Langit malam Bali berkilau dengan lampu-lampu kapal pesiar mewah, namun suasana hati Cassandra lebih gelap dari itu. Di tengah segala persiapan yang sedang berlangsung, dia tahu satu hal: malam ini akan menjadi titik balik. Entah semuanya berakhir, atau justru dimulai kembali.
Di atas atap gedung Adinegara, Cassandra mengamati layar tablet yang memantau gerakan pasukan Viktor Kamarov. Jari-jarinya mengetik cepat, menginstruksikan para pengikutnya yang tersebar di berbagai lokasi.
“Xander,” Cassandra berkata, suaranya tenang meskipun dalam hati ada ketegangan. “Saat aku pergi untuk menghadapi Viktor, kamu pastikan agar file pengarsipan pusat aman. Jangan biarkan siapapun mengakses data ayah.”
Xander mengangguk, meski wajahnya menunjukkan kekhawatiran. “Kau akan baik-baik saja, kan?”
“Aku tak punya pilihan selain melawan,” jawab Cassandra singkat, menyembunyikan keraguannya.
---
Di kapal pesiar, Viktor sudah menunggu di ruang pertemuan pribadi, dikelilingi oleh beberapa orang kepercayaannya. Meskipun Cassandra selalu menghindari konfrontasi langsung, Viktor tahu dia akan datang—itu sudah menjadi takdir mereka sejak lama. Laki-laki berotot dengan tato-tato besar di lengannya menatap dengan waspada.
"Dia datang," Viktor berkata, memeriksa jam tangannya. "Tapi dia tidak tahu seberapa besar perangkap yang sudah kita siapkan."
Salah satu anak buah Viktor, seorang wanita berbadan ramping bernama Eliza, tersenyum. "Dia bukan satu-satunya yang memiliki pasukan, Tuan."
Viktor mengangguk perlahan, lalu berdiri dan berjalan menuju jendela. "Cassandra Adinegara... anak perempuan Maya. Dia tak akan pernah tahu apa yang menantinya di balik bayangan."
---
Di sisi lain, Runi sedang menyelesaikan dekode terakhir. Dengan ketepatan seorang ahli, ia menyusup ke sistem komunikasi Viktor dan mendengarkan percakapan yang sedang berlangsung.
“Viktor berbicara dengan Eliza,” kata Runi. “Mereka bersiap menghadapi sesuatu.”
Cassandra menyipitkan mata, semakin yakin bahwa Viktor memiliki lebih dari sekadar rencana cadangan. "Setiap gerakan kita telah diprediksi. Tapi mereka tak tahu aku tak akan menyerah."
---
Setelah perjalanan panjang, Cassandra tiba di pelabuhan tempat kapal pesiar Viktor berada. Di tengah gelapnya malam, ia dan timnya mempersiapkan diri. Semua orang yang dibawa bersamanya adalah mereka yang sudah terlatih dalam segala hal—baik perang fisik maupun digital. Hex sudah mempersiapkan jalur komunikasi terenkripsi dan mematikan semua pengawasan eksternal di sekitar pelabuhan.
“Sudah siap?” tanya Xander, yang berjalan di samping Cassandra.
“Siap,” jawabnya. Dengan pandangan tajam, ia menatap ke kapal pesiar besar di depan mereka. "Ini harus selesai malam ini."
---
Kapal pesiar mewah itu menjadi medan perang tak terlihat. Cassandra dan pasukannya mulai bergerak masuk secara diam-diam, dengan peralatan canggih yang mengaburkan jejak mereka. Mereka menuju ke ruang utama, tempat Viktor dan anak buahnya berkumpul.
Namun, sebelum Cassandra sempat masuk, Eliza sudah menunggu di pintu dengan senyum menakutkan. "Terlalu lambat, Cassandra. Kami sudah menunggu."
Pertarungan sengit dimulai, senjata tersembunyi mulai digunakan, dan pertahanan tubuh yang luar biasa terpaksa diuji.
---
Cassandra menghindari serangan pertama, merespon dengan serangan balik cepat, mendorong Eliza ke sudut. Xander menembakkan beberapa peluru ke arah pintu, memblokir akses masuk. Pertempuran semakin intens. Pasukan Viktor yang sebelumnya tersembunyi mulai menyerbu.
Tapi Cassandra lebih cepat.
Dengan beberapa langkah gesit, dia menewaskan dua orang pengawal Viktor. "Mereka tak akan mengalah dengan mudah," Cassandra bergumam pada dirinya sendiri.
Xander, yang tengah menjaga posisi, memberikan peringatan. "Viktor muncul dari ruang sebelah!"
Tak lama kemudian, Viktor melangkah ke dalam ruang pertempuran. "Ah, Cassandra... akhirnya kita bertemu lagi," katanya, suaranya penuh kepuasan.
Cassandra melangkah maju, senjata di tangan, siap menghadapi lawannya.
---
Namun, Viktor hanya tersenyum. “Kau pikir kau menang hanya karena bisa menembus pasukanku? Masih ada lebih banyak rahasia yang akan aku ungkapkan, Cassandra.”
Tiba-tiba layar besar di ruang itu menyala, menampilkan rekaman lama. Rekaman saat ayahnya, Rafer Adinegara, berada di ruang bawah tanah sebelum kematiannya. Di sana, ayahnya berbicara dengan Viktor, menunjukkan dokumen yang hilang, yang bisa meruntuhkan seluruh kerajaan Adinegara yang selama ini Cassandra bangun.
“Lihatlah ini, Cassandra,” Viktor berkata sambil tertawa rendah. “Ini alasan kenapa semua ini terjadi. Ayahmu menjual jiwanya... Dan sekarang, kau harus menebusnya.”
Cassandra terdiam, terkejut. Air mata menyelinap tanpa dia sadari.