Beijing, 2020
Untuk kesekian kalinya u*****n kasar meluncur bebas dari bibirnya. Langkah-langkah panjang yang menghentak seirama dengan degup jantungnya yang berpacu cepat. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, memastikan bahwa para pria bodoh dengan setelan jas hitam itu masih mengejarnya.
Benar saja, para pria bodoh itu masih gigih mengejarnya meski napasnya terengah-engah ditengah pelarian mereka.
"Sial! Apa mereka tidak akan menyerah?"
Mei Xiu semakin memacu langkahnya dengan cepat. Keringat mengucur deras membasahi sekujur tubuhnya. Rambut hitam panjangnya yang dibiarkan tergerai begitu saja, terombang-ambing ke segala arah, mengikuti setiap pergerakan tubuhnya. Namun, bukan itu yang ia pedulikan saat ini, dia hanya berpikir bagaimana caranya dia bisa melarikan diri dari pria-pria bodoh itu.
Mei Xiu membawa langkahnya pada belokan jalan didepannya. Jalan yang dia lalui sudah sangat sepi, bahkan beberapa lampu jalan terlihat meredup. Hingga ia merasa, hanya langkah kakinya dan tarikan napasnya yang memburu, menjadi satu-satunya suara penghantar dalam keheningan malam.
Mei Xiu menghentikan langkahnya sejenak untuk mengatur napasnya. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang seakan mengkerut karena pasokan oksigen yang menipis. Jantungnya semakin berdegup kencang ketika menangkap suara langkah yang begitu cepat di belakangnya. Bukan hanya sekedar langkah kaki, bahkan napas berat terdengar jelas di telinganya saat ini.
"Mau lari kemana kau?!"
Para pria bodoh yang mengejarnya sudah berdiri dibelakangnya. Sebuah seringai lebar menyambutnya tatkala ia membalikkan tubuhnya dan memandang tiga sosok pria dengan setelan jas hitam yang kini mulai berjalan mendekatinya.
Perempuan itu kembali menatap ke depan, sedetik kemudian, dia mengumpat dalam hati ketika mendapati dinding bata terbentang didepan matanya.
Jalan buntu.
Dia tertawa dalam hati, menertawakan kebodohannya yang justru mengambil langkah ke arah belokan yang salah. Ia menyalahkan otaknya yang berpikir lambat di saat genting seperti ini.
Mei Xiu mengedarkan pandangan ke sekitarnya, mencari sesuatu sebagai bentuk perlawanan diri. Matanya sedikit berbinar ketika menemukan sebuah pipa panjang teronggok di samping dinding bersama beberapa barang rongsokan lainnya. Mengingat hanya ini yang mungkin mampu menjadi satu-satunya alat untuk mempertahankan diri, Mei Xiu segera memungutnya dan mengacungkan pipa itu pada tiga pria yang kini tertawa senang karena buruan mereka tak bisa melarikan diri lagi.
"Kau pikir kami takut dengan senjata mainan mu itu?" Salah seorang pria berbadan tinggi besar tertawa terbahak yang kemudian diikuti oleh dua pria disampingnya.
"Aku tidak memiliki urusan dengan kalian, sebaiknya kalian pergi! Atau aku akan berteriak?!" seru Mei Xiu, marah. Matanya menatap tajam tiga pria yang masih berdiri lima langkah di depannya. "Kubilang pergi! Apa kalian tuli?! Aku akan berteriak jika kalian mendekat!" Ketiga pria itu tak merasa gentar sedikitpun akan ancaman Mei Xiu. Justru kekehan mengejek kembali menjadi jawaban atas kalimatnya.
"Jika kau memberi kami uang, baru kami akan pergi." Pria pertama yang berdiri paling depan, berjalan santai mendekati Mei Xiu.
Mei Xiu kembali mengayunkan pipa ditangannya ketika dua pria lainnya juga mendekatinya.
"Kenapa harus aku yang membayar hutang wanita sialan itu! Aku sudah tidak memiliki hubungan lagi dengannya!" raung Mei Xiu dengan kesal. Dia memasang kuda-kuda, bersiap untuk kembali mengayunkan pipa ditangannya ke arah pria-pria itu.
"Tidak bisa, nona. Dalam surat perjanjian hutang itu, dia menulis namamu sebagai orang yang akan membayar hutangnya," sahut pria kedua yang berbadan kurus seraya menunjukkan selembar kertas yang tersembunyi di balik jasnya.
Mei Xiu menggeram marah.
Kenapa harus dia yang membayar hutang Lin Wei jika wanita itu juga membawa kabur uang tabungannya? Dia benar-benar menyesal karena percaya pada wanita iblis itu.
"Jika nona tidak bisa membayar hutangnya. Nona harus ikut dengan kami."
Tiga pria itu semakin mendekatinya, Mei Xiu kembali mengayunkan pipanya ke segala arah. Namun, tiga pria itu dengan mudah mengelak dan merebut pipa tersebut dari tangan Mei Xiu.
"Tidak! Lepaskan aku, b******k! Lepaskan!"
Mei Xiu meronta, memaki, dan berusaha berontak dalam cengkeraman dua pria yang memegang kedua lengannya, sedangkan pria pertama berjalan didepan, memberi perintah pada kedua temannya untuk membawa Mei Xiu.
Teriakkan dan makian perempuan itu tidak cukup menghentikan ketiga pria tersebut. Rasanya percuma saja jika dia berteriak meminta tolong dalam gang gelap yang sepi ini. Bahkan hingga tenggorokannya terasa sakit, tidak akan ada yang datang untuk menolongnya.
Dia hanya berharap, ketiga pria ini mendadak sakit perut yang luar biasa kemudian meninggalkannya sendirian. Jadi, dia bisa melarikan diri sejauh mungkin. Atau paling tidak, ada seseorang yang mendengar teriakannya dan datang menolongnya.
Bodoh! Tentu saja, dua opsi itu adalah kemungkinan yang tidak akan pernah terjadi. Mengingat jarang sekali ada orang yang lewat dalam gang ini di tengah malam seperti ini.
Tiga pria itu hendak membawanya masuk ke dalam sebuah mobil hitam yang sudah terparkir rapi ditepi jalan sebelum suara berat menghentikan mereka.
"Lepaskan dia!"
Suara itu terdengar dingin dan menusuk, membuat tiga pria berjas hitam itu menoleh ke sumber suara, tak terkecuali Mei Xiu yang menghembuskan napas lega. Menyadari pertolongan datang padanya.
Matanya memicing menangkap sosok yang seolah muncul dari sudut gang yang gelap dan ketika pria itu telah sepenuhnya menampakkan diri, Mei Xiu bisa melihat sosoknya dengan jelas tengah menatap tajam pada tiga pria di dekatnya, atau ... padanya? Dia tidak yakin.
"Siapa kau?" tanya pria pertama yang berdiri didepannya. Dua pria yang mengapit lengannya pun terlihat waspada saat pria itu berjalan mendekati mereka.
"Aku hanya kebetulan lewat dan melihat perbuatan kalian," sahutnya dengan suara yang cukup tenang. Nyaris tak ada emosi yang tersirat di wajahnya.
"Jika tidak ada urusan dengan kami. Sebaiknya kau pergi dan biarkan kami membawa perempuan ini."
Kalimat itu tentu saja membuat Mei Xiu melotot tajam pada ketiga pria didekatnya. Ia kembali mengumpat dengan kesal.
Sementara pria asing itu menaikkan sebelah alisnya tinggi.
"Kenapa aku harus menuruti kalian?" Pria itu bertanya, masih dengan suara yang cukup tenang namun tajam.
"Dia harus membayar hutangnya pada kami," sahut salah satu mereka.
"b******k! Sudah kubilang pada kalian, aku tidak akan sudi membayar hutang wanita itu!" amuk Mei Xiu. Ia lagi-lagi mencoba untuk melepaskan diri, namun kedua pria itu semakin memegang kedua lengannya dengan erat. Yang hanya membuat perlawanannya sia-sia saja.
Tatapan pria misterius itu menjelajahi setiap jengkal wajah Mei Xiu, ada sesuatu yang tersirat didalam matanya ketika sepasang manik coklat gelapnya bertemu dengan manik terang Mei Xiu.
"Berapa hutangnya?" tanyanya setelah terdiam beberapa lama.
Mei Xiu menunjukkan perhatian sepenuhnya pada pria asing didepannya. Kedua alis perempuan itu saling tertaut.
"Apa kau akan membayar hutangnya?" tanya pria kedua dengan tatapan menilai.
Pria itu tersenyum miring, membuat wajah tampannya tampak sedikit menakutkan. Mei Xiu menangkap sesuatu yang aneh pada pria didepan sana. Dia tidak tahu, apakah yang kini datang padanya suatu pertolongan ataukah justru sesuatu yang jauh lebih buruk dari para rentenir ini.
"Jika aku bersedia, kalian harus melepaskan dia."
Mata Mei Xiu membulat, ia hampir tak percaya mendengar ucapan pria itu.
***REBIRTH***
"Wanita itu memang b******k! Dia sudah membawa kabur uang tabunganku selama satu tahun dan dia juga membuatku dikejar oleh para rentenir sialan itu!"
Rentetan u*****n dan makian itu meluncur dengan bebas dari bibirnya. Sedangkan seorang pria yang duduk di dekatnya, hanya mendengarkan dan sesekali menuangkan bir ke dalam gelas Mei Xiu.
"Kau sudah terlalu mabuk, nona," ujar pria itu seraya memperhatikan Mei Xiu dengan seksama. Dia berhenti menuangkan bir ke dalam gelas perempuan didepannya, membuat Mei Xiu merampas botol bir ditangan pria itu dengan kasar, kemudian menuangkan isinya ke dalam gelasnya yang telah kosong.
Pria asing itu tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya pelan, memperhatikan setiap gerakan Mei Xiu dengan penuh perhatian. Tatapannya terkesan dingin namun, jika di perhatikan jauh lebih dalam, pria itu memiliki tatapan yang mampu membuat perempuan manapun terperangkap dalam sepasang manik hitam gelapnya.
Mei Xiu berhenti menuangkan bir ke dalam gelasnya, kemudian matanya menyipit menatap pria berparas tampan di hadapannya.
Rambut coklatnya yang sedikit berantakan, serta ekspresi wajahnya yang terkesan sedikit kaku dan datar, sama sekali tidak bisa menyembunyikan pahatan sempurna di wajah tampannya. Sepasang alis tebal, iris coklat gelap yang menyorot tajam, garis wajah yang tegas, sepasang bibir tipis yang menggoda, serta tulang hidung yang tinggi. Secara keseluruhan, pria yang duduk dihadapannya ini sangat tampan. Bahkan mungkin kata sangat tidak cukup untuk mewakili ketampanan pria ini.
Mei Xiu dengan cepat menggelengkan kepalanya, menampik pikiran konyol tentang pria didepannya.
"Kau!" Mei Xiu mengacungkan jari telunjuknya, "siapa kau yang dengan lancang membayarkan hutangku?!" ketus Mei Xiu galak.
Bukannya berterima kasih karena ada orang yang membuatnya lolos dari para rentenir tadi, Mei Xiu justru memaki pria dihadapannya. Dia hanya tak suka jika berhutang budi pada seseorang. Mei Xiu tidak tahu apa yang diinginkan pria asing itu dengan menolongnya, namun Mei Xiu berharap, hidupnya tidak akan semakin rumit karena pria didepannya.
Pria itu terkekeh pelan. Tatapan tak bersahabat dari perempuan dihadapannya sama sekali tidak membuatnya terpengaruh.
"Aku hanya ingin menolong," ujar pria itu dengan tak acuh. Ia mengangkat gelasnya dan menenggak isinya.
Mei Xiu menggelengkan kepalanya berkali-kali, seolah tak mempercayai jawaban lugas pria itu. Dia meraih segelas bir didepannya dan menenggaknya hingga tandas, seolah-olah ia baru saja meminum segelas air putih.
"Tidak mungkin kau menolongku secara cuma-cuma, bukan?" Mei Xiu memukul pelan meja didepannya. "Katakan, apa yang kau harapkan dariku?!" tanyanya dengan pandangan sengit. Dia tidak akan percaya begitu saja, tidak ada yang gratis di dunia ini. Dan pria itu pasti memiliki maksud dibalik pertolongannya.
"Kau tak perlu membayarnya, kau hanya perlu menyerahkan dirimu." Kalimat tersirat itu membuat Mei Xiu tertawa.
Pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Mei Xiu, membuat perempuan itu mengernyit ketika pria itu menatapnya lekat tanpa berkedip.
"Atau ... ," pria itu menggantungkan kata-katanya sejenak, "kau bisa membayarnya dengan tubuhmu?" tanya pria itu dengan wajah datar, kemudian diakhiri dengan seringaian kecil.
Mendengar ucapan pria asing yang baru ditemuinya, kepala Mei Xiu mulai berasap. Tanpa berpikir dua kali, dia melayangkan tamparan ke wajah pria itu dengan keras, yang hanya ditanggapi dengan kekehan pelan.
Mei Xiu yang masih sadar sepenuhnya, cukup tahu apa yang pria itu katakan dan apa yang baru saja dia lakukan untuk menutup mulut pria yang sudah lancang terhadapnya. Perempuan itu berdiri dengan kasar dari duduknya hingga menimbulkan decitan nyaring kaki kursi yang bergesekan dengan lantai. Tatapannya menyorot tajam menatap pria yang masih setia memasang wajah datarnya.
"Kau pikir aku perempuan murahan yang akan menjual tubuhnya hanya demi uang?" desis Mei Xiu penuh penekanan.
Lagi-lagi pria itu terkekeh menyebalkan. Dia berdiri dari duduknya dan balik menatap Mei Xiu dengan pandangan yang meremehkan.
"Aku pastikan kau benar-benar akan membayarnya kelak, nona. Dan jika saat itu tiba, kau tidak akan bisa lari dariku," bisiknya. "Lagipula, kita sudah ditakdirkan." Pria itu menunjukkan seringaiannya.
Mei Xiu benar-benar tergelak mendengar kata-kata tak masuk akal yang keluar dari bibir pria didepannya.
Sinting!
Satu kata itu cukup untuk mewakili pria dihadapannya.
Tak ingin membuang waktu dan berlama-lama berhadapan dengan pria asing yang telah melukai harga dirinya. Mei Xiu akhirnya memilih pergi dari sana setelah meninggalkan beberapa lembar uang di meja. Dia tidak akan sudi memakai uang pria itu untuk membayar minumannya.
Dan dia berharap, kesialan hidupnya berhenti sampai disini.
***REBIRTH***
"Jadi, siapa yang kau pilih? Aku ataukah perempuan sialan ini?!" Mei Xiu tak memperdulikan belasan pasang mata dalam restoran tersebut yang kini tertuju padanya. Ah, tidak! Lebih tepatnya pada mereka bertiga. Mei Xiu sudah tak peduli lagi akan rasa malu, selama dia bisa memaki dan mencaci dua orang didepannya dengan puas hingga perasaan sesaknya lenyap, tak masalah. Mei Xiu dengan senang hati akan membuang rasa malunya sejauh mungkin.
Pria yang menjadi pelampiasan amarahnya hanya diam, sedangkan perempuan yang berdiri disamping pria tersebut menunjukkan senyum penuh kemenangan, seolah ia tengah menertawaan akan kekalahan Mei Xiu dan bertepuk tangan atas keahlihannya dalam merusak hubungan dua orang tersebut.
Mei Xiu mendecakkan lidahnya dengan kesal saat tak kunjung mendapat jawaban dari pria yang berdiri didepannya. "Pria sepertimu pasti lebih memilih perempuan seperti dia," cibir Mei Xiu sembari melirik sinis perempuan didepannya.
"Ya! Aku lebih memilih dia dibandingkan dirimu." Pria itu akhirnya berucap dengan tegas. Tatapan matanya yang dipenuhi kesungguhan, seakan menampar wajah Mei Xiu dengan keras.
Mei Xiu membeku sejenak ditempatnya, dia tak menyangka bahwa pria yang telah menempati posisi tertinggi dalam hatinya selama dua tahun terakhir ini, justru mengatakan kalimat yang begitu menyakitkan. Padahal, dia berharap bahwa pria itu akan berkata jika ia lebih memilih Mei Xiu dibandingkan perempuan tidak tahu malu yang telah menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka.
"Sudah jelas, bukan? Ju An lebih memilihku dibandingkan dirimu. Kita bahkan sudah berencana menikah, jadi kau tak perlu mengganggu kami lagi!"
Lagi-lagi kalimat menyakitkan itu menusuk hati Mei Xiu. Airmata yang dengan susah payah dia tahan, kini tumpah dari peraduannya. Kenyataan memang terkadang tidak berjalan sesuai dengan kehendak manusia. Padahal Ju An sudah berjanji padanya untuk tetap tinggal disisinya, mereka bahkan sudah merancang mimpi bersama. Namun, beberapa detik yang lalu, Ju An pula yang menghancurkan impian yang telah mereka bangun bersama.
"Dasar b******k!" Mei Xiu tertawa kecut. Dia benar-benar sudah dibodohi oleh wajah tampan yang ramah, padahal sebenarnya, ada iblis yang tengah bersembunyi di balik wajah tampan yang meneduhkan. Dan Mei Xiu adalah perempuan yang paling tidak beruntung karena berhasil jatuh dalam perangkapnya.
"Baik! Ambil saja dia untukmu! Aku tidak butuh pria berparas malaikat namun, dengan hati iblis sepertinya!" Mei Xiu mengusap airmatanya dengan kasar, menatap marah dua orang didepannya secara bergantian. "Kalian harus ingat hal ini! Aku benar-benar mengutuk kalian berdua!"
Kata-kata Mei Xiu membuat seorang pria yang sedari tadi duduk memperhatikan, tersenyum kecil. Ia seolah begitu menikmati adegan dramatis di hadapannya seraya menyesap kopinya dengan pelan.
"Lakukan apa yang kau mau padanya! Sudah sepantasnya barang bekas aku buang ke tempat sampah!" Mei Xiu menarik sudut bibirnya, tersenyum mengejek. Perempuan itu hendak menampar Mei Xiu namun segera dicegah oleh Ju An, karena saat ini banyak pasang mata yang sedang memperhatikan mereka.
Setelah puas memaki dua orang didepannya, Mei Xiu membawa langkahnya pergi keluar restoran, meninggalkan dua orang yang kini mendapat tatapan mencemooh dari para pengunjung restoran. Sedangkan seorang pria yang duduk memperhatikan sedari tadi, beranjak dari tempat duduknya meninggalkan restoran setelah ia puas menonton drama yang baru saja berlangsung didepan matanya. Saat kakinya berada di luar restoran, pria itu segera mengarahkan pandangannya ke arah halte, dimana Mei Xiu duduk disana seraya menumpahkan tangisnya.
Pria itu menarik sudut bibirnya. "Dasar perempuan bodoh!"
***REBIRTH***
Hidup atau mati.
Manakah dari kedua pilihan itu yang lebih baik?
Mungkin mati akan lebih mudah dan membuat segala macam penderitaannya berakhir. Sesederhana itukah?
Dia sudah tidak tahan lagi dengan kehidupannya. Dia sudah muak untuk mencoba bertahan ditengah luka menganga dalam rongga hatinya. Dan dia sudah muak dengan semua orang yang selalu memakai topeng sok baik dihadapannya. Padahal, di belakangnya. Mereka mengumpatnya, menyumpahinya untuk segera mati. Memakinya dengan kalimat kasar. Mereka hanya akan meninggalkannya setelah mengeruknya begitu dalam. Membuangnya seperti sampah.
Dunia dan seisinya benar-benar sebuah drama yang sangat sempurna untuk mereka mainkan di hadapannya.
Langkahnya kian mantap menaiki setiap undakan anak tangga hingga membawanya pada puncak anak tangga terakhir. Angin kencang seketika menyambutnya saat ia menjejakkan kakinya pada lantai marmer putih.
Dia tersenyum. Sebuah senyuman yang menyiratkan akan beribu kepedihan yang tersimpan rapi dalam jiwanya. Seakan tanpa beban sedikitpun, ia semakin mantap membawa kakinya menjejak ke undakan pembatas gedung.
Mei Xiu memandang selembar kertas di tangannya dengan tatapan kosong sebelum merobeknya menjadi kepingan-kepingan kecil, yang kemudian terbang terbawa oleh angin.
Mengabaikan angin nakal yang menampar lembut wajah pucatnya dan menerbangkan rambut hitam sepunggungnya, dia tetap bergeming, menatap angkuh kehidupan di depannya. Kepalanya sedikit melongok pada lautan manusia di bawah sana, yang jika Tuhan mengijinkan, mungkin sebentar lagi ia akan mendapatkan seluruh perhatian dari para manusia dibawahnya.
Menimang-nimang sesaat masa depan yang sudah terancang sempurna dalam benaknya. Sebuah seringaian tipis tersemat di wajah datarnya. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Seketika perasaan bersalah membuncah memenuhi dadanya ketika kembali mengingat apa yang akan ia putuskan setelah ini. Akal sehatnya menolak pemikiran sempitnya. Egonya jauh lebih berkuasa. Membawanya pada satu keyakinan yang mungkin kelak akan sangat ia sesali.
Namun sekali lagi, dia sudah lelah. Tidak ada sisa tenaga lagi untuknya tetap bertahan. Sepasang kakinya pun mulai goyah untuk kembali melangkah, menyusuri jalan hidup yang tidak semulus dia pikirkan. Sekarang, dia hanya ingin menutup matanya dan terbang bebas seperti burung di angkasa.
Perlahan kedua tangannya terentang, seringaiannya berubah menjadi senyuman miris. Dengan menumpuhkan seluruh beban di pundaknya, ia melempar tubuhnya untuk melayang ke udara.
Kali ini, ia tersenyum lebar menatap langit biru dengan lebih leluasa. Mei Xiu berharap dia bisa melakukannya lebih lama, namun keinginannya harus disimpan saat gravitasi menariknya begitu cepat. Membuat tubuhnya terhempas ke dataran keras dengan suara debuman yang mengerikan, disusul oleh jeritan orang-orang disekitarnya.
Untuk sesaat dia tidak merasakan apapun, namun sedetik kemudian rasa sakit yang luar biasa menyekiknya, membuat matanya berair. Kelopak matanya pun mulai terasa berat untuk tetap terbuka, hingga pada akhirnya, ia merasakan tubuhnya seringan kapas dan seiring pandangannya yang mulai menggelap.
Beginikah rasanya saat kau akan mati?
Apakah jika dia menutup matanya sekarang, semua rasa sakitnya akan pergi dan menghilang? Apakah setelah ini semua penderitaannya akan berakhir?
Seketika penyesalan menyusup dalam dirinya, namun semua sudah terlambat bukan? Dia tidak akan bisa memutar kembali waktu dan mengembalikan semuanya. Dia hanya harus menutup matanya sesuai yang dia inginkan sejak awal.
Hidup ataupun mati, tidak ada bedanya bagi Mei Xiu.
Sampai ia tidak merasakan apapun lagi dan kegelapan membuat kesadarannya terombang-ambing, kemudian menariknya jatuh begitu dalam.
Hingga ia tidak merasakan apapun, tidak mendengar apapun. Sebuah cahaya menyilaukan tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kelopak matanya. Memaksa kedua mata yang terpejam rapat itu untuk terbuka.
Kali ini ia merasakan rasa sakit yang berbeda di sekujur tubuhnya. Dan ketika dia sepenuhnya membuka mata. Irisnya melebar sempurna.
Satu pertanyaan yang pasti memenuhi benaknya.
Apakah dia sudah mati?
***Empress Of The Future***