu. Menurutnya, pertanyaan Liu Wen terdengar begitu aneh untuknya.
Guang Xu terkekeh pelan. Kekehan yang justru membuat sekujur tubuh Mei Xiu meremang karenanya. Sebuah kekehan yang terdengar sedang mengejeknya.
"Kau bertanya, siapa aku? Kau kehilangan ingatanmu atau menjadi bodoh, sebenarnya?" cebik Guang Xu dengan nada mengejek.
Mei Xiu kemudian mendengus kasar. Dia tahu, Guang Xu tidak akan mengerti maksud dari pertanyaannya.
"Seharusnya Yang Mulia membiarkan saya mati di tiang gantungan." Cara bicara Mei Xiu berubah dalam seperkian detik. Ia mengalihkan tatapannya tepat pada manik coklat Guang Xu. "Bukankah itu lebih baik?" lanjutnya tanpa ekspresi.
Guang Xu melangkah lebih dekat, pria itu meraih dagu Mei Xiu dan mengangkatnya tinggi.
Sepasang iris coklat gelap menghujam ke dalam mata Mei Xiu.
"Aku tidak akan membiarkan penderitaanmu berakhir begitu saja di tiang gantungan. Akan lebih menyenangkan jika melihatmu tersiksa lebih lama, itulah yang aku inginkan," bisik Guang Xu dengan tatapan menyiratkan beribu makna.
Mei Xiu tidak akan pernah melupakan sorot mata setajam elang itu, tatapan yang seolah mampu menelanjanginya dalam seperkian detik.
"Oh ya?" Mei Xiu menaikkan sebelah alisnya. "Apakah Yang Mulia pikir, saya tidak berani melakukan sesuatu?" Nada bicara perempuan itu terdengar menantang.
Dalam satu gerakan cepat, Mei Xiu menarik tusuk rambutnya dan mengarahkan ujung tusuk rambut tersebut tepat ke lehernya..
Guang Xu terbelalak, dia tidak akan pernah menyangka jika Liu Wen akan benar-benar bertindak hingga sejauh ini.
"Apa yang kau lakukan?!" geram Guang Xu dengan nada marah yang tertahan.
Mei Xiu bergeming. Tangannya justru semakin menekan ujung tusuk rambut tersebut ke lehernya, hingga membuat setetes darah mulai mengalir keluar.
"Saya pernah melakukan jauh lebih dari ini, jadi untuk kedua kalinya. Saya tidak masalah," katanya nyaris tanpa emosi.
Mata Guang Xu membeliak saat melihat Mei Xiu benar-benar menekan tusuk rambut tersebut, memberi goresan kecil di leher jenjang perempuan itu.
"Jauhkan tanganmu sekarang juga!" perintah Guang Xu dengan pandangan berkilat. Pria itu segera melepaskan tangannya di dagu Mei Xiu, berharap perempuan itu juga akan menjauhkan tusuk rambut itu dari lehernya.
"Jika Yang Mulia tidak membatalkan pernikahan itu, saya akan menekannya lebih dalam lagi!" Mei Xiu mengancam. Sorot mata perempuan itu bersungguh-sungguh.
Guang Xu tertawa sinis. Ia nyaris merasa terancam oleh tindakan Liu Wen yang tak terduga ini.
"Apakah menjadi permaisuriku adalah hal yang buruk?" Guang Xu mengukir senyum samar. Bibirnya bergetar. Sorot matanya tak lagi mengintimidasi, melainkan tatapan yang terkesan penuh kepedihan.
Mei Xiu membeku mendapati tatapan itu, sejenak ia lupa akan tindakannya untuk mengancam Guang Xu lebih jauh. Hingga tanpa sadar, Mei Xiu tak lagi menekan tusuk rambut itu di leher jenjangnya.
Guang Xu menghela napas kasar. "Lakukan apapun yang kau sukai! Tapi aku tidak akan membatalkan pernikahan ini!"
Setelah menegaskan hal itu, Guang Xu berbalik dan melangkah pergi.
Mei Xiu seketika merosot lemas di tempatnya dengan pandangan kosong. Tangannya yang masih menggenggam tusuk rambut pun terkulai lemah, seolah-olah seluruh tenaganya menguap begitu saja.
***Empress of the Future***