Langit Jakarta hari itu muram, seolah ikut mencium bau darah yang akan tertumpah. Cassandra baru saja selesai menghadiri pertemuan dengan pihak Komisi Anti Korupsi. Video yang dia rilis tiga hari lalu mengguncang sistem. Beberapa nama besar ditangkap. Termasuk ajudan pribadi Maya Adinegara.
Namun satu hal belum juga tersentuh—ibunya sendiri.
"Dia terlalu licin," gumam Cassandra, duduk di kursi belakang mobil dengan Xander menyetir.
"Dan dia belum menunjukkan semua kartunya," sahut Xander datar.
Baru saja Cassandra hendak menanggapi, ponselnya bergetar. Satu pesan baru dari nomor tak dikenal masuk:
> “Apa kabar, sayangku? Sudah siap menghadapi hantu masa lalu?”
—L
Cassandra membeku.
"L?" gumamnya.
“Siapa itu?” tanya Xander tajam, memelototi kaca spion.
Cassandra menatap layar ponsel dengan wajah kelam. "Leonardo."
---
Lelaki yang dulu menghancurkan segalanya.
Leonardo Dirgantara.
Cassandra bertemu dengannya saat masih kuliah di London. Ia pria Indonesia keturunan Spanyol, pewaris bisnis gelap lintas benua. Tampan, berwibawa, dan berbahaya. Cassandra sempat jatuh cinta padanya—bodohnya.
Sampai suatu malam, Cassandra memergokinya membunuh seseorang. Leonardo memintanya tutup mulut. Cassandra menolak. Sejak hari itu, hidupnya tak pernah sama. Leonardo menghilang, tapi sebelum itu, dia mengirim peringatan terakhir:
> “Aku akan kembali saat kamu merasa paling kuat. Dan aku akan pastikan kamu hancur oleh tanganmu sendiri.”
---
Dan hari itu tiba.
“Dia baru saja mendarat di Jakarta,” laporan Runi, yang langsung menyadap sistem bandara dan kamera pengawas.
"Dia datang pakai identitas palsu. Tapi gue kenal mukanya. Dia bawa dua orang pengawal dan satu hacker bayaran dari Rusia."
“Dia mau apa?” tanya Cassandra.
“Gue pikir dia nggak cuma ngincer lo. Tapi juga Maya.”
---
Beberapa jam kemudian, Cassandra mendapat undangan misterius.
Sebuah email terenkripsi masuk ke laptopnya. Isinya hanya satu kalimat:
> “Jika ingin menyelamatkan masa depanmu, datanglah ke gedung tua di Pelabuhan Sunda Kelapa, pukul 11 malam. Sendiri.”
Xander langsung bersikeras ikut, tapi Cassandra menggeleng.
“Kalau aku gak datang sendiri, dia gak bakal muncul.”
“Ini gila, Bu,” sahut Xander. “Kita gak tahu apa yang dia rencanakan.”
“Aku harus tahu, Xander. Karena dia bagian dari kenapa aku jadi begini.”
---
Malam itu, Cassandra datang ke pelabuhan dengan pakaian hitam dan sepatu bot. Angin laut menerpa wajahnya saat dia melangkah masuk ke dalam gudang tua yang nyaris ambruk.
Suara langkah sepatu terdengar di antara bayangan.
Dan muncullah Leonardo.
Masih sama seperti dulu—tinggi, gagah, dengan sorot mata tajam yang memabukkan. Tapi kali ini, ada sesuatu yang lebih gelap dalam dirinya.
"Sudah lama, Cass," ucapnya, tersenyum miring.
Cassandra tidak menjawab. Matanya penuh waspada.
"Aku dengar kamu jadi ratu sekarang. Menggulingkan kerajaan palsu keluargamu. Hebat."
"Apa maumu, Leo?"
Leonardo tertawa pendek. "Langsung ke pokok masalah, ya? Baiklah. Aku datang untuk menagih janjimu."
"Aku tak pernah berjanji apa pun padamu."
“Kau janji akan menghancurkan siapa pun yang mengkhianatimu. Dan sekarang, aku datang untuk memastikan... bahwa kamu menghancurkan dirimu sendiri.”
Tiba-tiba layar besar menyala di sisi ruangan. Sebuah video diputar—rekaman saat Cassandra menghancurkan file dan bukti palsu tiga tahun lalu, untuk menyelamatkan satu-satunya adik tirinya dari penjara.
“Kalau ini bocor ke media, semua kredibilitasmu runtuh,” ujar Leonardo pelan. “Kamu akan terlihat munafik. Penipu. Seperti ibumu.”
Cassandra menahan napas.
“Apa maumu?” ulangnya.
“Aku mau kamu menyerahkan saham mayoritas Adinegara Corp padaku. Dan lenyap dari publik. Kalau tidak, video ini menyebar ke seluruh dunia besok pagi.”
---
Cassandra kembali ke markasnya dalam diam.
Xander dan Runi langsung menyambut, tapi Cassandra hanya mengangkat tangan, meminta mereka menunggu.
Di ruangannya, ia menatap cermin besar di depannya.
"Apakah aku akan kalah oleh masa lalu?" bisiknya.
Lalu, tiba-tiba… sesuatu berkilat di benaknya.
Ia membuka ponsel dan menghubungi Runi.
“Cari tahu dari mana Leonardo dapat rekaman itu. Dan cari titik lemahnya.”
Runi mulai bekerja, dan satu jam kemudian dia menemukan jawabannya.
“Dia dapet itu dari hacker Rusia, tapi file aslinya... udah dimodifikasi.”
Cassandra mengernyit. “Dimodifikasi?”
“Yap. Itu bukan full rekaman. Ada bagian yang dipotong. Kalau diputar penuh, kamu justru terlihat sebagai penyelamat—bukan penipu.”
Cassandra tersenyum.
“Upload versi aslinya. Tapi buat kelihatan seperti kebocoran. Biarkan media memakannya.”
---
Esok paginya, Leonardo bangun dengan kabar buruk.
Media internasional memberitakan ‘bukti baru’ bahwa Cassandra justru menyelamatkan anak di bawah umur dari fitnah hukum tiga tahun lalu. Reputasinya melambung lebih tinggi. Video milik Leonardo tak bisa digunakan lagi. Skemanya gagal.
Cassandra duduk santai di ruang kerjanya, menatap layar yang memutar berita.
“Satu senjata darimu telah kupatahkan,” gumamnya.
Dan di sisi lain kota, Leonardo menatap layar ponselnya dengan mata gelap.
“Kau menang kali ini, Cass. Tapi kau belum tahu siapa aku sebenarnya.”