Langit malam Jakarta pekat tak berbintang. Di balik gedung tua yang tampak terbengkalai di ujung pelabuhan, Cassandra berdiri bersama tim kecilnya: Xander, Runi, dan Anastasya. Di dalam gedung itu—tersembunyi di bawah tanah—berada salah satu server cadangan Leonardo. Tempat dia akan meluncurkan serangan cyber berskala nasional.
“Semua siap?” tanya Cassandra pelan melalui alat komunikasi di telinganya.
“Senjata aktif, sinyal drone aman. Gue udah matiin CCTV di radius 3 km,” sahut Runi, yang memantau dari van tak jauh dari lokasi.
“Aku bawa alat ledak mini, satu set pemutus arus, dan... semangat balas dendam,” timpal Anastasya dingin.
“Baik. Mulai operasi.”
---
Mereka masuk melalui jalur air bawah tanah yang hanya diketahui segelintir orang. Dengan perlengkapan menyelam minimalis, Cassandra dan Xander berenang menyusuri lorong sempit yang pengap dan gelap. Detak jantung Cassandra berpacu cepat, tapi dia tetap fokus.
Setelah 15 menit berenang dan merangkak melalui terowongan logam berkarat, mereka sampai di ruang tersembunyi—pintu besi besar dengan sistem pengaman biometrik.
Anastasya menyusul tak lama kemudian.
“Biometrik ini cocok dengan wajah... Leonardo,” gumam Xander sambil menghubungkan perangkat pemalsu retina milik Runi.
“Gue butuh waktu 30 detik. Jangan gerak.”
Klik. Klik. Bunyi sensor menyalak.
“Wajah terdeteksi. Selamat datang, Tuan Leonardo.”
Pintu terbuka.
Dan mereka masuk ke dalam neraka.
---
Di dalamnya, markas itu bukan sekadar tempat penyimpanan server. Tapi pusat kendali dari rencana Leonardo. Monitor-monitor raksasa menampilkan sistem jaringan nasional—dari perbankan sampai kontrol listrik utama.
Dan di tengah ruangan, sebuah menara server dengan pendingin khusus. Menyala biru dingin.
“Ini dia. Shadow Crown,” bisik Cassandra.
Namun belum sempat mereka bergerak lebih jauh, suara tepuk tangan terdengar dari lantai atas.
Leonardo muncul dari balik balkon kaca, mengenakan setelan serba hitam dan wajah penuh kemenangan.
“Kau datang tepat waktu, Cassandra. Tapi kau pikir aku tidak tahu kalian menyusup?”
Dengan satu isyarat tangan, lusinan pria bersenjata muncul dari balik pilar dan pintu.
“Cepat berlindung!” seru Xander, menarik Cassandra ke balik dinding baja.
Tembakan pertama meletus.
---
Pertempuran pecah.
Xander dan Anastasya melawan habis-habisan. Cassandra mencari celah menuju pusat sistem. Runi, dari jarak jauh, memandu mereka sambil berusaha memutus koneksi ke sistem pusat Leonardo.
“Cass! Lo harus colokin alat ini ke port utama server. Itu bakal nyedot semua data buat bukti hukum, dan sekaligus matiin program serangannya,” seru Runi lewat mikrofon.
Cassandra berlari di bawah hujan peluru. Peluru nyaris mengenai bahunya, tapi Xander menahan dua musuh yang mendekat dari belakang.
Saat dia berhasil mencapai menara server, Cassandra melihatnya: Leonardo berdiri di depannya, menghalangi jalan.
“Aku bilang apa? Kau akan menghancurkan dirimu sendiri.”
“Kau salah,” balas Cassandra tajam. “Kau cuma mempercepat kejatuhanku—dan bangkitku.”
Leonardo menarik pistol dan menodongkannya ke arah kepala Cassandra.
Tapi suara tembakan lain lebih dulu terdengar—mengenai bahu Leonardo dari belakang.
Anastasya berdiri di ambang pintu dengan pistol berasap di tangannya.
“Aku sudah cukup lama diam.”
Leonardo terhuyung. Cassandra meninju wajahnya dan menjatuhkannya ke lantai, lalu mencolokkan alat pemutus sistem ke server.
Sistem padam.
---
Tapi justru saat itu, suara sirine keras menggema.
“Cass! Lo harus keluar sekarang juga! Sistem pendingin meledak! Akan ada ledakan besar dalam dua menit!” teriak Runi panik.
“Xander, ambil Leonardo hidup-hidup!” perintah Cassandra.
Mereka menyeret Leonardo dan berlari keluar secepat mungkin. Tapi saat hampir mencapai terowongan air, bagian atap runtuh dan menjebak Xander.
“Pergi! Aku tahan ini!” teriak Xander, menahan reruntuhan dengan tubuhnya.
“Tidak! Aku nggak akan ninggalin lo!” balas Cassandra, berusaha menariknya.
Tapi Xander mendorong mereka berdua masuk ke dalam air, lalu menekan tombol peledak kecil di tangannya—meruntuhkan pintu dan menjebak dirinya di dalam.
Ledakan besar terdengar.
Cassandra dan Anastasya keluar dari air dengan tubuh menggigil, membawa Leonardo yang tak sadarkan diri. Tapi… Xander tak muncul.
“Xander… tidak…” Cassandra berbisik.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, air mata menetes dari matanya.
---
Dua hari kemudian, berita tentang penangkapan Leonardo Dirgantara memenuhi media. Cassandra dinobatkan sebagai pahlawan digital oleh media internasional. Serangan terbesar terhadap infrastruktur Indonesia berhasil digagalkan.
Namun tidak ada sorakan kemenangan di dalam hati Cassandra.
Dia berdiri di tebing tempat jenazah Xander tak pernah ditemukan, hanya meninggalkan cincin logam miliknya yang ditemukan Runi di reruntuhan.
“Lo udah kayak keluarga buat gue,” ucap Cassandra pelan sambil memegang cincin itu. “Terima kasih karena lo udah percaya gue… bahkan saat gue sendiri ragu.”
Anastasya berdiri di sampingnya.
“Kita belum selesai. Maya masih ada di luar sana.”
Cassandra mengepalkan tangan.
“Dan kali ini, aku sendiri yang akan mengakhirinya"