Langkah-langkah Cassandra menggema di lorong bawah tanah yang tersembunyi di balik ruang arsip Adinegara Corp. Tak banyak yang tahu ruangan ini ada—bahkan sebagian besar karyawannya mengira area itu sudah tidak aktif sejak renovasi lima tahun lalu.
Di sana, ruangan besar dengan dinding baja dan lampu kuning redup telah diubah menjadi markas sementara. Komputer, layar pemantau, peta digital, serta deretan perlengkapan taktis mulai memenuhi ruangan. Cassandra berdiri di tengahnya, dikelilingi oleh orang-orang pilihan: Xander, Runi, Anastasya, dan dua orang baru yang ia rekrut diam-diam.
Yang pertama: Kyra, seorang mantan agen khusus luar negeri yang punya koneksi luas dalam dunia senjata dan pengintaian.
Yang kedua: Bram “Hex” Wirawan, seorang hacker underground legendaris yang dijuluki hantu digital karena kemampuannya menghilang dari semua sistem pengawasan dunia maya.
“Mulai hari ini, kita bukan cuma bertahan,” Cassandra membuka suara. “Kita serang lebih dulu.”
Xander menatapnya serius. “Siapa target utama?”
Cassandra menatap layar besar di hadapannya. Foto Leonardo muncul—dengan file rahasia di sampingnya.
“Leonardo. Dan jaringan Viktor Kamarov yang sudah menyusup ke perusahaan cabang kita di Swiss, Singapura, dan Dubai.”
---
Di sisi lain kota, Leonardo sedang mempersiapkan eksekusi rencana. Tapi ia tidak tahu bahwa Cassandra telah membalik papan permainan.
Hex berhasil menyusup ke jaringan pribadi Leonardo, memunculkan pesan tipuan dari Viktor yang membuatnya keliru mengarahkan pasukan ke lokasi palsu.
“Dia pergi ke tempat yang kita setting,” ujar Hex. “Kita punya waktu tiga jam sebelum dia sadar.”
Cassandra mengangguk. “Gunakan waktunya untuk mengambil kembali akses pusat pada Adinegara International. Aku ingin semua asetnya kita pegang sebelum tengah malam.”
“Dan Viktor?” tanya Runi.
Cassandra menarik napas. “Aku sendiri yang akan menghadapinya.”
---
Sementara itu, di sebuah kapal pesiar mewah di lepas pantai Bali, Viktor Kamarov menikmati anggur sambil menatap data di tabletnya. Tapi satu hal membuat alisnya menyempit: beberapa akun bank rahasianya dibekukan. Aksesnya ke dokumen penting—menghilang.
“Cassandra...” gumamnya. “Kau benar-benar anak Maya.”
Seorang wanita mendekat, berpakaian ketat dan membawa tablet. “Kita akan melakukan langkah selanjutnya, Tuan?”
Viktor menatap langit malam. “Hubungi Maya. Sudah waktunya ratu bayangan itu kembali ke tahtanya… sepenuhnya.”
---
Malam menjelang pagi. Cassandra berjalan sendirian di atap gedung Adinegara Corp. Kota di bawahnya masih menyala, tapi pikirannya berkecamuk.
Semua yang ia bangun, sedang dipertaruhkan.
Ia memikirkan Leonardo yang dulu mencintainya, kini menjadi musuh berdarah. Ia memikirkan ibunya yang mungkin tidak pernah mencintainya. Dan ayahnya—yang kematiannya ternyata tak sesederhana yang ia kira.
Tiba-tiba suara langkah mendekat. Xander.
“Kamu yakin kuat hadapi mereka semua?” tanyanya.
Cassandra menatap pria itu—pria yang diam-diam selalu ada, tak pernah meminta apa pun, hanya melindungi.
“Aku nggak tahu,” jawab Cassandra jujur. “Tapi aku tahu satu hal… Aku nggak akan lari lagi.”
Xander mengangguk pelan. “Kalau begitu, aku tetap di sisimu. Sampai akhir.”
Cassandra tersenyum kecil, untuk pertama kalinya malam itu.