Semua suara lenyap dalam kepala Cassandra. Yang terdengar hanya gema dari rekaman di layar itu—suara ayahnya, Rafer Adinegara, yang selama ini ia kenang sebagai sosok pejuang kebenaran.
"Kita tidak punya pilihan, Viktor. Kalau aku tidak tandatangani perjanjian itu, mereka akan membunuh keluargaku. Maya… Cassandra… mereka dalam bahaya."
"Dan jika kau tandatanganinya," sahut Viktor dalam video, "kau menyerahkan seluruh kerajaanmu padaku."
"Asal keluargaku selamat. Itu cukup."
Layar padam. Sunyi.
Cassandra berdiri diam. Hatinya remuk, tapi tatapannya membatu. Tubuhnya kaku, namun jiwanya seperti terbakar.
"Ayahku bukan pengkhianat…" gumamnya lirih, seperti membantah dunia.
Viktor tersenyum puas. “Bukan pengkhianat, hanya pion yang terlalu lemah untuk bermain dalam perang ini. Dan sekarang, kau akan mengulang kesalahannya.”
Cassandra mengangkat pistol, suaranya dingin. “Aku bukan ayahku.”
---
Pertarungan pecah kembali. Kali ini, bukan hanya peluru yang melesat, tapi juga kebenaran yang menghancurkan kepercayaan.
Xander bertarung berdampingan dengan Cassandra, melindunginya dari serangan brutal Eliza yang kembali muncul. Di tempat lain, Kyra dan Hex berhasil membajak sistem komunikasi kapal dan mengunci semua pintu keluar—mereka takkan membiarkan siapa pun melarikan diri.
“Cass, Viktor punya akses ke sistem rudal di pelabuhan. Kalau dia kabur, dia bisa meledakkan gedung pusat kita,” kata Hex melalui alat komunikasi.
Cassandra mendengus, menendang salah satu penjaga Viktor hingga terjungkal. “Dia nggak akan keluar hidup-hidup dari kapal ini.”
---
Viktor mundur ke ruang kendali, mencoba memicu protokol peluncuran rudal jarak jauh. Tapi saat tangannya menekan tombol, layar berubah menjadi pesan merah:
ACCESS DENIED
User override: HEX
Dari balik layar, suara Hex muncul: “Coba lebih kreatif, Paman. Aku udah di sistem kamu sejak dua jam lalu.”
Viktor meraung marah.
Dan saat itulah Cassandra masuk.
Darah mengalir dari lengan kirinya yang tergores, rambut berantakan, tapi matanya menyala seperti api. Tanpa bicara, ia menyerang Viktor.
Pertarungan jarak dekat berlangsung brutal. Viktor lebih besar dan lebih kuat, tapi Cassandra lebih lincah dan memiliki satu hal yang tidak dimiliki Viktor: keyakinan.
Beberapa pukulan telak mendarat di wajah Viktor. Cassandra sempat jatuh, namun bangkit lagi. Dengan satu gerakan cepat, ia mengaktifkan pisau kecil di pergelangan tangannya—dan menancapkannya di sisi perut Viktor.
Pria itu terdiam. Terhuyung.
Cassandra mendekat, berbisik di telinganya. “Ayahku memang lemah, tapi aku... aku adalah badai.”
Viktor ambruk.
---
Beberapa menit kemudian, Xander dan Kyra masuk, mengamankan area. Hex telah menonaktifkan seluruh sistem pertahanan kapal. Eliza melarikan diri, tapi sinyalnya sudah ditandai.
Cassandra berdiri di geladak kapal, memandangi laut yang tenang. Luka di tubuhnya sakit, tapi luka di hatinya lebih parah.
“Cass,” suara Xander pelan. “Kalau kita buka semua file ini, dunia akan tahu ayahmu pernah tunduk pada organisasi kriminal. Apa kamu yakin mau tetap lanjut?”
Cassandra menatap langit. Lama.
“Ayahku mengorbankan dirinya demi aku. Tapi sekarang, aku bukan anak yang harus diselamatkan lagi. Aku… pemimpin.”
---
Beberapa hari kemudian, Adinegara Corp membuat pernyataan resmi: membuka arsip rahasia tentang masa lalu keluarga mereka. Reaksi publik terbelah—ada yang mencibir, ada yang menghormati kejujuran mereka.
Namun satu hal pasti: nama Cassandra Adinegara kini dikenal bukan sebagai pewaris bisnis semata, tapi sebagai wanita yang menolak tunduk pada bayangan masa lalu.
Dan di ruang rahasia di gedung pusat, Cassandra memasuki ruangan tersembunyi yang belum pernah ia sentuh selama ini.
Di sana… sebuah surat lama menunggunya.
Tertulis:
"Untuk putriku, Cassandra. Jika kau membaca ini, berarti kau telah melangkah ke medan perang yang kupilih untuk hindari. Maafkan aku. Tapi aku yakin… kau akan jadi lebih dari sekadar pewarisku. Kau akan jadi Ratu. Bukan Ratu dalam Bayangan. Tapi Ratu yang membawa cahaya."
Air mata mengalir.