Seorang perempuan dengan hanfu lusuh nan kotor, terbaring lemah di atas tumpukan jerami. Hanfu-nya tercabik di beberapa bagian dengan bercak darah yang mulai mengering. Mata yang sedari terpejam rapat, kini perlahan terbuka saat mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru menggema di ujung lorong di depan sel.
Rasa sakit dan pening seketika menghantam kepalanya bersamaan dengan kedua kelopak matanya terbuka sepenuhnya. Pandangannya memicing menatap langit-langit ruangan yang gelap, seketika kerutan tebal tercetak di dahinya. Perlahan, dia mengumpulkan kesadarannya. Kemudian mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang gelap, mencari setitik cahaya.
Satu keyakinan terbersit dalam benaknya, dia tidak sedang berada di rumah sakit ataupun didalam kamarnya. Mengingat ruangan ini yang sangat minim cahaya, hanya seberkas sinar matahari yang mencoba menerobos masuk melalui celah kecil pada dindingnya, yang sama sekali tidak mampu menyingkirkan kegelapan yang sudah menguasai setiap sudut tempat ini.
Sakit dan perih disekujur tubuhnya membuatnya meringis. Bau tanah lembab, udara yang pengap, dan pintu jeruji besi didepannya cukup membuatnya mengenali tempat ia berada saat ini.
Apakah sebuah penjara bawah tanah, tanyanya dalam hati.
Namun seketika itu pula, sebuah pertanyaan lain muncul dalam benaknya.
Apakah dia sudah mati?
Mungkinkah neraka seperti ini?
Menyadari kemungkinan bodoh yang sempat terbersit dalam pikirannya, ia menggeleng cepat.
Bersamaan itu, langkah kaki yang tadinya terdengar di kejauhan kini perlahan mendekat ke arahnya. Dan langkah itu berhenti tepat di depan sel jerujinya.
"Putri?"
Panggilan yang nyaris seperti bisikan itu cukup dapat di tangkap oleh pendengarannya. Ia menyipitkan kedua matanya untuk memperjelas penglihatannya akan sosok perempuan muda seusianya dengan hanfu hijau tengah berjongkok di balik jerujinya. Wajah perempuan muda itu terlihat begitu tegang dan cemas.
"Putri?" panggilnya lagi, menarik kesadarannya. "Apakah putri bisa mendengar saya?" tanya perempuan itu kembali, sedikit tak sabar.
Dia lagi-lagi meringis merasakan rasa sakit yang menghujam di sekujur tubuhnya. Mengabaikan perih yang mencekiknya, rasa penasarannya jauh lebih mendominasi akan sosok didepannya. Perlahan, ia bergerak mendekati perempuan yang masih menatapnya, menunggu jawabannya.
"Siapa kau?" Ia merasakan suaranya tersendat di tenggorokannya yang kering. Dia butuh air untuk menyegarkan tenggorokannya.
Sedangkan perempuan didepannya membeliak mendengar pertanyaan itu, dia menatap Mei Xiu dengan pandangan menilai untuk beberapa lama.
"Apa kau membawa air?" tanya Mei Xiu seakan tak peduli dengan wajah terkejut perempuan didepannya. Mei Xiu merasa tenggorokannya begitu sakit, seolah ia berhari-hari tak minum air sedikitpun.
Pelayan muda tersebut seakan tersadar oleh pertanyaan perempuan didepannya. Dia lantas mengangsurkan satu kendi kecil yang dibawahnya. Tanpa pikir panjang, Mei Xiu segera menyambar kendi tersebut dan menenggak isinya hingga tandas. Ia merasa sedikit lega ketika sesuatu yang menyegarkan menyentuh tenggorokannya.
"Terima kasih," sahut Mei Xiu pelan. Matanya mengerjap memperhatikan sekelilingnya dengan keheranan yang luar biasa.
"Putri Liu Wen?"
Mei Xiu mengernyit heran mendengar perempuan itu menggumamkan nama yang terdengar asing untuknya, namun yang lebih membuatnya keheranan adalah, perempuan itu menatapnya dengan raut wajah yang sulit dijelaskan.
"Putri Liu Wen, maafkan saya." Perempuan itu menyebut nama itu lagi dan masih menatapnya dengan lekat. Tentu saja hal itu semakin membuat Mei Xiu dilanda kebingungan yang luar biasa.
"Saya tidak bisa membantu putri," bisiknya dengan nada menyesal.
Mei Xiu baru saja berharap ini adalah mimpi, namun benarkah dia bermimpi?
Apakah orang mati juga bermimpi?
Dan kembali pertanyaan itu bercokol dalam benaknya.
Benarkah dia sudah mati?
Ataukah dia bermimpi karena tak sadarkan diri?
Mungkin saja dia tengah bermimpi saat ini. Namun rasa sakit di sekujur tubuhnya, seolah menampik pemikiran bodoh itu. Perih dan nyeri begitu terasa nyata. Jadi, benarkah dia sekedar bermimpi? Harusnya, dia tidak merasakan apapun.
"Apa maksudmu? Dimana aku sebenarnya? Dan kenapa kau memanggilku dengan nama itu?" Mei Xiu memandang perempuan dengan hanfu hijau itu penuh pertanyaan. Dia mulai tak sabar untuk tidak bertanya apapun.
Perempuan itu mengerjap tak mengerti. Dia tidak menyangka jika perempuan yang dipanggilnya putri itu mengajukan pertanyaan yang akan membuatnya kebingungan.
"Anda dipindahkan ke penjara bawah tanah, putri. Sesuai dengan perintah kaisar," jawabnya dengan kening berkerut. "Dan ... , kenapa putri–oh astaga!" Pelayan muda itu terkejut, menyadari sesuatu. "Apakah putri kehilangan ingatan?" tanyanya dengan cemas.
Mei Xiu terdiam, dia sedang berusaha mencerna apa yang dikatakan perempuan didepannya. Terakhir kali yang ia ingat adalah dia dengan segala kebodohannya melempar tubuhnya dari lantai tiga gedung apartemennya, namun mengapa ia bisa terbangun ditempat asing ini? Dengan panggilan Liu Wen?
"Hilang ingatan? Apa maksudmu? Aku baik-baik saja, dan aku mengingat namaku dengan jelas!" cerca Mei Xiu dengan tegas. Dia sedikit sebal dengan pernyataan perempuan muda itu.
Pelayan muda itu mengerutkan keningnya dalam. Dia merasa yakin, jika Liu Wen memang kehilangan ingatannya saat ini.
"Putri, mungkin anda sedikit mengalami kesulitan untuk mengingat."
Mei Xiu menggeleng keras, menampik kata-kata perempuan muda itu.
"Maksudku, kenapa aku bisa berada ditempat ini? Dan ... ," Mei Xiu melihat pakaiannya, "kenapa aku berpakaian seperti ini?" tanyanya lagi dengan kerutan tebal di dahinya, menelisik hanfu merah jambu yang sudah lusuh dan dipenuhi bercak darah yang dia kenakan.
Kedua mata perempuan itu membeliak mendengar pertanyaan kebingungan Mei Xiu. Sekarang dia memang benar, bahwa sang putri kehilangan ingatannya.
"Tentu saja putri berada di Qing. Saya Fei, pelayan putri. Apa putri tidak ingat sama sekali? Putri dituduh telah meracuni calon permaisuri." Perempuan itu menatap Mei Xiu heran sekaligus bingung.
Kedua mata Mei Xiu semakin membulat tatkala mendengar penjelasan singkat perempuan yang menyebut dirinya bernama Fei.
Apa yang baru saja dimaksud adalah dinasti Qing?
Apakah ini adalah lelucon?
Mei Xiu berubah panik.
"Apa maksudmu? Qing? Dinasti Qing?" tanya Mei Xiu dengan wajah memucat. "Jangan bercanda!"
Pelayan itu terlihat mengangguk tanpa ragu, yang kian membuat Mei Xiu menegang.
"Tahun berapa sekarang?" tanyanya dengan penuh perhatian. Dia berharap perempuan dihadapannya tidak memberikan jawaban seperti yang dia pikirkan.
Fei nampak ragu untuk menjawabnya. "Tahun 1890."
Mei Xiu terkejut. Ia memang bukan orang yang pintar, namun dia juga bukan orang bodoh yang tidak tahu tentang sejarah.
"Apa kaisar yang berkuasa saat ini adalah Guang Xu?" tanya Mei Xiu sekali lagi.
Perempuan dihadapannya mengangguk cepat. "Tentu saja, putri. Beliaulah yang memberikan hukuman untuk anda." Mei Xiu tertegun untuk beberapa lama.
Ia berusaha mencerna apa yang dikatakan pelayan muda didepannya. Pikirannya seakan sedang terhenti untuk saat ini.
"Jadi aku dituduh meracuni calon permaisuri?"
Lagi-lagi perempuan itu mengangguk sebagai jawaban.
"Dan putri akan dihukum mati tiga hari lagi." Raut wajah Fei terlihat menyesal.
Mei Xiu tentu saja semakin terkejut akan kenyataan itu. Otaknya mendadak macet, dia tak bisa mengingat apapun kenapa ia bisa berakhir di tempat ini. Ia kembali mengingat bahwa terakhir kali yang dia lakukan adalah dia melempar tubuhnya dari lantai tiga gedung apartemennya. Namun, ketika ia membuka mata, dia sudah menemukan dirinya terbangun ditubuh seorang perempuan bernama Liu Wen, dan yang lebih mengejutkan lagi ia berada pada masa dinasti Qing. Itu artinya dia terseret mundur 130 tahun.
Mei Xiu menggelengkan kepalanya, merasa hal ini sama sekali tidak masuk akal.
Fei menyipitkan matanya, kerutan-kerutan halus tergambar di dahinya, memandang Mei Xiu dengan aneh.
"Putri, anda baik-baik saja? Mungkinkah luka di kepala putri membuat ingatan putri bermasalah?" Fei kembali membuka suara ketika mendapati wajah Mei Xiu berubah memucat.
"Entahlah. Aku bingung ... ini ... sungguh tidak masuk akal," gumam Mei Xiu pelan. Dia lantas mengalihkan tatapannya sepenuhnya pada Fei. "Jadi, tiga hari lagi aku akan dihukum mati?" Suara Mei Xiu nyaris seperti sebuah cicitan pelan. Tak percaya sekaligus takut.
Anggukkan Fei membuatnya membeku. Belasan pertanyaan kembali bermunculan dalam benaknya, berputar-putar tanpa tahu kemana ujungnya.
"Ah! Putri, sepertinya saya harus segera pergi. Saya harus mengatakan tentang kondisi putri pada putri Bae Hao," jelas Fei seraya mulai bangun dari duduknya.
Mei Xiu sedikit kebingungan ketika Fei beranjak untuk pergi. Dia bahkan belum mengajukan pertanyaannya dengan benar. Dia masih harus bertanya lebih banyak pada Fei. Namun, Mei Xiu mengurungkan niatnya dan membiarkan Fei pergi meninggalkannya.
Sebelum Fei pergi, perempuan itu menyelipkan sebuah kertas kecil di tangannya secara diam-diam.
Dengan sedikit penasaran, Mei Xiu membuka lipatan kertas itu dan membaca apa yang tertulis disana.
Putri Bae Hao akan berusaha memohon pada kaisar supaya hukuman mati putri di batalkan.
Putri Bae Hao? Dia tidak tahu siapa pemilik nama itu, mungkin benar saja perempuan bernama putri Bae Hao itu sedang memohonkan keringanan hukuman untuk Liu Wen.
Setidaknya ia memiliki sedikit harapan karena isi surat kecil yang dia terima. Menghembuskan napas berat, Mei Xiu menyenderkan punggungnya pada dinding di belakangnya, menumpukan beban beratnya pada kedua pundaknya.
Dia benar-benar sendirian di tempat ini.
Pandangan perempuan itu menerawang. Ia kembali teringat akan peristiwa bodoh yang kini dia sesalkan. Namun, menyadari tiga hari lagi dia akan mati untuk kedua kalinya, tidakkah itu terdengar sangat lucu?
Jika benar dia akan mati tiga hari lagi. Entah dia harus bersyukur atau justru mengutuk. Setidaknya jika dia mati, ia tidak perlu lagi membuka matanya untuk kembali melihat dunia yang kejam. Sudah cukup untuk hari ini. Jika neraka adalah satu-satunya tempat yang pantas untuknya, setidaknya itu lebih baik. Dia tidak akan menemukan kepalsuan. Dia tidak akan menemukan orang-orang yang mengenakan topeng sok baik di hadapannya, padahal kenyataannya mereka adalah iblis yang bersembunyi dibalik topeng malaikat.
Jadi, dia hanya akan berdiam diri di tempat ini hingga kematian akan kembali menjemputnya. Kali ini, dia sudah benar-benar bersiap.
***REBIRTH***
"Yang Mulia, hamba mohon beri pengampunan untuk Liu Wen. Hamba yakin seseorang menjebaknya."
Guang Xu bergeming. Perhatiannya masih fokus pada lembaran dokumen di atas mejanya. Iris coklat gelapnya sesekali bergerak-gerak mengikuti setiap kata yang tertulis dalam lembaran-lembaran perkamen tersebut.
Perempuan itu mendongak, mendapati sang kaisar sama sekali tidak memperdulikannya. Tak menyerah, perempuan itu kembali melakukan kowtow, menekan dahinya ke lantai lebih dalam lagi.
"Hamba mohon Yang Mulia mempertimbangkan hukuman untuk Liu Wen. Yang Mulia tentunya mengenal dia dengan baik. Liu Wen tidak mungkin melakukan hal itu, Yang Mulia. MOHON KEMURAHAN HATI YANG MULIA!"
Guang Xu mulai terusik akan rentetan kalimat perempuan yang masih bersujud di hadapannya. Telinganya terasa panas karena mendengar kalimat yang hampir sama sejak dua jam yang lalu.
Guang Xu meletakkan kertas di tangannya dengan kasar dan memandang perempuan yang masih dalam posisinya itu dengan pandangan tajam.
"Aku berbaik hati padanya selama ini karena dia adalah sepupumu. Tapi, aku tidak bisa mengampuni kesalahannya yang telah meracuni calon permaisuriku!"
Perempuan itu perlahan mengangkat kepalanya sedikit, memandang kaisar yang duduk di balik mejanya dengan tenang lewat bulu matanya.
"Hamba percaya jika bukan Liu Wen yang meracuni putri Jing Mey, Yang Mulia," ujar perempuan itu masih dengan keyakinan yang sama.
Guang Xu terlihat mulai terbawa emosi mendengar kalimat pembelaan itu, pria berparas tampan dengan garis wajah tegas serta sorot mata tajam yang mengintimidasi itu bangun dari duduknya.
"Kau berani membela seorang pembunuh, putri Bae Hao!" berang kaisar dengan suara menggelegar.
Napas Guang Xu mulai memburu menahan emosi yang menumpuk dalam dadanya. Tatapan yang tadi menyorot tajam kini memerah berubah penuh dengan kilatan amarah.
"Hamba tidak berani Yang Mulia!" sahut putri Bae Hao dengan suara bergetar.
Perempuan itu masih bergeming pada posisinya, meski saat ini jantungnya tengah berpacu dalam ritme yang tak beraturan mendengar nada kemarahan sang kaisar.
"Hamba tidak bermaksud membelanya, Yang Mulia. Hamba hanya mengatakan kemungkinan yang tidak pernah Yang Mulia pikirkan sejauh ini," ujar putri Bae Hao dengan suara tenang.
Pandangan tak bersahabat dari kaisar sama sekali bukan masalah baginya.
"Jadi, kau mengatakan bahwa aku adalah orang bodoh yang tidak bisa melihat kemungkinan semacam itu?!" bentak kaisar naik pitam, merasa tersinggung atas kalimat perempuan didepannya.
"Hamba tidak berani, Yang Mulia!" Putri Bae Hao bergerak pelan bangkit dari posisinya, berdiri tegak menatap Guang Xu tanpa rasa gentar sedikitpun.
"Bukankah Yang Mulia mengenal Liu Wen dengan baik?" putri Bae Hao memberanikan diri untuk menatap sang kaisar. Ia tidak peduli jika kaisar akan menjatuhi hukuman padanya. Hal terpenting dari itu adalah dia harus bisa menyelamatkan Liu Wen dari hukuman mati.
Guang Xu tertegun ditempatnya mendengar pertanyaan tak terduga itu dari putri Bae Hao. Perempuan itu melayangkan pandangan yang begitu dalam dan tak kalah tajam. Namun, tidak meninggalkan kesan lembutnya. Guang Xu hendak membuka suara untuk menegur keberanian putri Bae Hao yang bertanya hal selancang itu padanya. Namun belum sempat ia berkata, putri Bae Hao kembali menyela.
"Hamba mengatakan ini bukan untuk membela Liu Wen. Hamba berharap Yang Mulia bisa menjadi kaisar yang bijak, sesuai dengan janji Anda beberapa tahun yang lalu dan hamba berharap Yang Mulia bisa menepati janji itu. Hamba memintanya bukan sebagai seorang putri dari kerajaan yang ditaklukan, melainkan sebagai seorang kakak yang ingin melindungi adiknya."
Putri Bae Hao membungkuk dalam sebelum berbalik pergi. Meninggalkan Guang Xu yang masih tertegun ditempatnya. Pria itu hanya memandang punggung putri Bae Hao dengan perasaan tak menentu hingga tubuh perempuan itu menghilang sepenuhnya di balik pintu.
***Empress of the Future***