Pagi itu, Cassandra Adinegara menatap jendela kaca kantornya yang menghadap gedung-gedung tinggi ibukota. Kemenangan atas Leonardo adalah kemenangan besar, tapi dia tahu itu belum akhir. Musuhnya belum menunjukkan kartu terakhir.
Suara langkah masuk membuatnya menoleh.
“Bu Cassandra, ada tamu. Seorang wanita... dia bilang namanya Anastasya.”
Cassandra mengerutkan dahi. Nama itu asing, tapi untuk alasan yang entah mengapa membuat dadanya bergetar.
“Suruh masuk.”
Pintu terbuka.
Dan di sanalah dia.
Seorang wanita muda, berusia sekitar 25 tahun. Rambut panjang hitam legam, wajah tenang tapi penuh ketegasan. Tatapan matanya… familiar. Terlalu familiar.
“Aku tidak datang untuk menjatuhkanmu,” ucap wanita itu pelan. “Tapi aku tahu siapa kamu sebenarnya.”
Cassandra menatapnya dalam diam.
“Aku… adikmu.”
Dunia Cassandra runtuh dalam satu detik.
---
“Apa maksudmu?”
“Aku putri dari Maya Adinegara. Tapi… bukan dari ayahmu. Aku anak dari hubungan gelap Maya dan salah satu pengusaha hitam dari Rusia.”
Cassandra terduduk. Tangannya mencengkeram sandaran kursi.
“Maya menyembunyikan aku di luar negeri sejak bayi. Aku dibesarkan di Moskow. Dan aku... bukan satu-satunya anak dari ayahku.”
“Apa maksudmu?”
“Leonardo. Dia saudara tiriku.”
Cassandra tercekat.
“Dia memanipulasimu sejak dulu, Cassandra. Itu semua rencana Maya. Mereka ingin kamu jatuh cinta pada Leonardo, lalu menyerahkan segalanya. Tapi kamu terlalu kuat. Kamu melawan. Sekarang… Leonardo kembali untuk menyelesaikan misi ibuku—dan misinya sendiri.”
---
Beberapa jam kemudian, Cassandra mengumpulkan tim kecilnya: Xander, Runi, dan sekarang, Anastasya.
“Kalau benar Leonardo dan Maya bekerja sama, kita tak bisa lagi main bersih,” kata Cassandra dingin.
“Gue setuju,” timpal Runi. “Gue dapet file baru. Leonardo mulai membangun pasukan di luar negeri. Ada transaksi senjata ilegal lewat perusahaan cangkang atas nama ‘LDR Group’—dan ada bukti dia sedang nyiapin serangan cyber besar-besaran ke sistem BUMN kita.”
Xander berdiri tegak. “Kita harus hentikan dia sebelum dia menyerang duluan.”
“Tidak,” potong Cassandra. “Kita biarkan dia menyerang. Tapi kita kendalikan dari dalam.”
---
Rencana itu mulai dijalankan. Runi menyusup ke sistem Leonardo, pura-pura sebagai peretas bayaran dari Ukraina. Dalam dua hari, dia mendapat akses parsial ke server Leonardo. Di sana, mereka menemukan proyek rahasia bernama “Shadow Crown.”
“Ini... proyek untuk menjatuhkan seluruh sistem pertahanan digital nasional kita,” jelas Runi. “Kalau ini berhasil, dia bisa matiin semua listrik, bandara, bank, bahkan sistem rumah sakit.”
Cassandra menggertakkan gigi.
“Dia bukan cuma balas dendam. Dia mau bikin negeri ini kacau.”
Dan Maya... ternyata lebih gila dari yang dia kira.
---
Malam harinya, Cassandra bertemu Anastasya di balkon penthouse.
“Kau yakin bukan bagian dari rencana mereka?” tanya Cassandra pelan.
Anastasya menatap jauh ke langit.
“Kalau aku ingin menjatuhkanmu, aku sudah bisa melakukannya sejak dulu. Aku tahu semua kelemahanmu. Tapi aku tidak memilih itu.”
“Mengapa?”
“Karena aku muak jadi bayangan. Selama ini aku dilatih untuk jadi pengganti kalau kamu mati. Tapi aku tidak ingin hidup seperti itu. Aku ingin memilih jalanku sendiri.”
Cassandra menghela napas.
“Kau tahu, sepanjang hidupku... aku pikir aku sendirian.”
“Kita berdua hidup dalam bayangan, Cass. Tapi sekarang... kita bisa jadi cahaya bagi satu sama lain.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Cassandra memeluk seseorang yang mengerti luka terdalamnya.
---
Keesokan paginya, Cassandra mendapat kabar dari Arvino—pengacaranya.
“Maya menghilang. Dia keluar dari Indonesia lewat jalur laut. Tapi… kabar buruknya, dia meninggalkan pesan.”
Arvino mengirimkan rekaman suara ke ponsel Cassandra.
> “Kau pikir ini tentang uang, Cass? Ini tentang darah. Aku akan bersihkan dunia dari anak-anak durhaka sepertimu. Dan saat semuanya runtuh, hanya aku yang akan berdiri di puncak.”
---
Dalam pertemuan rahasia di markas bawah tanah mereka, Cassandra menunjukkan peta digital.
“Ini lokasi server utama Leonardo. Di tebing luar negeri. Tapi dia juga punya satu cadangan... di Jakarta.”
Runi menimpali, “Dan menurut file internal, dia bakal aktifin serangan besar jam 3 dini hari lusa. Kita punya waktu kurang dari 48 jam.”
Xander berdiri. “Izinkan aku pimpin penyerbuan.”
“Tidak. Aku sendiri yang akan turun.”
Semua terdiam.
“Kali ini... aku akan menghadapi iblis yang kubesarkan dalam hatiku. Aku tidak akan lagi hanya jadi korban. Aku akan jadi algojo.”
---
Malam itu, Cassandra berdiri di depan cermin dengan mengenakan setelan hitam tempur.
Di balik bayangannya, Anastasya datang, juga mengenakan pakaian gelap.
“Kau yakin mau ikut?” tanya Cassandra.
“Kita dilahirkan dari racun yang sama, Cass. Saatnya kita ubah racun itu jadi senjata.”
Mereka menatap cermin bersama.
Dua wanita. Dua darah. Dua bayangan masa lalu.
Dan malam itu, mereka bukan lagi korban.
Mereka adalah Ratu dan Bayangannya.
Siap menjatuhkan kerajaan lama... dan membangun kekaisaran baru dari reruntuhan.