Dua hari setelah ledakan itu, Cassandra Adinegara kembali berdiri tegak. Rumahnya boleh habis dilalap api, tapi semangatnya tidak. Ia sekarang tinggal sementara di penthouse hotel milik salah satu investor asing yang loyal padanya.
Meski suasana tenang dari luar, di balik layar Cassandra tahu, ibunya tidak akan berhenti. Dia butuh orang-orang baru di sisinya. Orang-orang yang bukan dari lingkaran lama yang sudah banyak dikorupsi.
Dan dia sudah mendapat dua di antaranya.
---
“Namaku Xander.”
Pria tinggi dengan perawakan militer itu memperkenalkan diri tanpa basa-basi. Rambut cepak, rahang tegas, dan mata hitam tajam. Di pinggangnya tergantung pistol kecil, dan di pergelangan tangan kanan ada tato tengkorak kecil dengan bilah pedang menyilang.
“Latar belakang?”
“Mantan pasukan khusus. Saya keluar lima tahun lalu. Sejak itu jadi freelance bodyguard untuk klien VIP di Eropa dan Timur Tengah. Tapi saya pilih kerja buat Anda karena satu alasan: Anda wanita pertama yang tidak takut menghadapi kematian.”
Cassandra mengangguk, menatap pria itu penuh penilaian.
“Kau bukan hanya bodyguard, Xander. Kau jadi bayanganku. Kemana aku pergi, kau ikut. Kalau aku mati, kau harus sudah mati lebih dulu. Paham?”
“Siap, Bu Cassandra.”
Dan sejak hari itu, Cassandra tak pernah terlihat sendirian lagi. Di balik jas dan gaun mewahnya, selalu ada sosok Xander yang mengawasinya diam-diam, siap menerkam siapa pun yang mengancam.
---
Karakter baru kedua adalah seseorang yang tidak pernah dia bayangkan akan bekerja untuknya.
“Lo manggil gue Runi aja. Tapi di darknet, mereka kenal gue sebagai R3NT4N.”
Gadis itu tampil urakan. Rambutnya pirang pendek dengan highlight ungu di ujung, jaket oversized penuh patch, dan kuku panjang dihiasi logo ‘hacked’. Usianya sekitar dua puluhan, tapi otaknya… luar biasa.
Cassandra menemukannya lewat koneksi Arvino, setelah menyadari musuhnya sudah mulai menyusup ke sistem internal perusahaannya.
“Gue bisa buka CCTV pribadi lo, ngetrack HP siapa pun yang lo pengen, bahkan masuk ke brankas digitalnya ibukota. Tapi bayaran gue mahal. Lo sanggup?” tanya Runi sambil mengunyah permen karet.
Cassandra hanya tersenyum kecil dan menggeser satu koper penuh uang di meja kafe tempat mereka bertemu.
“Gue suka gaya lo, Boss Lady,” kata Runi, mata berkilat. “Deal.”
---
Dengan Xander sebagai penjaga tubuh dan Runi sebagai mata digital, Cassandra membentuk lingkaran baru: loyal, mematikan, dan tak terduga.
Misi pertama mereka: membobol sistem keuangan milik Maya Adinegara. Cassandra yakin, sang ibu punya rekening gelap yang menyimpan uang haram hasil korupsi dan konspirasi selama ini.
Dan memang benar.
“Kita dapet rekening Cayman, Swiss, dan satu rekening misterius atas nama samaran. Tapi yang paling gila, dia ngelindungin satu server pribadi dengan sistem yang bahkan NSA pun bakal mikir dua kali buat nge-crack,” ujar Runi sambil mengetik cepat.
“Bisa kamu buka?” tanya Cassandra.
Runi menyeringai. “Give me 48 hours. And triple Red Bull.”
---
Sementara itu, Cassandra mempersiapkan langkah berikutnya: mengajukan tuntutan hukum ke pengadilan internasional. Tapi saat dia akan menghadiri pertemuan penting dengan pengacara dari London, mobil limosin yang ditumpanginya diserang.
Xander segera bereaksi.
“Tiarap, Bu!” teriaknya saat peluru menghantam jendela tahan peluru mereka.
Xander keluar dari mobil dengan kecepatan luar biasa, melepaskan tembakan balik, sementara Cassandra dilindungi oleh bodi mobil yang sudah dimodifikasi. Dua mobil penyerang mundur, tapi tidak sebelum meninggalkan pesan di kaca depan.
“Ini belum akhir.”
“Kayaknya musuh lo makin panik, Boss,” komentar Runi saat Cassandra menceritakan kejadian itu. “Dan kalau dia udah mulai pakai cara barbar gini, artinya kita makin dekat ke rahasia yang dia sembunyiin.”
“Dan itu artinya... dia mulai takut.”
---
Beberapa jam kemudian, Runi berhasil membobol server terakhir milik Maya.
“Lo nggak akan percaya isi file ini,” ujar Runi sambil memutar video di layar besar ruang kerja Cassandra.
Dalam video itu, terlihat Maya duduk bersama dua orang pejabat militer dan satu orang investor asing.
"Cassandra tak bisa dibiarkan kembali. Jika dia berhasil, seluruh jaringan kita runtuh."
"Tenang. Aku sudah urus. Kita serang dari sisi hukum, sisi media, dan jika perlu... fisik."
"Dan Arvino?"
"Kalau dia tetap membelanya, dia ikut dikorbankan."
Cassandra mengepalkan tangan. Ia tak sadar air matanya menetes.
Bukan karena takut. Tapi karena kecewa. Maya—wanita yang melahirkannya—benar-benar telah menjual segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri.
“Upload ke media. Tanpa edit. Besok pagi.”
“Buset. Lo yakin?” tanya Runi.
“Biarkan dunia tahu siapa dia sebenarnya.”
---
Keesokan harinya, berita tentang "Skandal Adinegara" menjadi viral. Video itu menyebar ke mana-mana, bahkan sampai trending internasional.
Pemerintah mulai turun tangan. Beberapa pejabat yang ada dalam video ditahan untuk penyelidikan. Saham Adinegara Corp sempat jatuh, tapi kemudian meroket kembali setelah publik melihat Cassandra sebagai pejuang keadilan.
Namun bagi Cassandra, ini bukan soal saham.
Ini soal kehormatan.
Dan dia baru saja memenangkan ronde pertama.
---
Di akhir hari, Cassandra berdiri di rooftop gedung kantornya. Angin malam menerpa rambutnya. Xander berdiri tak jauh darinya, waspada. Runi duduk di pinggiran atap, memainkan ponselnya.
Arvino datang membawa dua gelas anggur.
“Untuk kemenangan pertama,” katanya.
Cassandra menatap gelas itu, lalu menerimanya.
“Tapi perang ini belum selesai,” ucapnya lirih.
“Dan aku akan tetap di pihakmu sampai selesai.”
Untuk pertama kalinya, Cassandra mengangguk dengan senyum kecil.
“Mari kita hancurkan mereka. Dengan cara kita.”
Dan di kegelapan malam, tiga sosok—wanita kuat, penjaga setia, dan mata digital dunia bawah—bersatu dalam sebuah misi: menjatuhkan sistem korup, dan membuktikan bahwa ratu sejati tidak lahir... tapi ditempa oleh pengkhianatan.