Langit malam Jakarta terlihat muram. Hujan baru saja berhenti, menyisakan aroma tanah basah dan suara rintik-rintik air menetes dari atap-atap tinggi gedung pencakar langit. Di lantai 47 gedung Adinegara Corp, suasana mencekam masih menggantung.
Cassandra berdiri di depan jendela kaca, memandangi kerlip kota yang tak pernah tidur. Matanya tajam, tapi hatinya bergetar. Beberapa jam lalu, ia hampir kehilangan Xander. Dan kini, Maya Adinegara telah muncul kembali... bukan dengan senjata, melainkan dengan senyum dan tawaran berdamai.
“Kamu tahu, Cassie… semua ini bisa selesai kalau kamu menyerah,” suara Maya terdengar lembut, tapi menyimpan ancaman. Ia duduk di kursi tamu, menyilangkan kaki, anggun dan berbahaya.
Cassandra berbalik pelan. “Menyerah pada iblis yang membunuh ayahku dan mencoba membunuhku? Maaf, tawaranmu tidak masuk akal.”
Maya terkekeh, seolah-olah Cassandra hanya anak kecil keras kepala. “Ayahmu mati karena terlalu lemah. Dan kamu… semakin mirip dengannya.”
Kalimat itu menusuk. Tapi Cassandra menahan emosinya.
---
Di tempat lain, Anastasya dan Runi sedang menyusun ulang sistem keamanan. Setelah serangan digital dari Leonardo yang hampir melumpuhkan seluruh jaringan, mereka tak bisa lengah.
“Aku dapet sinyal gerakan dari luar negeri,” kata Runi sambil mengetik cepat. “Ada file terenkripsi masuk dari Swiss. Dari cabang perusahaan ayahmu yang lama.”
“Periksa siapa pengirimnya,” jawab Anastasya tenang.
Runi mengerutkan dahi. “Namanya... Viktor Kamarov.”
Anastasya sontak membeku.
“Siapa dia?” tanya Runi.
“Dia... paman tiriku. Kepala Divisi Eksternal organisasi lama Maya. Kalau dia ikut campur… artinya ibuku mulai memanggil monster-monster lamanya.”
---
Sementara itu, Leonardo berjalan menyusuri lorong rahasia di sebuah bangunan tua, menuju ruang konferensi bawah tanah. Di dalamnya, duduk empat orang pria dan wanita bersetelan mahal, wajah-wajah dari organisasi gelap internasional. Salah satunya, seorang pria bertato dengan mata abu-abu tajam—Viktor Kamarov.
Leonardo membuka dokumen. “Ini blueprint gedung Cassandra. Kita serang dari dalam. Aku punya orangku di sana.”
“Dan kalau dia menolak?” tanya Viktor dengan aksen berat.
Leonardo tersenyum miring. “Maka kita buka semua rahasia keluarga Adinegara ke publik. Termasuk yang selama ini Maya sembunyikan... tentang Cassandra dan ayahnya.”
---
Kembali ke Cassandra, pertemuannya dengan Maya berakhir tanpa kesepakatan. Tapi sebelum ibunya pergi, wanita itu berbisik:
“Kamu pikir ayahmu meninggal karena musuh? Tidak, Cassie. Dia meninggal... karena pilihanmu sendiri waktu itu.”
Cassandra membeku. “Apa maksudmu?”
Tapi Maya sudah melangkah pergi, meninggalkan teka-teki yang menyayat pikirannya.
---
Malam itu, Cassandra duduk di kursi kerja, menatap foto lama ayahnya. Ingatan masa kecil menghantamnya—saat ia tanpa sadar menekan tombol di ruang kerja ayahnya... tombol yang memicu alarm sistem bom internal. Sebuah kesalahan masa kecil yang ia kira tak berdampak... sampai hari ini.
Dan kini, dengan ancaman Leonardo, Viktor Kamarov, dan Maya yang terus menekan, Cassandra sadar:
Jika ia tidak menyerang lebih dulu, ia akan menjadi mangsa.