Hari eksekusi sudah tiba. Putri Bae Hao begitu cemas sekaligus tegang di dalam kamarnya. Fei yang menemaninya pun tak bisa menenangkan hati perempuan tersebut. Bahkan dia sendiripun tak hentinya meremas jemarinya yang saling bertautan dengan gelisah. Ada sesuatu yang tengah mengganggu pikirannya semenjak ia menemui Liu Wen tempo hari.
"Putri, apa yang harus kita lakukan jika putri Liu Wen benar-benar dihukum mati?"
Putri Bae Hao mengalihkan pandangannya pada Fei. Pertanyaan Fei semakin membuatnya putus asa.
"Kita harus menemui pangeran Zhang Zhi," putus putri Bae Hao akhirnya.
Mendengar hal itu, Fei menggeleng cepat. "Ibu suri Cixi pasti akan marah jika dia tahu kita meminta bantuan pada pangeran Zhang Zhi," kata Fei dengan wajah tidak setuju.
pangeran Zhang Zhi adalah suami putri Bae Hao, akan tetapi sang pangeran pun sepenuhnya berada dalam kuasa ibu suri Cixi. Perempuan yang paling ditakuti seluruh istana. Bahkan kaisar pun sangat sulit untuk menentang apa yang sudah menjadi keputusan dari ibu suri Cixi.
"Lalu, apakah kita akan membiarkan Liu Wen dihukum mati begitu saja? Apa yang akan aku katakan pada kedua orang tuanya nanti di alam baka? Mereka sudah mempercayakan Liu Wen padaku." Putri Bae Hao meradang. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk menghentikan hukuman mati Liu Wen. Ia sudah berusaha meyakinkan kaisar.
"Apakah aku harus bersujud dan memohon ampun untuk Liu Wen pada ibu suri? Tidak ada cara lain, Fei!"
"Itu percuma, putri. Ibu suri tidak akan mengubah keputusannya," ujar Fei.
"Baiklah, antar aku menemui kaisar." Putri Bae Hao bangun dari duduknya.
"Apa putri yakin kaisar akan membatalkannya? Jika kita tidak menemukan dalang dibalik racun itu, kaisar tidak akan melepaskan putri Liu Wen."
Fei kembali mengingatkan namun, sepertinya putri Bae Hao sudah begitu putus asa untuk memikirkan cara lain hingga ia tidak peduli lagi bahkan jika dia harus berlutut semalaman untuk memohon pada kaisar. Dia tidak bisa membiarkan Liu Wen dihukum mati atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan.
***REBIRTH***
Mei Xiu hanya bisa pasrah saat tubuhnya yang lemah dan tak berdaya, diseret dengan paksa oleh beberapa prajurit kerajaan. Perempuan itu tidak memiliki tenaga yang cukup untuk melawan, Mei Xiu hanya diam sembari membiarkan dua prajurit itu menggiringnya menuju tempat eksekusi.
Mei Xiu hanya terpaku memandang kosong ke arah tiang gantungan yang berjarak beberapa meter didepan sana.
Dia tidak tahu mengapa dadanya mendadak begitu sesak dan sakit. Bukankah seharusnya ia bernapas lega menyadari dirinya akan mati, seperti yang dia inginkan selama ini?
Suara pedang yang tiba-tiba saling beradu dan teriakan prajurit didepannya, membuat Mei Xiu terkejut. Tak terkecuali dua prajurit yang tengah menggiringnya.
Jika dia tidak salah, jika penglihatannya benar-benar tidak menipunya. Mei Xiu mengenali sosok yang kini tengah bertarung dengan beberapa prajurit kerajaan. Kemampuan pedangnya begitu mengagumkan, pria itu bahkan tak membutuhkan waktu lama untuk melumpuhkan para prajurit namun, tidak melukai mereka di tempat yang fatal.
"Lao Yen?"
Mei Xiu cukup bisa mengingat sosok pria yang menemuinya semalam, kegelapan tak mampu menyamarkan sosoknya. Dan tak mampu membuatnya lupa karena Lao Yen benar-benar mengingatkan ia dengan Yu Hwan, pria yang begitu ia kagumi. Mei Xiu yakin akan ingatannya ketika pria itu kini berlari menghampirinya dengan napas memburu. Satu hal yang membuat perempuan itu semakin yakin adalah, tatapan mata Lao Yen. Mei Xiu tidak akan pernah melupakan sorot teduh dan tatapan yang dalam milik pria itu. Mereka berdua seperti satu sosok yang sama.
"Lepaskan dia!"
Lao Yen mengarahkan pedangnya pada dua prajurit yang berada di kedua sisi tubuh Mei Xiu. Pertarungan kecil kembali terjadi antara Lao Yen dan dua prajurit tersebut, namun dalam hitungan detik, Lao Yen berhasil melumpuhkan mereka.
"Kita pergi!" Lao Yen meraih tangan Mei Xiu untuk membawa perempuan itu lari bersamanya. Namun Mei Xiu justru bergeming di tempatnya, ia menepis tangan Lao Yen dengan gerakan pelan.
Menyadari Liu Wen melepaskan tangannya, Lao Yen berbalik dan memandang perempuan itu dengan kerutan samar.
"Kau tidak perlu melakukan ini," ujar Mei Xiu tanpa emosi. Wajah yang begitu pucat dengan beberapa bekas luka lebam, sama sekali tak memiliki ekspresi. Begitu datar.
Lao Yen menghembuskan napas dengan kasar.
"Apa putri sudah menyerah untuk hidup?!" Lao Yen sedikit meninggikan suaranya.
Pria itu mendekati Mei Xiu dan menangkup wajah perempuan itu dengan kedua telapak tangannya, matanya menatap tajam tepat ke dalam manik mata Mei Xiu.
"Saya tidak akan membiarkan anda mati, putri. Bukankah saya sudah berjanji bahwa saya akan membawa putri pergi dari istana ini?"
Mei Xiu terdiam, melihat kesungguhan dalam sorot mata Lao Yen, seketika ia memahami satu hal, pria ini begitu tulus. Dia bahkan tak pernah melihat tatapan orang lain seperti ini padanya, dan untuk pertama kalinya, Mei Xiu merasa bahwa berada di tempat ini bukanlah hal yang begitu buruk. Apalagi dengan kehadiran sosok Lao Yen yang sangat mirip dengan Yu Hwan.
***REBIRTH***
"Kemana kita pergi?"
Mei Xiu berusaha mengendalikan detak jantungnya yang secepat pacuan kuda. Ditengah langkahnya yang terseok, Lao Yen terus memegang erat jemarinya dan membawanya berlari. Perempuan itu sesekali meringis menahan rasa sakit pada pergelangan kakinya setiap kali ia memaksa untuk mengayunkan langkah.
"Kita harus keluar dari istana lebih dulu," sahut Lao Yen seraya memperhatikan sekelilingnya.
Lao Yen segera menarik Mei Xiu untuk bersembunyi di belakang tembok bangunan ketika melihat beberapa prajurit istana tengah berjalan ke arah mereka. Pria itu mendekap tubuh mungil Mei Xiu dan menutup mulut perempuan itu agar tidak bersuara. Karena posisi mereka yang begitu dekat. Mei Xiu bisa mendengar deru napas Lao Yen yang tak beraturan, serta detak jantung pria itu yang berpacu cepat.
Untuk beberapa lama, Mei Xiu tidak bisa berhenti memandang sosok rupawan di dekatnya. Karena wajah mereka yang begitu dekat, membuat Mei Xiu bisa dengan leluasa memperhatikan setiap garis wajah Lao Yen serta pahatan sempurna pria itu. Sepasang alis yang tidak begitu tebal namun pas dengan garis wajahnya yang tenang, serta tatapan teduh yang terpancar dalam sorot matanya. Pun sepasang bibir merah alami yang mempesona. Entah kenapa, Mei Xiu kembali merasakan sesuatu yang asing, menelusup masuk ke dalam hatinya dengan diam-diam setiap kali ia teringat sosok Yu Hwan dalam diri Lao Yen.
Menyadari pandangan Mei Xiu padanya, Lao Yen berpaling pada perempuan itu. Dan ketika sepasang iris coklat dan hitam itu saling bertemu, Mei Xiu segera membuang muka ke arah lain dengan gugup.
Menyadari Mei Xiu yang terlihat gugup, Lao Yen segera melepaskan pelukannya di tubuh perempuan itu.
"Di belakang gerbang istana, saya sudah menyiapkan kuda untuk putri. Di sana tidak banyak prajurit yang berjaga." Kalimat Lao Yen memecah kecanggungan yang beberapa detik lalu menjadi momok menakutkan untuk keduanya.
Mei Xiu menoleh. "Bagaimana denganmu?" Perempuan itu menaikkan sebelah alisnya.
Lao Yen yang semenjak tadi memandang ke sekeliling, sebagai alibi untuk menutupi detak jantungnya yang berdegup kencang sebenarnya, berpaling.
"Putri tidak perlu mencemaskan saya. Saya akan mengalihkan perhatian para prajurit." Lao Yen tersenyum menenangkan. Mendengar hal itu, Mei Xiu memilih diam.
"Kita harus bergegas." Lao Yen meraih pergelangan tangan Mei Xiu, mengajak perempuan itu untuk kembali berlari, namun... .
"Akh!" Mei Xiu tersungkur. Ia mulai tidak bisa menahan rasa sakit pada lukanya. Pergelangan kakinya semakin membengkak dengan luka yang terbuka lebar.
"Aku tidak bisa berjalan lagi," ringis Mei Xiu merasa tidak mampu menggunakan kedua kakinya untuk berdiri. Luka pada pergelangan kakinya masih belum mengering, darah segar kembali keluar dari luka yang masih menganga tersebut karena ia memaksa untuk berlari.
Lao Yen tahu, dia tidak mungkin memaksa Liu Wen untuk berlari dalam kondisi seperti ini. Hingga akhirnya dia memutuskan.
"Naik ke atas punggung saya, putri!"
Mei Xiu terperanjat, perempuan itu menggeleng cepat.
"Tidak ada waktu lagi, putri! Cepat naik ke punggung saya!" perintah Lao Yen mulai tak sabar.
Setelah berpikir sejenak, dengan ragu, Mei Xiu mulai melingkarkan kedua lengannya di leher Lao Yen. Dan ketika perempuan itu telah berada di atas punggung Lao Yen, ia dengan cepat menggendong Mei Xiu dan membawanya kembali berlari.
Belum sempat mereka melarikan diri begitu jauh, pasukan kekaisaran mengepung mereka dari segala sudut. Lao Yen dan Mei Xiu tak bisa bergerak untuk melarikan diri. Jika pria itu memaksa melawan, maka mereka berdua akan mati oleh pedang dan tombak yang diarahkan pada mereka.
"Turunkan dia, panglima!"
Sosok berjubah emas menyeruak dari tengah pasukan. Lao Yen maupun Mei Xiu membeliak melihat siapa pemilik suara tegas dan dingin tersebut. Sosok Guang Xu yang menjulang di hadapan mereka, seketika membuat keduanya membatu.
"Apa kau ingin menjadi pengkhianat karena membawa kabur tahanan yang akan dihukum mati, panglima?" tanya Guang Xu dengan pandangan menusuk.
"Putri Liu Wen tidak bersalah, Yang Mulia!" Lao Yen menurunkan Mei Xiu dari atas punggungnya kemudian berlutut di hadapan Guang Xu yang menatapnya dengan marah.
"Sikapmu sangat ceroboh, panglima!" Pandangannya segera tertuju pada Mei Xiu yang terduduk lemas dibelakang Lao Yen.
Guang Xu berjalan mendekati perempuan itu diikuti pandangan Lao Yen dibelakangnya. Guang Xu menekuk salah satu lututnya, menatap Mei Xiu dengan tatapan seakan-akan hendak menyeret perempuan itu dari sana dengan paksa.
"Apa kau berubah pikiran dalam semalam?" bisik Guang Xu seraya mencondongkan sedikit tubuhnya didepan Mei Xiu.
Mei Xiu merasakan tubuhnya bergetar hebat mendengar suara Guang Xu yang begitu mengintimidasinya. Namun ia memilih untuk tak menunjukkan reaksi. Tatapannya tetaplah dingin dan datar.
"Aku akan memberimu pengampunan, namun jangan harap kau bisa pergi dari istana ini!"
Lao Yen maupun Mei Xiu terpaku akan kata-kata Guang Xu. Kalimat sang kaisar sudah seperti perintah mutlak yang tak dapat mereka tawar.
"Panglima!" panggilnya pada Lao Yen dengan tegas.
"Hamba, Yang Mulia."
"Aku sudah menemukan pelayan yang memasukkan racun dalam minuman putri Jing Mey."
Lao Yen tak bereaksi, ia justru merasa takut akan apa yang saat ini sedang direncakan oleh Guang Xu. Mei Xiu yang mendengarnya pun merasa bahaya yang lebih menakutkan tengah mengintainya ketika mendapati tatapan Guang Xu padanya. Ia merasa pria ini tengah merencanakan sesuatu yang jauh lebih buruk padanya.
"Aku akan melepaskan Liu Wen sesuai janjiku jika dia terbukti tidak bersalah. Namun ... ." Guang Xu sengaja menggantungkan kalimatnya untuk melihat reaksi Mei Xiu. Akan tetapi, perempuan itu masih tampak datar dan seolah tak peduli akan apa yang ia katakan selanjutnya. "Sebagai imbalannya, kau akan menjadi permaisuriku menggantikan putri Jing Mey."
Lao Yen terpaku di tempatnya, pria itu mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Sedangkan Mei Xiu, tentu saja perempuan itu tidak bisa menyembunyikan raut terkejutnya. Bahkan ia merasa, sekujur tubuhnya membeku saat ini. Kepalanya teramat sakit bagai di hantam godam, pandangnya berubah menggelap, sebelum dia kehilangan kesadarannya, Mei Xiu melihat sebuah seringaian samar tersemat di wajah Guang Xu.
***REBIRTH***
Suara lecutan cemeti serta lengkingan kesakitan dalam sel gelap tersebut saling menyatu. Seorang wanita dengan kedua tangan terikat, hanya bisa menerima setiap cambukan dengan erangan yang terus lolos dari bibirnya, setiap kali cemeti yang diayunkan menyentuh permukaan kulitnya, meninggalkan luka di setiap bagian tubuhnya.
Guang Xu yang semenjak tadi berdiri memperhatikan, memberi perintah untuk berhenti sejenak pada prajurit yang bertugas melayangkan cemeti ke tubuh wanita itu.
"Apa kau masih belum mau mengaku siapa yang menyuruhmu?" tanya Guang Xu dengan suara khasnya. Berat dan meng-intimidasi.
"Kau hanya akan tamat disini karena kesetiaan anjing sepertimu," desis Guang Xu dengan wajah bengis. Tak ada belas kasihan sedikitpun terpancar dalam sorot matanya.
"Bu-bunuh saja hamba, Yang Mulia," bisik wanita itu dengan suara bergetar. Tampaknya dia sudah pasrah jika harus mati. Kepalanya sudah terkulai lemas, darah segar mengalir di sudut bibirnya, dia sudah bersumpah untuk tidak mengatakan yang sebenarnya atau keluarganya pun akan tamat sepertinya.
Guang Xu tersenyum miring. Ia segera memberi perintah pada prajuritnya untuk kembali melayangkan cemeti ke tubuh wanita itu.
"Apa kau yakin tidak akan memberi tahu siapa dalang dibalik racun itu?" Guang Xu mendekatkan wajahnya tepat ke telinga wanita itu dan berbisik. "Apa kau memilih tutup mulut selamanya dan melihat semua keluargamu mati?"
Kedua mata wanita itu membelalak. Wanita itu sadar, sang kaisar bukanlah orang yang akan memberi pengampunan begitu saja padanya. Guang Xu cukup terkenal akan pemerintahan otoriter-nya. Sang kaisar tidak akan mengampuni siapapun yang melakukan sebuah kesalahan. Bahkan sekecil apapun itu, Guang Xu tidak akan melepaskannya begitu saja.
Guang Xu menarik kepalanya dan kembali menegakkan tubuhnya, tatapannya menajam menunggu jawaban wanita di depannya.
"Mudah saja untukku membunuh semua keluargamu karena kau meracuni putri Jing Mey di perjamuan makam malam. Dan orang yang menjadikanmu kambing hitam, akan bebas berkeliaran di luar sana. Menertawakan kebodohanmu." Setiap kata yang diucapkan kaisar, seolah tengah mengulitinya. Aura keagungan sang kaisar, membuat nyali wanita itu menyurut habis.
Wanita itu terdiam, sesekali meringis sakit merasakan seluruh tulangnya seolah remuk redam. Bibirnya hendak terbuka dan mengatakan sesuatu ketika sebuah belati melayang tepat mengenai dahi wanita itu dan menewaskannya seketika.
Membungkam mulut wanita itu selamanya.
Guang Xu maupun prajurit disana sangat terkejut akan kejadian yang tak terduga. Mereka tak sempat melakukan apapun untuk menyelamatkan wanita itu dan mendapatkan informasi.
"Cari dia!" perintah Guang Xu dengan marah.
***Empress of the Future***