Mei Xiu masih tak bisa memahami, kenapa dia bisa ada disini? Puluhan kali dia memikirkan segala macam kemungkinan, dia masih tetap tidak bisa menemukan jawabannya. Hingga pada akhirnya dia merasa lelah untuk terus berpikir. Bahkan untuk sekedar membuka matanya, ia begitu enggan.
Mei Xiu memilih memejamkan matanya seraya membaringkan tubuh letihnya pada tumpukan jerami yang menjadi alasnya. Napasnya naik turun dengan tidak teratur. Udara pengap di ruangan ini membuat pernapasannya sedikit terganggu. Dia tidak terbiasa dengan ruangan gelap dan sempit. Meski dia sudah terbiasa terkurung dalam kegelapan dan meringkuk disudut ruangan acap kali ia lelah akan kehidupan. Menangis di sana tanpa seorangpun akan mendengarnya. Namun kali ini terasa berbeda. Sel ini tidak hanya mengurung tubuhnya, melainkan juga kebebasannya. Ia bahkan tidak tahu kapan pergantian siang dan malam. Yang ia dapati hanya kegelapan.
Ketika Mei Xiu merasa kesadarannya hampir tenggelam. Pendengarannya menangkap suara langkah kaki di ujung lorong dengan samar. Sebuah langkah kaki yang begitu tenang namun tegas. Tentulah pemilik langkah itu bukan orang biasa yang suka terburu-buru dalam melakukan sesuatu. Hingga ia mendengar langkah itu semakin mendekat ke arahnya.
Mei Xiu masih memejamkan matanya ketika merasakan seseorang berdiri di balik sel jerujinya.
Menyadari seseorang berdiri mengawasinya, perempuan itu mulai bergerak pelan untuk bangun. Rasa sakit dan perih kembali meremasnya, membuatnya sesekali mendesis pelan menahan sakit.
Mungkin saja dia bisa meminta pertolongan pada seseorang yang datang.
Mei Xiu mengernyit mendapati sosok pria berjubah keemasan dengan sulaman naga pada bagian perutnya, menjulang tinggi didepannya. Perempuan itu tak perlu mendongak untuk melihat dengan jelas rupa sosoknya karena kemudian sosok itu dengan senang hati menekuk kedua lututnya, berjongkok di depannya. Mensejajarkan tubuh mereka.
"Apa kau merasa tersiksa disini?" Suara itu terdengar begitu dingin dan menusuk. Tidak hanya membuat tubuhnya membeku seketika, melainkan sepasang iris kembarnya pun membulat sempurna ketika memandangi rupa pria dihadapannya.
Meski tanpa cahaya yang mumpuni, Mei Xiu bisa dengan jelas melihat sosok yang tengah menyeringai padanya. Perempuan itu sama sekali tidak bisa melupakan tatapan dingin yang membekukan pun seringaian lebar yang tersemat di wajah tampannya yang terpahat sempurna.
Dia mulai meragukan penglihatannya. Dia mulai meragukan pendengarannya.
"K-kau ... ." Suaranya tercekat, iris coklat-nya membeliak lebar.
Guang Xu bergerak, mendekati tubuh Mei Xiu yang kini masih membeku di balik jeruji besi. "Aku hanya memastikan, apa kau sudah benar-benar menderita," desis Guang Xu tajam, ia tersenyum mengejek di akhir kalimatnya.
Melihat sorot mata Guang Xu yang tengah menatapnya, Mei Xiu mendapati kebencian dan kemarahan di dalam sana. Yang entah mengapa, membuat dadanya tertimpa sesak.
Guang Xu meraih rahang Mei Xiu dengan kasar, menekannya dengan kuat hingga membuat perempuan itu meringis kesakitan.
"Apa kau pikir aku akan mengampunimu hanya karena putri Bae Hao?" Tatapan itu, menghunus tajam hingga ke dalam jantungnya.
Mei Xiu menunjukkan wajah datarnya, tak ada reaksi yang berarti. Atau dia memang tidak peduli sama sekali mengenai apa yang dikatakan Guang Xu, pun dengan perlakuan pria itu padanya. Toh ini bukan tubuhnya. Namun, tetap saja, dia ikut merasakan rasa sakitnya.
"Lalu, kenapa kau tidak membunuhku?" desis Mei Xiu penuh penekanan.
Guang Xu mengangkat dagu Mei Xiu lebih tinggi, memaksa perempuan itu untuk mendongak dan menatap tepat pada manik matanya yang dalam dan gelap.
"Apa kau akan tetap menutup mulutmu sekalipun aku mematahkan lehermu?" tanya Guang Xu dengan wajah dingin.
Sebelah alis Mei Xiu terangkat, pandangan perempuan itu berubah menajam.
"Apa maksudmu? Jika yang kau inginkan adalah kematianku, seharusnya kau bisa membunuhku saat ini juga bukan?" Mei Xiu berdecak. "Tapi, jika yang kau inginkan adalah sebuah pengakuan. Aku tidak bisa mengatakan apapun padamu, karena aku memang tidak mengetahui apapun," jelas Mei Xiu dengan nada yang tenang.
Entah keberanian macam apa yang tiba-tiba dia dapatkan hingga Mei Xiu dengan berani balas menatap sosok didepannya. Perempuan itu tidak akan melupakan wajah pria yang menolongnya malam itu, rupa yang sama dengan sosok di hadapannya.
Mei Xiu terkekeh pelan, yang mengundang kerutan tipis di dahi Guang Xu.
Apakah pria yang ia temui malam itu adalah sosok yang sama dengan yang kini tengah berada di hadapannya? Tidakkah itu sesuatu yang terdengar sangat mustahil?
"Ambillah apa yang kau inginkan! Aku sama sekali tidak membutuhkannya! Kau bisa membunuhku saat ini juga! Aku sudah lama bersiap untuk mati, tidak ada lagi yang perlu aku khawatirkan setelah ini," ujar Mei Xiu dengan tenang.
Guang Xu tertegun. Pandangannya semakin menajam menatap Mei Xiu dengan seksama, seolah ia tengah menemukan keganjilan. Kerutan-kerutan tebal tergambar di keningnya tatkala mendengar rentetan kalimat perempuan dihadapannya.
"Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan, Liu Wen?" tanya Guang Xu menatap tak percaya.
"Jika kau mau mengatakan padaku apa yang kau tahu, aku akan membebaskanmu," tawar Guang Xu. Dia sedikit berharap bahwa Liu Wen akan mengatakan sesuatu padanya namun kalimat perempuan itu selanjutnya membuatnya terdiam.
"Aku tidak tahu apapun! Bahkan aku tidak tahu kenapa aku harus disini!" sahut Mei Xiu dengan ketus.
Guang Xu sedikit memiringkan kepalanya, tatapannya menatap jauh ke dalam manik coklat Liu Wen, mencari kebohongan disana. Namun dia tahu, Liu Wen bukanlah perempuan yang pintar berbohong, sama seperti saat ini. Tak tersirat sedikipun kebohongan didalam sana, Guang Xu benar-benar menemukan kesungguhan dibalik tatapannya.
"Benarkah yang kau katakan itu?" tanya Guang Xu lagi dengan suara yang dalam.
"Untuk apa aku berbohong padamu?! Jika kau ingin memberiku hukuman mati, lakukan saja sekarang!" Mei Xiu melotot tajam dan memandang tak suka atas pertanyaan yang hampir sama.
Guang Xu kembali terdiam, namun otaknya tengah berpikir keras. Mencari sesuatu yang salah dalam diri Liu Wen yang di kenalnya.
"Kau pikir aku akan memohon padamu untuk memberiku belas kasihan?" tanya Mei Xiu nyaris tanpa emosi. "Aku tidak butuh belas kasihan! Jika mati bisa membuatku terbebas dari penderitaan ini, kenapa aku harus memohon untuk hidup?"
Guang Xu hampir tak percaya jika perempuan di hadapannya adalah Liu Wen yang lembut dan pemilik tatapan yang hangat. Liu Wen yang dulu tidak sekalipun berani menatapnya, namun kali ini Liu Wen bahkan berani membalas tatapannya.
"Apakah terkurung di dalam sini membuat otakmu mulai rusak? Seharusnya kau memohon padaku untuk memberimu pengampunan," ujar Guang Xu sedikit heran.
Mei Xiu mulai jengah menghadapi pria didepannya ini.
"Aku tidak gila hanya karena terkurung di tempat ini." Mei Xiu memicingkan matanya menatap Guang Xu seolah menyiratkan sesuatu. "Aku tidak peduli apa yang kau katakan! Aku hanya ingin kau segera melakukan eksekusi!"
Guang Xu yang masih tak menyangka akan perubahan Liu Wen, perlahan melepaskan cengkramannya di rahang perempuan itu. Tatapannya berubah penuh tanda tanya akan sosok perempuan di hadapannya.
"Bagaimana jika aku membatalkan eksekusi itu?" tanya Guang Xu berubah tenang.
Mei Xiu mendengus kasar seraya membuang pandangan ke arah lain.
Dia tidak akan percaya begitu saja pada pria di hadapannya, lagipula untuk apa dia hidup? Dia hanya akan terjebak di tempat ini, dengan segala macam pertanyaan dibenaknya yang tidak akan menemukan jawaban pasti.
"Bagaimana jika aku justru memberimu kesempatan hidup jika kau memang terbukti tidak bersalah?" tanya Guang Xu sedikit memancing. Dan benar saja, Mei Xiu kembali memandang ke arahnya. Masih dengan wajah kaku yang datar.
"Aku tidak butuh itu! Aku ada disini karena aku ingin mati! Apakah itu masih kurang jelas untukmu?!" ujar Mei Xiu dengan sengit.
Guang Xu sejenak terperangah. Liu Wen sama sekali tidak memakai tutur kata yang sopan pada dirinya seperti biasanya. Liu Wen yang ada di hadapannya sangat kasar dan sarkastik.
Namun karena itu pula, membuat Guang Xu merasa tertantang untuk melakukan sesuatu. Pria berahang tegas itu mengukir seringaiannya.
"Baik." Guang Xu mengangguk sekilas. "Kita lihat saja nanti." Pria itu beranjak pergi setelah mengatakan satu hal tersebut, mengundang tanda tanya besar dalam benak Mei Xiu. Ia memandang kepergian Guang Xu dengan perasaan tak menentu.
Seketika kedua pundak perempuan itu merosot lemas, desahan napas panjangnya mengiringi tatapannya memandang kepergian Guang Xu.
Mei Xiu merasa terjebak dalam labirin masalah yang begitu pelik.
Apakah keinginannya untuk mati harus dia simpan lagi?
Dia benar-benar ingin mencaci Tuhan.
***REBIRTH***
Guang Xu merasa tak tenang setelah mengunjungi Liu Wen. Dia datang hanya untuk menggertak perempuan itu sebenarnya, Guang Xu berpikir mungkin saja perempuan itu mengetahui sesuatu. Jika dia tidak bisa membuat Liu Wen berbicara, dia seharusnya memaksa Liu Wen dengan cara kasar sekalipun untuk membuatnya mengatakan siapa orang yang meracuni calon permaisurinya.
Alih-alih berhasil membuat Liu Wen ketakutan dan mendapat jawaban yang berarti dari perempuan itu, Liu Wen justru menantangnya untuk segera melakukan eksekusi. Liu Wen yang dia temui, sangat berbeda dengan Liu Wen yang gemetar ketakutan saat perempuan itu ditangkap karena dituduh meracuni putri Jing Mey. Karena perubahan tak terduga itu pula, membuat Guang Xu ragu untuk melakukan eksekusi dalam waktu dekat. Sedangkan, ia belum menemukan siapa orang yang meracuni putri Jing Mey sebenarnya.
Suara lantang dari pengawal yang berjaga didepan ruangannya membuat kesadarannya kembali. Guang Xu segera mengalihkan perhatiannya ke arah pintu yang terbuka, menampilkan seorang pria yang berusia tiga tahun lebih tua darinya, berjalan memasuki ruangan dengan langkah yang tenang tanpa suara.
Pria itu kemudian menekuk salah satu lututnya dan memberi salam pada Guang Xu dengan penuh hormat. “Lao Yen memberi salam, Yang Mulia panjang umur seribu tahun!”
"Apa kau sudah menemukan sesuatu, panglima?" tanya Guang Xu setelah menerima salam pria itu.
Lao Yen menegakkan tubuhnya seraya menundukkan pandangannya, masih dalam posisi yang sama.
"Hamba sudah menemukan apa yang kaisar cari," katanya dengan suara yang tenang dan dalam.
Guang Xu diam menunggu apa yang akan di katakan oleh Lao Yen, pengawal pribadi sekaligus tangan kanannya yang sangat dipercaya oleh Guang Xu. Bahkan menyangkut urusan diluar kerajaan dan disamping posisi Guang Xu sebagai kaisar, hubungan keduanya sangat dekat layaknya kakak beradik. Karena keduanya memang sudah berteman dekat semenjak kecil.
"Racun yang ada dalam minuman putri Jing Mey adalah racun arsenic, Yang Mulia. Racun itu tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak memiliki rasa. Karena itu, tidak ada yang menyadarinya. Sepertinya sebelum disuguhkan oleh putri Liu Wen, seseorang sudah mencampurkan racun itu ke dalam minuman putri Jing Mey tanpa sepengetahuan putri Liu Wen."
Guang Xu sedikit terkejut dengan jenis racun yang dikatakan oleh Lao Yen. Pasalnya, racun tersebut sulit didapatkan dan tidak dijual ke sembarang orang.
"Apa lagi yang kau temukan?"
"Salah seorang pelayan yang bertugas hari itu juga menghilang. Hamba sudah memerintahkan beberapa pengawal untuk mencari pelayan tersebut."
Guang Xu terdiam, berpikir dengan keras. Dia kembali teringat dengan perkataan putri Bae Hao.
"Sepertinya apa yang dikatakan putri Bae Hao memang benar. Liu Wen dijebak oleh seseorang, dan pastinya orang itu ada dalam istana ini. Racun arsenik tidak mudah didapatkan karena tidak dijual secara bebas. Jika pelaku itu bisa mendapatkan racun arsenik, pastilah ia seorang bangsawan dan musuh dalam selimut," ujar Guang Xu mulai sedikit menangkap sesuatu.
"Baiklah, kau boleh pergi."
Bukannya segera beranjak dari sana seperti apa yang diperintahkan Guang Xu, Lao Yen bangun dari posisinya dan terdiam. Kali ini pria berparas tampan dengan tatapan teduh itu mengangkat wajahnya, memandang ke arah Guang Xu. Pandangan yang menyiratkan sesuatu.
Melihat tatapan yang sedikit berbeda itu, Guang Xu seolah mengerti ada hal lain yang ingin dikatakan Lao Yen padanya diluar masalah ini.
"Apa kau mengkhawatirkannya?" tanya Guang Xu seolah bisa membaca apa yang ingin dikatakan Lao Yen. Namun, Lao Yen lebih memilih untuk diam.
Guang Xu tersenyum singkat.
"Kau tak perlu mengkhawatirkannya, kau bisa menemuinya setelah ini." Airmuka Guang Xu sedikit melunak.
Lao Yen masih memasang wajah datarnya, namun sorot matanya tak mampu menyembunyikan apa yang dia pikirkan. "Apakah Yang Mulia akan membebaskan putri Liu Wen jika ia terbukti tidak bersalah?"
Guang Xu menunjukkan raut wajah tidak suka atas pertanyaan yang baru saja didengarnya dari Lao Yen. Pertanyaan itu seakan menyiratkan bahwa Lao Yen tidak mempercayainya.
"Jika dia memang tidak bersalah, aku akan melepaskannya. Karena itu, aku memintamu untuk menemukan siapa dalang dibalik racun itu."
Lao Yen mengangguk patuh. Pria itu kemudian membungkuk memberi hormat sebelum berbalik pergi.
Sepeninggal Lao Yen, Guang Xu termenung sejenak di balik mejanya. Dia masih memikirkan tentang perubahan Liu Wen yang tiba-tiba. Guang Xu melihat kegelapan dan kemarahan dalam sorot mata Liu Wen. Sesuatu yang selama ini tidak pernah dia lihat dari perempuan itu.
***REBIRTH***
Mei Xiu meringkuk disudut sel yang gelap. Dadanya seolah tertimpa ribuan ton batu, membuat napasnya begitu sesak dan berat, bahkan untuk sekedar menarik napas dalam satu tarikan singkat. Mei Xiu mulai berpikir jika ia akan mati di tempat ini bahkan sebelum hari eksekusi dilaksanakan.
Entah, apa itu sesuatu yang bagus atau justru sesuatu yang buruk.
"Apa putri baik-baik saja?"
Tubuh Mei Xiu membeku mendengar suara lembut itu. Perlahan ia membuka matanya, mengerjap pelan, mendapati sosok tengah berdiri tegap di balik sel jerujinya. Ia tidak tahu sejak kapan pria itu sudah berdiri disana, Mei Xiu sama sekali tidak mendengar suara langkah kaki. Ataukah karena tubuhnya yang lemas dan tenaganya yang perlahan melemah, membuat fokusnya hilang.
Pria itu kemudian menekuk kedua lututnya, pandangannya tak sedikitpun terlepas dari Mei Xiu, membuat perempuan itu tahu jika pria ini adalah salah satu orang yang dikenal oleh Liu Wen, pemilik tubuh yang kini dia tempati.
"Siapa kau?" Suaranya hampir tenggelam, nyaris tak terdengar jika saja pria di hadapannya tidak memperhatikan gerakan bibirnya.
Ini adalah pertanyaan kedua kalinya yang dia lontarkan setelah kedatangan Fei dua hari lalu.
"Lao Yen." Pria itu menyebutkan namanya. "Apa putri sungguh tidak mengingat apapun?" tanyanya dengan gurat kecemasan diwajahnya.
Melihat Mei Xiu tak menjawab dan hanya memandangnya dengan pandangan lurus, semakin membuat kecemasannya bertambah.
"Saya sedang menyelidiki orang yang menjebak putri. Kaisar sudah berjanji untuk melepaskan putri jika terbukti tidak bersalah."
Mendengar hal itu, Mei Xiu sedikit tertarik. Perempuan itu merangkak pelan mendekati Lao Yen untuk melihat dengan jelas rupa pria tersebut. Sedetik kemudian, kedua bola matanya melotot lebar.
Surai sehitam malam itu nampak menyatu dengan kegelapan dalam lorong ini, kulit putihnya sangat kontras dengan warna rambut hitamnya. Sepasang iris hitam yang meneduhkan dan tatapan hangat yang menenangkan. Sangat jauh berbeda dengan pria yang menemuinya kemarin. Pria dingin dengan tatapan menusuk, yang membuatnya membeku setiap kali sepasang iris coklatnya menyorot tajam. Namun, bukan hal itu yang membuat Mei Xiu tertegun. Akan tetapi, rupa Lao Yen yang begitu mirip dengan seseorang yang begitu dikenalnya dimasa depan.
"Kak Yu Hwan?" gumam Mei Xiu tak percaya.
Lao Yen menunjukkan segaris kerutan tebal didahinya mendengar Mei Xiu menyebut nama yang terdengar asing untuknya. Namun, ia segera teringat akan percakapannya dengan Fei. Pelayan muda itu mengatakan bahwa Liu Wen kehilangan ingatannya setelah menerima hukuman tiga hari yang lalu.
"Besok adalah hari eksekusi, saya harap kaisar segera memutuskan pembatalan hukuman anda." Lao Yen memilih mengabaikan nama yang baru saja disebut oleh Mei Xiu.
Mei Xiu masih tak mengeluarkan suaranya lagi. Perempuan itu hanya memandang Lao Yen dengan pandangan yang sulit diartikan.
Melihat Liu Wen hanya diam dan tak mengatakan apapun. Lao Yen meraih jemari perempuan itu, menggenggamnya dengan hati-hati. Mei Xiu terpaku merasakan jemari hangat itu menyentuh permukaan kulitnya.
"Putri harus bertahan." Lao Yen tersenyum lembut, meski begitu singkat namun, mampu meninggalkan bekas dalam ingatan Mei Xiu.
"Jika kaisar tidak bisa membatalkan hukuman anda dan saya masih belum menemukan dalang di balik racun itu, saya mungkin akan membawa putri kabur dari sini."
Mei Xiu sedikit terkejut, namun lagi-lagi dia memilih untuk tidak mengatakan apapun. Dia tidak tahu harus merasa senang atau sebaliknya karena bertemu dengan orang yang berwajah sama dengan yang ia kenal begitu dekat di masa depan.
Lao Yen menundukkan wajahnya, menyembunyikan matanya yang mulai berair. Dipandanginya jemari Liu Wen dalam genggamannya. Pria itu tersenyum getir tatkala merasakan jemari mungil Liu Wen terasa sangat rapuh.
"Maafkan saya, putri ... ." Lao Yen berbisik teramat lirih. Dia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap mata Mei Xiu dengan pandangan berkabut. Perempuan itu masih tak bereaksi, hanya tatapannya yang memandang lurus ke dalam mata Lao Yen.
"Saya berjanji akan mengeluarkan putri dari sini. Saya akan—"
"Kau tidak perlu melakukannya," potong Mei Xiu cepat. Napasnya naik turun dengan berat.
Lao Yen sedikit terperangah mendengar perkataan Mei Xiu. Dipandangnya wajah pucat dan kuyuh di hadapannya dengan tak mengerti.
"Tidak," Lao Yen menggeleng, "saya sudah berjanji untuk melindungi, putri. Bukankah putri ingin pergi dari istana ini?"
Lao Yen menatap Mei Xiu dengan kebingungan. Perempuan yang dia temui beberapa hari yang lalu, sangat berbeda dengan Liu Wen yang ada dihadapannya saat ini.
"Aku ada disini karena ingin mati. Jadi, kau tak perlu melakukan apapun!"
Lao Yen terpaku, ia tak bisa berkata apapun mendengar perkataan Mei Xiu. Melihat kesungguhan yang terpancar jelas dalam sorot mata perempuan didepannya, Lao Yen terbungkam dengan segala macam pertanyaan.
***Empress of the Future***